
Mereka berjalan ke bawah. "Ngomong- ngomong, siapa tamu ini?" Tanya Nova penuh keingin tahuan
"Salah satu teman baik kakakku." Jawab Yosi
"Teman baik" Nova kembali bertanya, ia mengerutkan kening.
"Um, aku belum pernah melihatnya. Dia mungkin orang yang sudah tua"
Setiba di ruang tamu. Elthan berdiri setelah melihat Nova, Yosi, dan Feza. Sementara Gian, yang duduk di sampingnya, menatap Feza dari atas ke bawah,
"Logan, ini adikku, Yosi, dan ini pacarku Nova" Ucap Elthan, menarik Nova ke arahnya dengan posesif.
Yosi mengikuti Nova, dan sekarang keduanya berada di depan Elthan dan tamu itu, mereka bisa melihat wajah orang asing itu. wajah orang asing itu. Sesaat mereka berdua terpana melihat pria itu.
Dia adalah pria paling tampan yang pernah dilihat oleh Nova dan Yosi.
Bahkan Nova sampai kehilangan kata- kata nya pada saat menatap Logan, Nova tidak pernah mengira dia akan menemukan pria yang lebih tampan dari Elthan.
Cubitan kuat di pinggang Nova membuatnya tersadar "Aduh," pekik Nova sambil mengusap area yang baru saja dicubit Elthan, ia menatap Elthan dan mengerutkan kening, hanya untuk mendapatkan jawaban kenapa pria itu mencubitnya.
Nova kemudian tahu bahwa Elthan memergokinya menatap Logan dengan kagum. Nova mengangkat bahu polos, wajahnya merah karena malu. Sementara itu, Yoso masih menatap Logan dengan mulut terbuka lebar.
Nova mengulurkan tangannya untuk menyapa Logan. "Hai, saya Nova Stephani" ia tersenyum sambil memperkenalkan dirinya, masih menyadari tangan Elthan, yang memegang pinggangnya erat- erat sebagai peringatan. Logan mengangguk sebagai jawaban sambil menerima tawarannya untuk berjabat tangan.
Tidak berapa lama seorang pelayan datang dan mengatakan kalau makanan sudah siap.
"Ayo pergi !" Ucap Gian berdiri dan menatap Feza, yang juga terpesona oleh ketampanan Logan. Merasa kesal ia berjalan terlebih dahulu ke meja makan.
Seperti biasa Feza mengabaikan kehadiran Gian saat semua orang duduk.
Elthan duduk di ujung meja setelah menarik kursi untuk Nova di sisi kanannya.
__ADS_1
"Terima kasih." Nova tersipu karena sikap lembut Elthan.
"Sama-sama sayang," balas Elthan dan mencium kening Nova. Lalu kembali ke tempat duduknya.
Di sisi kiri Elthan duduk ada Logan. Feza pergi untuk duduk di sampingnya, tetapi Gian langsung menarik kursi itu dan duduk di atasnya. Feza benar- benar ingin mematahkan kepalanya, tetapi ia menahan diri.
Mengambil napas dalam- dalam, Feza duduk di samping Gian, hingga membuat Gian tersenyum puas.
Makan malam sudah siap di meja. Elthan mengambil piring dan langsung mengisinya.
Kemudian, ia berbalik ke arah Nova. "Apakah kamu menginginkan yang lain, atau apa ini cukup ?" Elthan bertanya sambil memberikan piring yang sudah diisi pada Nova.
Nova menatap Elthan bingung. Apakah pria baru saja menyajikan makanan untuknya ?. Pikir Nova sambil menelan ludah.
"Tidak terima kasih." Nova mencoba untuk tersenyum. Ini adalah pertama kalinya seseorang memperhatikan Nova. Dia merasa bahagia. Jantungnya berdetak kencang memikirkan Elthan yang mencintai dan menyayanginya.
Yosi mulai makan diam- diam sambil terus mencuri pandang ke arah Logan. Pria merasakan tatapan Yosi tetapi dia mengabaikannya. Sudah biasa baginya saat melihat gadis- gadis mengincarnya, menawarkan diri dan segalanya. Tidak ada seorang gadis pun yang tidak tertarik dengan pesona dan ketampanannya.
"Kami juga" tanya Nova.
"Ya. Ikutlah denganku." Elthan meraih tangan Nova dan membawanya bersamanya ke dalam kamar.
Yosi berdiri dan juga kembali ke kamarnya.
Sekarang Elthan dan Nova sekarang berada di kamar Elthan. Pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nova, dan Nova meletakkan tangannya di pundak Elthan
"Kenapa kau menyeretku ke sini?" Nova bertanya, namun tidak menatap mata Elthan. Ia merasa malu.
"Karena aku ingin ciuman selamat tinggal darimu," jawab Elthan dan Nova memandangnya dengan kaget.
Apa yang di maksud Elthan ? 'ciuman selamat tinggal'? Apakah pria itu akan pergi sekarang? . Nova bingung. Hubungan apa yang mereka miliki?.
__ADS_1
"Aku punya beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Mungkin aku akan kembali setelah tengah malam, jadi kamu tidur saja di sini."
"Tapi kenapa ? aku kan punya kamar sendiri."
"Karena aku ingin ketika aku kembali nanti, aku melihatmu di tempat tidur." Elthan menatap Nova.
"Tap-"
"Jangan membantah?" Ucap Elthan dengan tegas. Ia adalah seorang pria yang suka memerintah orang siang dan malam. Ia tidak tahu bagaimana caranya meminta atau membuat permintaan karena dia tidak pernah melakukannya, ia hanya memberi perintah. Dan itu adalah pekerjaannya.
Selama ini Elthan tidak pernah jatuh cinta, juga tidak pernah punya pacar di masa lalu, hanya one night stand dengan gadis- gadis di jaringan prostitusi yang ia miliki.
Nova kehilangan kata- kata. Tidak ada yang pernah memerintahnya seperti itu, hanya Ardan yang pernah melakukannya di masa lalu. Tapi perintah Elthan dan Ardan sangat berbeda seperti siang dan malam. Ardan kasar, sementara Elthan lembut namun berwibawa.
"Apakah kamu mengerti apa yang aku katakan Nova ?"
"Tentang?"
"Aku ingin kamu tetap disni !." Setelah itu, Elthan menciumnya dengan penuh kelembutan.
******
Logan ingin menyegarkan diri, jadi dia meminta seorang pelayan untuk mengantarnya ke kamar kecil.
"Ayo, Pak. Akan saya tunjukkan jalannya," kata seorang sambil mengedipkan bulu matanya genit.
"Katakan saja jalannya," ucap Logan, Pelayan itu malu tapi tetap tidak mau menyerah untuk menggoda Logan
"Di lantai atas, kamar kedua," ucap pelayan itu sambil menggigit bibirnya.
Logan mengabaikannya dan berjalan menuju kamar. Ketika sampai di lantai atas, dia membeku karena ada dua kamar yang saling berhadapan. Pelayan itu tidak memberitahunya apakah kamar yang mana kamarnya.
__ADS_1
Sambil menarik napas panjang, Logan membuka pintu yang kanan dan untungnya dia benar. Tanpa mendongak, dia berjalan menuju wastafel dan mulai mencuci wajahnya.