Menikah Dengan Tunangan Sahabatku

Menikah Dengan Tunangan Sahabatku
Apa yang harus di lakukan??


__ADS_3

Mendengar ucapan Alana yang menengahi mereka, kedua pria itu langsung menatap ke arah Velia. Tentunya Leonard yang langsung cekatan dan membawa Velia ke luar dari bar. Leonard akan membawanya ke rumah sakit. Alana juga langsung mengikutinya di belakang.


Sedangkan Robert masih di posisinya sembari mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Entah mengapa dia malah khawatir akan Alana yang sangat mengkhawatirkan Velia saat itu. Bahkan Robert sendiri tak peduli dengan apa yang terjadi pada Velia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku dan Leonard terpaksa harus memaksa masuk ke dalam ruang VVIP itu, aku takut kalau Robert akan melecehkan Velia. Mengingat itu adalah ruang dengan sebuah kamar pribadi di dalamnya. Aku menyuruh Leonard untuk mendobrak pintunya sedangkan diriku sendiri mengawasi sekitar. Aku takut kalau para teman-teman Robert melihat itu mereka akan memukuli Leonard karena sudah mengganggu Robert.


Saat pintu terbuka, benar saja. Aku melihat Mereka berdua berada di atas ranjang dengan Velia yang tak sadarkan diri. Sontak aku berlari menghampirinya dan mencoba membangunkan Velia. Aku sangat khawatir dengannya. Aku juga melihat Leonard yang memukuli Robert karena dia merasa marah.


Namun aku segera memisahkan mereka berdua karena kondisi Velia yang tengah tak sadarkan diri itu.


Leonard langsung mengendong Velia dalam dekapannya, lalu kemudian membawanya ke mobil untuk menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Velia langsung di tangani oleh dokter yang bertugas. Aku bisa melihat raut kecemasan Leonard di depan ruang IGD. Meskipun aku sendiri khawatir akan kondisi Velia, namun Leonard yang memang memiliki rasa pada Velia merasakan kekhawatiran yang melebihi aku. Bahkan dia malah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Velia.


"Ini semua salah aku! Coba saja kalau tadi aku langsung mendekat dan membawa Velia pergi! Velia nggak mungkin kayak gini!!" Katanya dengan duduk lemas dengan bersandar dinding. Aku langsung mendekat dan menenangkannya.


"Sudahlah, jangan salahkan diri kamu sendiri! Mungkin ini sudah jalannya, kamu juga nggak salah!" Kataku menenangkan Leonard.


Wajah Leonard memerah menahan amarah, kilatan kemarahan muncul di matanya ,"Aku akan menghabisi Robert!!! Dia yang sudah menbuat Velia seperti ini!!" Ucap Leonard sembari beranjak dari posisinya. Aku sendiri langsung menahan tangannya supaya dia tidak pergi dari sana.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain? Memangnya kalau kamu temui dia sekarang kamu akan membuat Velia langsung sadar? Nggak!! Lebih baik kamu di sini menunggu Velia sadar! Apa kamu lupa kalau Velia itu memiliku rasa pada Robert? Nanti yang ada kamu malah di benci sama Velia, sama seperti kemarin saat kamu memukul Robert!!" Kataku untuk menasehatinya.


Tangan Robert yang semula terkepal karena amarahnya tadi, kini perlahan melemas karena ucapanku barusan. Leonard duduk di kursi dan aku mengikutinya dengan duduk di sampingnya.


"Semoga tidak terjadi hal yang buruk menimpa Velia!" Ujar Leonard sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tenanglah, Velia pasti akan baik-baik saja!" Lanjutku.


Tak berapa lama kemudian dokter yang tadi memeriksa kondisi Velia pun keluar dari ruang perawatan. Aku dan Leonard langsung menghampirinya untuk menanyakan kondisi Velia.


"Bagaimana kondisi teman saya dok?" Tanya Leonard sembari mendekat ke arah dokter, tentunya aku mengikutinya.


"Mohon maaf apa keluarga pasien ada? Saya harus menemui keluarga pasien untuk membicarakan hal ini!!" Kata Dokter itu seakan ini adalah hal yang sangat serius dan tentunya privasi.


Dokter menghela nafasnya dan mengangguki ucapanku tadi, "Baiklah, ikuti saya ke ruangan!" Kata dokter sembari mengajakku untuk ke sana. Sedangkan Leonard juga ikut bersama denganku.


Kami berdua duduk di hadapan dokter yang akan menjelaskan semua tentang kondisi Velia pada kami. Aku nggak tahu apakah ada hal yang sangat penting sampai dokter harus membicarakan ini hanya pada keluarga Velia saja.


"Jadi begini, jantung nona Velia terpompa sangat cepat tadi akibat menahan obat yang seharusnya tidak dia minum, mungkin obat itu bisa membuat nona Velia kehilangan nyawanya, mengingat jantung nona Velia yang kini sudah mengalami pembengkakan!" Kata dokter yang membuat aku dan Leonard langsung tersentak kaget.


"Apa dok? Maksudnya gimana? Jantung?" Tanya Leonard yang masih bingung dengan apa yang di katakan oleh dokter tadi.

__ADS_1


"Iya tuan, nona Velia memiliki riwayat penyakit jantung, noma Velia juga sering datang ke rumah sakit ini untuk menebus obat miliknya!" Kata Dokter tapi setelahnya dia berucap lagi, "Memangnya nona Velia tidak pernah bercerita tentang hal ini pada kalian?!" Tanya dokter itu.


Aku dan Leonard saling bertatapan karena memang Velia tak pernah mengatakan apapun, apalagi kalau dia sedang akit parah seperti ini. Aku dan Leonard pun mendengarkan saran dari dokter dan juga penjelasan yang tadi sempat tertunda. Dokter juga sudah melakukan tindakan untuk membuat Velia bisa bertahan.


Kini aku duduk di sofa, tepatnya di ruang perawatan Velia. Ya, 1 jam yang lalu Velia sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Aku masih tidak menyangka kalau Velia ternyata juga sama, dia telah berbohong. Dia diam-diam menyembunyikan penyakitnya , lalu bagaimana aku harus menyikapi ini?


Kedua sahabatku sama-sama pernah menyembunyikan sebuah rahasia, padahal aku sendiri tidak pernah menyembunyikan apapun dari mereka. Apa yang harus aku lakukan.


Aku duduk termenung menunggu Velia sadar. Mungkin nanti setelah dia sadar aku akan berpamitan padanya untuk pulang, dan akan memikirkan apa yang harus aku lakukan.


Aku melihat Leonard terdiam duduk di samping ranjang perawatan Velia. Mungkin dia juga syok saat tahu kalau Velia memiliki penyakit yang tidak pernah kami duga sebelumnya.


Kedua orang tuaku juga sempat datang untuk menjenguk, karena mereka juga sudah menganggap Velia sebagai anaknya sendiri. Mereka juga kasihan karena Velia tidak memiliki keluarga sama sekali. Saat mereka datang aku langsung memeluk mereka dan memberi tahu kondisi Velia. Mereka berdua langsung pulang, dan membiarkan aku menunggu Velia sampai sadar.


Hingga pagi hari tiba, Velia juga tak kunjung sadar. Beruntung hari ini kami bertiga libur kuliah. Jadi tidak perlu meminta ijin pada dokter. Aku memutuskan untuk keluar membeli makanan untuk aku dan Leonard tentunya.


"Leon, makanlah! Aku sudah membelikan sarapan untukmu!" Kataku menyuruh Leonard untuk makan sarapan yang sudah aku belikan. Beruntung juga Leonard juga langsung makan tanpa mengatakan apapun.


Setelah selesai makan aku berusaha membuka suara, "Bagaimana? Aku sama sekali nggak tahu, kenapa Velia menyembunyikan semua ini?" Tanya Leonard tiba-tiba yang membuatku mengurungkan niat untuk membuka suara terlebih dahulu.


Aku menghela nafasku, "Aku sendiri juga tidak tahu, tapi yang pasti mungkin aku akan menanyakan rahasia kalian masing-masing!! Aku masih nggak tahu kalau ternyata aku sendiri yang selama ini tidak pernah menyembunyikan rahasia di antara kalian!!" Kataku sambil menatap kosong ke arah lantai.

__ADS_1


Author mau minta maaf yang sebesar besarnya karena udah hiatus beberapa hari, jujur lagi banyak banget kesibukan jadi sesempatnya aja buat up. tapi kalian tenang aja, author akan tetap up kok walaupun nggak bisa pastiin kapannya.


__ADS_2