
Aku tak menjawab ucapan dari Leonard barusan, aku yakin pasti tanpa aku jawab sekalipun Leo sudah pasti tahu mengenai hal itu. Sedangkan pandanganku masih terus fokus pada Velia yang masih terdiam.
"Vel, kenapa kamu malah diam aja?" Tanyaku heran melihat Velia malah terus diam saja sambil menunduk, wajahnya juga seperti sedang di sembunyikan dariku dan Leonard.
"Vel!!" Panggilku sambil mengguncangkan tubuhnya.
Tiba-tiba,,,
Brukk,,,,
Sontak saja aku dan Leonard terkejut saat melihat Velia yang tiba-tiba terhuyung ke belakang. Dirinya pingsan, untung saja Leonard langsung sigap dan menangkapnya. Awalnya aku dan Leonard berpikir kalau Velia itu hanya pura-pura saja, jadi aku tidak terlalu khawatir.
"Vel, bangun! Jangan bercanda deh! Velia!" Aku dan Leonard mencoba mengguncang tubuh Velia, namun tak ada respon dari Velia, dia benar-benar pingsan. Di kelas itu juga ternyata belum ada yang datang, jadi Leonard langsung saja aku suruh untuk mengantar Velia ke ruang rawat mahasiswi yang ada di kampus. Sebenarnya aku ingin menemaninya, tapi aku teringat kalau aku tidak bisa meninggalkan presentasi. Bisa sia-sia semua kerja keras kita bertiga tadi malam kalau sampai aku tidak bisa mempresentasikan semuanya di depan kelas.
Selang beberapa saat kemudian benar saja, dosen dan juga mahasiswa dan mahasiswi yang memang satu kelas denganku itu memasuki kelas. Aku sendiri awalnya gugup karena aku khawatir juga dengan kondisi Velia saat ini. Tentu saja, itu karena ini baru pertama kalinya Velia mengalami pinsan seperti ini, ini membuatku takut kalian tahu. Selama aku kenal dengan Velia aku juga tidak pernah tahu kalau dia tiba-tiba pingsan seperti ini. Semua ini membuatku bingung kalian tahu?.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi Leonard, dirinya yang menggendong Velia tadi langsung membawa ke sebuah ruang rawat yang di sediakan oleh kampus. Di sana terdapat 1 perawat yang di tugaskan secara bergantian di ruang rawat itu. Mengingat memang di kampus itu juga terdapat fakultas kedokteran yang mewajibkan satu orang setiap hatinya untuk piket atau berjaga di ruang rawat itu.
__ADS_1
Ya, Leonard datang ke sana dengan wajah khawatirnya dengan menggendong Velia dan meletakkan Velia ke salah satu kasur yang ada di sana. Hal itu membuat perawat yang bertugas langsung mengecek kondisi Velia. Namun sebelum itu ,karena perawat ingin memeriksa detak jantungnya dan membuka beberapa kancing baju milik Velia. Perawat itu menyuruh Leonard untuk menunggu di luar ruang rawat. Hm, sudah seperti rumah sakit saja.
Perawat itu pun langsung mengecek kondisi Velia. Sedangkan Leonard tampak gelisah, dirinya takut kalau sampai terjadi sesuatu sama Velia.
"Kamu sakit apa sih Vel? Perasaan kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya! Semoga kamu baik-baik saja!" Ucap Leonard lirih sembari menatap ke arah depan dengan mata kosongnya. Dirinya sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
Cukup lama Velia di dalam sana, dan mengharuskan Leonard untuk tetap stay di depan ruangan itu untuk menunggu perawat keluar dan memberi tahunya mengenai kondisi Velia.
Bahkan Leonard tak dapat berpikir jernih, dia juga lupa akan tugas presentasinya di kelas. Leonard terlalu panik tadi, jadi pikirannya yang berkecamuk dan khawatir malah melupakan segalanya.
Beberapa saat kemudian, tanpa melihat waktunya, perawat yang merawat Velia di dalam tadi pun keluar. Hal itu langsung membuat Leonard langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri perawat itu, "Bagaimana kondisi teman ku?" Tanya Leonard dengan nada khawatirnya.
Tanpa basa basi lagi, Leonard langsung menerobos masuk ke dalam sana untuk melihat kondisi Velia. Dan benar saja, saat Leonard membuka tirai yang di gunakan untuk menyekat masing-masing kasur itu pun langsung membuatnya bingung. Pasalnya Velia kini tengah duduk dengan santainya di atas kasurnya.
"Loh, kamu udah siuman? Kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang sakit?!" Ucap Leonard yang langsung mencerca berbagai pertanyaan pada Velia. Hal itu membuat Velia jengah mendengarnya, namun Velia bersikap biasa saja dan tak mau ambil pusing.
"Ya aku memang sudah baik-baik saja! Memangnya kenapa? Lagian aku udah sadar! Udah jangan lebay deh!" Jawab Velia dengan santainya. Dia tidak tahu saja kalau Alana dan juga Leonard itu kalang kabut melihat sahabatnya yang tiba-tiba saja pingsan itu.
"Ya kan siapa tahu kamu masih sakit!" Jawab Leonard dengan santainya sembari bergumam lirih, namun hal itu ternyata masih dapat di dengar oleh Velia yang membuatnya langsung mendengus dengan kesal.
__ADS_1
"Huftt!! Jadi kamu doain aku supaya aku sakit gitu?!" Kata Velia dengan kesal menatap ke arah Leonard.
Leonard yang mendengar itu langsung mengerjap-erjapkan matanya, bagaimana Velia bisa berasumsi seperti itu? Padahal Leonard hanya bertanya baik-baik pada Velia, "Ya maksud aku bukan gitu sih Vel!" Kata Leonard sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, karena dia merasa tak bersalah namun tenyata mungkin menutut dari Leonard, Velia hanya sedang tidak mood saja, jadi dirinya marah-marah tak jelas pada Leonard.
Namun Leonard tak mau ambil pusing dengan perubahan mood Velia yang tiba-tiba itu, karena bagi Leonard itu sudah biasa terjadi pada Velia.
"Bodo amat lah! Terserah kamu aja mau bicara apa! Di mana Alana?!" Kesal Velia pada Leonard namun tak menatap Leonard yang ada di hadapannya saat ini. Sebelum Leonard menjawab pertanyaan dari Velia tadi, sedetik kemudian mereka saling menatap dan membulatkan matanya. Mengingat akan Alana.
"Alana?!" Ujar mereka bersamaan. Ya, mereka ingat kalau Alana pasti tengah berada di kelas untuk presentasi. Mereka yang seharusnya menemani Alana di kelas tapi malah berada di sana.
"Haish, kenapa kamu bisa lupa sih! Dasar ya! Harusnya tuh ngingetin aku dong!" Kata Velia kesal sambil meninju pundak Leonard pelan, namun sedetik kemudian dirinya langsung beranjak dari kasurnya.
"Lah kamu mau ke mana? Kamu udah baikan?" Tanya Leonard sambil memegang pundaknya yang sempat di pukul sama Velia tadi.
Velia yang sudah berada di ambang pintu pun menoleh ke arah Leonard dengan tatapan tajamnya, "Kamu ini gimana sih! Aku itu baik-baik aja! Yang penting sekarang kita harus balik ke kelas buat temenin Alana presentasi!" Setelah mengatakan itu Velia langsung saja beranjak dari ambang pintu dan meninggalkan Leonard yang masih terbengong untuk mencerna ucapan dari Velia tadi.
"Salah aku apa sih? Kan dia yang pingsan! Bukannya terima kasih malah ninggalin gitu aja! Marah-marah lagi!" Gerutu Leonard, Tapi sedetik kemudian dia tersadar, "Lah kenapa aku malah di tinggalin di sini sih? Eh, Vel tungguin!!!" Ucap Leonard lalu setelahnya langsung berlari menyusul Velia yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan Leonard di ruang rawat itu.
Mereka berdua lalu menuju ke kelas mereka dengan langkah tergesa. Namun sesampainya mereka di kelas, mereka berdua terkejut dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1