
"Jadi Feza belum mau bicara juga dengan mu ?" Tanya Nova sambil menyenggol lengan Gian.
Pria itu menoleh dengan wajah cemberut "biarkan saja dia, aku tidak peduli padanya"
Namun ucapan Gian justru membuat Nova tertawa terbahak-bahak membuat Gian mendengkus kesal.
"Tapi aku melihat kekesalan di wajahmu saat Feza tidak mau bicara"
"Itu hanya penglihatan mu saja Nova, aku benar-benar tidak peduli padanya"
"Akui saja Gian, apa susahnya sih !" Ucap Nova masih dengan tawanya, hingga ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya membuat Nova berhenti tertawa.
"Aku pergi dulu" Gian melangkah dengan cepat meninggalkan Nova saat melihat siapa yang berdiri di belakang wanita itu.
Nova mengernyit bingung melihat Gian yang terburu-buru, ia pun segera menoleh kebelakang, lalu terkejut saat melihat Elthan berdiri di dekatnya.
"Ayo ikut aku !" Ajak Elthan meraih tangan Nova.
"Kemana ?" Tanya Nova hendak menarik kembali tangan nya, namun Elthan mencengkeramnya dengan nya kuat.
"Ikut saja ! Nanti kamu akan tau sendiri. Ada hal penting yang ingin aku katakan"
Dan tanpa menunggu jawaban Nova, Ethan langsung menarik tangan Nova menuju sebuah ruangan.
Perlahan namun pasti Elthan membuka ruangan tersebut, Nova menganga karena kagum saat melihat ruangan itu berdinding kaca. Berbagai jenis bunga ada disana namun sayangnya itu bukan bunga asli melainkan bunga plastik. Namun tetap saja membuat Nova berdecak kagum.
"Sini !" Ajak Elthan lagi.
Nova mendekat, keduanya berdiri di dekat dinding kaca yang menghadap ke arah kolam renang. Disana ia dapat melihat Yosi dan yang lainnya sedang berenang.
Tiba-tiba detak jantung Nova berdegup kencang saat Elthan begitu dekat dengan nya, entah apa yang ingin di bicarakan pria itu, Nova tidak bisa menebak sedikitpun.
"Nov"panggil Elthan, suaranya begitu lembut membuat Nova merinding.
"I-iya" jawab Nova sedikit gugup.
"Aku mencintaimu"
__ADS_1
Mulut Nova seakan terkunci begitu rapat setelah mendengar apa yang di katakan pria itu, tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Nova padahal di dalam pikirannya saat ini ada banyak hal yang ingin ia katakan.
"Aku tidak tahan lagi menahan perasaan ini, sudah empat tahun Nov aku memendam rasa ini, jadi aku harap kamu mau menjadi kekasihku" sambung Elthan lagi.
"T-tapi---"
"Tapi apa ?status kamu yang seorang janda ?" Elthan membalikkan tubuhnya dan juga Nova sehingga mereka berdua berhadapan. "Aku tidak peduli dengan statusmu yang seorang janda, aku mencintaimu apa adanya"
Nova terharu dengan ucapan Elthan, namun ia tidak ingin percaya begitu saja. Pernikahan nya dengan Ardan dulu masih meninggalkan luka terdalam di hidupnya.
"Aku sebenarnya sulit percaya lagi pada pria, pernikahan ku dulu masih menimbulkan luka di hidupku. Perlakuan Mas Ardan yang selalu menyiksaku selalu membuatku takut" jelas Nova sembari menarik napas panjang.
"Tidak semua laki-laki bersikap seperti itu Nov, hanya orang bodoh yang memperlakukan wanita secantik kamu dengan cara kasar"
Nova kembali terdiam, haruskah ia memberi kesempatan pada Elthan untuk masuk dalam kehidupannya, ia tahu semua laki-laki tidak akan sama dengan Ardan. Namun rasa takut itu tetap ada.
"Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu !" Kini Elthan memegang kedua tangan Nova dengan lembut. Ya Meyakinkan wanita itu bahwa ia tidak sama dengan mantan suaminya Nova.
"Mari kita coba menemukan kebahagiaan kita Nov!" Sambung Elthan lagi.
Nova tersenyum dan dengan malu-malu ia menganggukkan kepalanya, sepertinya tidak ada salahnya jika menjalin hubungan dengan Elthan. Lagian ia sudah lama menjanda jadi mungkin sudah saatnya Nova membuka lembaran baru.
"Emmm, aku mau kita jalani semua ini dulu" jawab Nova.
"Jadi kamu mau jadi kekasihku ?"
"I-ya"
Saat itu juga senyum Elthan langsung mengembang saat mendengar jawaban Nova, akhirnya cinta nya selama ini terbalas sudah, tidak sia-sia Elthan menunggu wanita itu menjadi janda.
"Makasih sayang"
Blass.
Wajah Nova langsung bersemu merah saat mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Elthan, dan entah kenapa ia merasa kalau Elthan begitu tulus padanya.
*******
__ADS_1
Bel rumah berbunyi, membuat Yosi dengan cepat menuruni anak tangga untuk membuka pintu. Ia sudah berganti pakaian karena berenang tadi.
"Mau kemana ?" Tanya Feza menghentikan langka kaki Yosi.
"Buka pintu, kau tidak dengar sejak tadi bel bunyi ?"
"Sudah di buka sama Bibi, jadi kita disini saja"
"Oh" Yosi hendak melangkah menuju sofa dimana Feza berada, namun langkahnya langsung terhenti saat mengingat sesuatu.
"Ikut aku !" Ucap Yosi dan langsung menarik tangan Feza.
"Lepaskan Yos ! Ada apa sih ?" Feza langsung menarik tangannya, dan menatap Yosi bingung.
"Aku ingin menemui Nova, tadi dia di bawah Kakak ku. Pasti terjadi sesuatu pada mereka, ayo kita goda Nova" jelas Yosi.
Mendengar hal itu Feza jadi semangat, ia pun segera menyetujui rencana Yosi. Kedua nya berjalan menuju ruangan kamar Nova.
Ceklek.
Yosi membuka pintu kamar Nova yang memang tidak di kunci, sementara sang pemilik kamar sedang duduk di meja rias dan mengoles lipstik ke bibirnya.
"Apa kalian sudah resmi ?" Tanya Yosi sambil memainkan alisnya.
"Resmi apa sih ?" Nova balik bertanya dan memutar matanya.
"Kamu dan Elthan" sahut Feza.
"Siapa yang bilang ?" Tanya Nova.
"Aku tau tadi kamu dan Kakak ku lama di ruangan bunga, pasti kakak ku mengungkapkan perasaan nya kan ?" Jawab Yosi
"Kalian sudah jadian kan ?" Feza ikut bertanya.
"Enggak" Nova berusaha menutupi hubungannya dengan Elthan, karena ia tidak mau salah tingkah di hadapan kedua sahabatnya itu.
"Kamu tidak bisa berbohong Nova" balas Yosi.
__ADS_1
"Sudahlah jangan bahas ini, ayo kita turun kebawah katanya akan ada tamu" Nova berdiri dari duduknya.
Walau tak mendapat jawaban dari Nova, namun Yosi dan Feza sudah yakin kalau wanita itu sudah menjalin hubungan dengan Elthan.