
Elthan membawa Nova kerumahnya yang ada di Indonesia, sepanjang jalan wanita itu meronta-ronta dan mencoba melarikan diri namun gagal.
Setelah memasuki kawasan rumah Elthan, Nova kembali mencoba melarikan diri. Ia segera membuka pintu mobil sampai berhasil kabur. Elthan berdiri di samping mobilnya sambil memijit pelipisnya, sedangkan Nova berdiri didepan gerbang yang sudah di tutup oleh penjaga.
"Buka gerbangnya !" Pinta Nova, tapi para penjaga itu mengabaikan "Apa kalian tuli ? Aku bilang buka gerbangnya !" Teriak Nova dengan suara keras.
"Maaf nona kami tidak bisa" ucap sala satu penjaga tanpa menatap ke arah Nova.
"Ok, jika kalian tidak bisa maka minggir dari hadapanku ! Biar aku yang membukanya" balas Nova dan berjalan ke arah penjaga itu.
"Hentikan Nova !, Tidak akan ada yang membantumu" teriak Elthan yang sudah sangat lelah.
"Dengarkan aku wahai tuan Elthan, aku ini adalah Nova stephani dan kamu tidak berhak menghentikan ku" Ujar Nova, namun mendadak ia menjadi gugup saat melihat Elthan berjalan ke arahnya.
"Aku tahu" bisik Elthan.
Nova memundurkan tubuhnya sampai akhirnya punggungnya menabrak batang pohon. "Apa yang kau lakukan ? Menjauh !" Ucap Nova tergagap.
Elthan terus mendekatinya, ia meletakkan salah satu tangannya di atas batang pohon sementara tangan satunya berada di pinggang.
__ADS_1
"Apa kamu gugup ?" Tanya Elthan dengan suara serak, hidungnya menyentuh hidung Nova, sementara matanya tertuju pada bibir ranum Nova.
"T-tidak"
"Jadilah gadis yang baik sekarang dan ikuti aku !" Pinta Elthan, ia meraih tangan Nova dan menyeretnya memasuki pintu.
"Aku tidak mau" teriak Nova, tapi Elthan terus saja menarik tangannya.
"Aku akan menelepon polisi, akan ku pastikan kamu akan tertangkap. Kamu akan membusuk didalam jeruji besi" kembali Nova berteriak, namun jauh dari lubuk hatinya ia tidak ingin semua itu terjadi.
Elthan terus saja menarik tangan Nova tanpa sedikitpun mendengarkan teriakan demi teriakan wanita itu, sampai akhirnya keduanya memasuki sebuah kamar, Elthan langsung mengunci kamar tersebut supaya Nova tak bisa kabur lagi.
"Silahkan sayang ! Aku tidak takut" balas Elthan menyeringai.
Tanpa pikir panjang Nova langsung menghubungi nomor polisi dan melaporkan Elthan, tapi setelah menyebut nama pria itu sambungan telepon terputus begitu saja. Kali ini Elthan yang menyeringai ke arah Nova.
"Sudahlah sayang ! Aku sangat lelah, aku ingin istirahat dulu" ucap Elthan seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
*******
__ADS_1
Seminggu telah berlalu dan Nova melakukan semua pekerjaannya di rumah itu. Elthan sudah memberi tahunya berkali-kali kalau pria itu ingin melindunginya, itulah mengapa Elthan tak mengizinkan Nova keluar. Tapi Nova tetap bersih keras untuk melarikan diri.
Bahkan Nova menolak untuk bicara dengan siapapun karena sekarang ia tahu kalau semua orang yang tinggal di rumah itu adalah mafia. Gian mencoba membuat lelucon tetapi Nova terus mengabaikan semuanya. Dulu Nova mengira Gian adalah temannya tapi sekarang tidak karena pria itu tak mengatakan siapa Elthan sebenarnya.
Baron terus menatap Nova dengan tajam, sedangkan Elthan masih berusaha mencari tau siapa dalang dari semua ini, siapa yang sudah mencoba menyakiti wanita yang ia cintai.
"Seseorang sudah berkhianat, aku yakin dia dekat denganmu" ucap Gian.
"Bagaimana Nova bisa mengetahui semua ini ?"
"Pasti ada yang memberitahunya"
Elthan tetap diam saat dua orang kepercayaan nya sedang bicara, namun tak berapa ia angkat bicara "Orang itu memberi informasi yang salah, dia bilang aku membunuh seseorang karena uang dan tanganku sudah kotor karena berlumuran darah orang yang tak bersalah" ucap Elthan sambil menghisap rokoknya.
"Dan Nova percaya semua itu" tambah Elthan lagi.
Mendengar hal itu Gian tertawa "Ini sangat lucu, padahal kita memberi uang pada mereka agar mereka bisa bertahan hidup, dan bagaimana mungkin kita membunuh seseorang yang tak bersalah"
"Pasti ada seseorang yang memiliki dendam di sini" ucap Elthan dan di angguki oleh Gian dengan cepat. "cari siapa orang itu !"
__ADS_1