
"Salah aku apa sih? Kan dia yang pingsan! Bukannya terima kasih malah ninggalin gitu aja! Marah-marah lagi!" Gerutu Leonard, Tapi sedetik kemudian dia tersadar, "Lah kenapa aku malah di tinggalin di sini sih? Eh, Vel tungguin!!!" Ucap Leonard lalu setelahnya langsung berlari menyusul Velia yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan Leonard di ruang rawat itu.
Mereka berdua lalu menuju ke kelas mereka dengan langkah tergesa. Namun sesampainya mereka di kelas, mereka berdua terkejut dengan apa yang mereka lihat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Loh, mereka ada di mana? Kok kelas sepi sih?!" Tanya Velia bingung menatap kelas yang telah sepi. Sama halnya dengan Leonard yang terbengong melihat suasana kelas yang sudah sepi. Lalu kemudian Leonard melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 10.00. itu berarti tandanya kelas mereka memang benar telah selesai. Mengingat hanya ada 2 jam saja untuk presentasi hari ini.
"Astaga! Jelas aja kelas kosong! Orang ini udah jam 10, Vel!" Kata Leonard yang terkejut melihat jam di tangannya itu. Akan tetapi setelah itu mereka bingung dengan Alana yang tak ada di kelas, keduanya berpikir tentang di mana Alana berada.
"Terus Alana kemana dong?" Tanya Velia bingung dengan keberadaan Alana.
Leonard mengedikkan bahunya tanda bahwa dia tidak tahu akan keberadaan Alana di mana. Velia lalu menatap ke arah Leonard dengan kesal, "Kamu ini gimana sih! Kenapa bisa nggak tahu? Apa yang kamu tahu sih sebenarnya! Semuanya aja nggak tahu!!" Kesal Velia pada Leonard.
Leonard langsung mengerjap-ngerjapkan matanya ketika di tatap tajam oleh Velia saat itu. Dirinya tidak tahu akan kesalahan apa yang dia lakukan, sehingga bisa membuat Velia sampai kesal pada dirinya.
"Kamu kenapa sih Vel? Dari tadi marah-marah mulu ke aku, lagi PMS?" Tanya Leonard dengan polosnya membuat Velia bertambah kesal di buatnya.
__ADS_1
Velia menghentakkan kakinya karena kesal, "Bodo amat!!" Kata Velia lalu kemudian beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Leonard lagi di sana sendiri. Tapi setelahnya Leonard langsung menyusul langkahnya untuk menyusul Velia yang entah mau ke mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku akhirnya menyelesaikan presentasi ini dengan baik, bahkan aku tak menyangka kalau aku bisa melakukannya sebaik ini. Ya, meskipun aku hanya sendiri, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin. Dan lagi aku juga teringat akan Velia yang saat itu pingsan entah karena apa. Aku ingin segera keluar dari kelas ini dan menjenguk Velia, untuk memastikan kalau Velia baik-baik saja dan tak membuatku khawatir akan apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah presentasi berakhir, aku menunggu Leonard kembali ke kelas. Namun ternyata Leonard bahkan tak kembali. Pikiranku malah berkecamuk, memikirkan apakah kondisi Velia benar-benar parah sampai Leonard tidak kembali ke kelas. Padahal aku ingin menanyakan mengenai kondisi Velia.
Akan tetapi aku putuskan untuk tidak berpikiran buruk tentang kondisi Velia. Sampai akhirnya kelas telah selesai. Jadi aku segera mengemasi semua buku-buku milikku, dan segera pergi ke ruang rawat untuk menemui Velia dan Leonard.
Namun saat aku hendak menuju ke ruang rawat aku memutuskan untuk ke kantin terlebih dahulu. Tentunya untuk membelikan mereka minuman dan makanan ringan. Aku akhirnya berjalan menuju ke kantin ,aku lihat di kantin tidak terlalu ramai. Jadi aku putuskan untuk segera membeli minuman dan beberapa cemilan dan segera membawanya ke ruang rawat.
Aku sendiri jarang sekali menggunakan benda pipih itu, bahkan benda itu hanya aku gunakan di saat aku memang terdesak dan sedang bosan saja. Tapi aku lebih sering membaca dan sekedar menulis untuk menyalurkan hobiku. Sampai akhirnya aku tidak terlalu memikirkan mengenai ponsel itu yang bahkan sekarang banyak sekali yang menggunakannya.
"Kemana mereka? Kok nggak ada sih? Apa mereka udah nggak di sini lagi? Tapi kemana perginya mereka?" Aku bergumam bingung dan berpikir ke mana perginya mereka. Sampai akhirnya aku di kejutkan dengan seorang perawat yang berjaga di sana, "Maaf ada yang bisa aku bantu?!" Tanyanya padaku.
"Eh!" Aku tersentak dan segera berbalik untuk menatap ke arahnya, dari pakaian yang dia kenakan saja aku bisa tahu dia pasti dari jurusan kedokteran karena mengingat aku tahu sedikit mengenai mereka yang di haruskan piket bergantian di ruang rawat itu. Aku juga tahu kalau umurnya pasti di atasku, aku berpikir begitu karena memang yang di tempatkan untuk piket itu pasti sudah senior dan yang sudah berpengalaman dan juga mengerti tentang merawat seorang pasien nantinya ketika mereka berkerja di sebuah rumah sakit.
__ADS_1
"Ah, kak aku mau tanya, apa tadi ada seorang pria yang menggendong wanita pingsan dan membawanya ke sini?!" Tanyaku sedikit agak canggung. Mengingat aku ini adalah orang yang sangat cuek, jadi aku juga sebenarnya jarang berkomunikasi dengan beberapa mahasiswa di kampus.
Dia terlihat berpikir sejenak lalu menjawab ucapan ku, "Ah iya aku ingat! Tadi memang ada mahasiswi yang aku tolong, dia pingsan!" Katanya yang belum selesai bahkan aku langsung menyelanya.
"Apa dia baik-baik saja? Dan sekarang dia ada di mana kak? Aku juga tak melihat pria itu di sini!" Tanyaku penasaran dan menunggu jawaban dari kakak perawat itu.
Kakak itu malah tersenyum ke arahku, seakan tahu kalau aku sedang mengkhawatirkan sahabatku itu, "Kamu tenang saja! Dia baik-baik aja! Dia juga tadi sudah siuman dan menjadi lebih baik! Tapi tadi mereka pergi gitu aja! Aku nggak tahu mereka mau ke mana, tapi kalau aku nggak salah dengar sih, mereka mau ke kelas!" Jelas kakak perawat itu dengan panjang lebar.
Aku berterima kasih pada kakak perawat itu karena sudah memberi tahuku kondisi Velia yang sebenarnya dan mengatakan kalau mereka sudah berada di kelas. Aku putuskan untuk pergi ke kelas lagi untuk mencari keberadaan mereka.
Saat aku berjalan untuk menuju kelas, aku melewati sebuah koridor panjang dan tak sengaja aku bertemu dengan seorang pria tampan berperawakan tinggi ,tegap menghadang jalanku. Karena tinggi pria itu dan aku berbeda 10 cm, jadi aku putuskan untuk mendongak dan mencari tahu siapa yang sudah menghalangi jalanku itu.
Dan benar saja, pria itu adalah Robert. Pria yang di idam-idamkan oleh Velia untuk menjadikannya sebagai kekasih.
"Kamu?" Kataku padanya, dia tersenyum manis ke arahku. Mungkin kalau yang melihat senyuman itu adalah wanita selain aku, pasti mereka sudah di buat meleleh karena senyuman manis itu. Tapi entah kenapa aku hanya biasa saja menatap pria yang sudah mencuri hati Velia ini.
"Apa kau nanti malam ada waktu?!" Tanyanya padaku. Aku mengernyitkan dahi ku bingung. Aku menyelidiki apa tujuannya mengatakan hal seperti itu padanya. Sampai akhirnya aku menjawab.
__ADS_1
"Aku sibuk, jangan ganggu aku!" Ketus ku padanya, lalu setelahnya aku langsung pergi begitu saja melewatinya.
Robert tersenyum kecil melihat gadis itu pergi melewatinya begitu saja, dirinya bergumam, "Gadis yang menarik!" Lirihnya.