
Tujuh bulan kemudian...
"Apa kamu tahu semalam anak kita sangat menginginkan es cream. Tapi kamu tidak ada untuk membawa es krim nya," Ucap Nova seraya meraih tangan Elthan. Pria itu masih koma. Dan saat Nova memberi tahu tentang keinginannya, anak dalam perutnya memberikan tendangan.
"Apakah kamu tahu kalau dia baru saja menendangku?" Nova tertawa sepenuh hati. "Artinya dia setuju denganku."
Satu- satunya hal yang membuat Nova tetap waras adalah memikirkan anak dalam kandungannya dan kebahagiaannya yang akan menjadi ibu. Ia tidak ingin kehilangan harapan.
Sudah tujuh bulan berlalu, dan sekarang Elthan di rawat di rumah, di mana Nova bisa mengurus semua kebutuhan medisnya. Nova tidur di kamar yang sama dengan dengan Elthan, berharap suatu hari nanti saat ia bangun dan ia melihat Elthan tersenyum padanya.
"Tahukah kamu bahwa dokter memberi tahu ku kalau aku sudah bisa melihat jenis kelamin anak kita, Tapi aku ingin menunggu kamu, meskipun aku merasa kalau anak kita perempuan" Ucap Nova, sambil menatap Elthan. Ia tahu Elthan tidak akan menjawabnya, tapi Nova berharap Elthan bisa mendengarkannya.
Nova tidak sanggup kehilangan Elthan, bahkan memikirkannya saja ia tak berani. ia hanya berharap Elthan akan segera bangun
Tiba- tiba dada Nova terasa sesak, dan ekspresi wajahnya berubah menjadi sedih. "Bangun, sayang. Tolong bangun, kamu harus bertanggung jawab karena membuatku hamil, kita harus menikah." Suaranya pecah, air mata mengalir dari matanya, Ia menangis diam- diam.
"Sangat sulit bagiku melihatmu seperti ini. Aku membutuhkanmu. Anak kita membutuhkanmu." Nova mencium tangann Elthan, lalu berdiri dan mencium kepalanya.
Tak berapa laam pintu terbuka, Bu Santia masuk sembari membawa sup ayam panas untuk Nova
"Ibu aku hanya menginginkan dia bangun" Nova tersenyum, menyeka air matanya.
"Ibu tahu, sayang." Bu Santia tersenyum pada putrinya.
__ADS_1
"Lalu sampai kapan dia seperti ini ?."
Bu Santia tak menjawab, ia tahu betul rasa sakit yang Nova rasakan. Perlahan ia membawa putrinya duduk di sofa.
"Kamu makan dulu ya ! Ini ibu buatkan sop." Pinta Bu Santia "Ibu suapin."
Nova mengangguk, sesakit apapun perasaannya ia akan selalu memikirkan kesehatan anak dalam kandungnya.
Setelah menghabiskan semangkok sop itu, Bu Santia meninggalkan Nova, dan menyuruh putrinya untuk istirahat.
********
Sedangkan di sisi lain Yosi menerobos masuk ke dalam ruangan Gian tanpa mengetuk pintu dulu, matanya membulat ketika melihat Feza sedang duduk di atas paha Gian.
"Astaga Yosi, bisa gak kalau masuk ketok pintu dulu," keluh Gian sedangkan Feza bangkit dari duduknya.
Gian memutar matanya. "Terus untuk apa kamu kesini ?" Tanyanya kesal.
"Apakah kamu ada file yang perlu kamu kirim ke teman kamu," Tanya Yosi melihat sekeliling dan tidak menatap mata Gian.
"Teman yang mana?" Gian balik bertanya dengan bingung
"Logan, masa iya gak tau." Bahkan hanya menyebut namanya saja sudah membuat Yosi merinding.
__ADS_1
Gian dan Fezz menyeringai. "Oooh, Logan."
Yosi hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Tidak, aku tidak punya file apa-apa." Gian kembali menyeringai.
"Beri aku file apa saja untuk dibawa ke sana," perintah Yosi
"Aku tidak punya berkas untuknya.".
"Sial." Yosi hendak berbalik tapi Gian menghentikannya.
"Tunggu tapi Logan memang punya file yang dan berkas yang harus aku tandatangani, jadi kamu bisa membawa itu."
Wajah Yosi berseri- seri, dan dia buru- buru mengangguk. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia sudah berada di depan rumah besar Logan.
Ia menutup matanya saat mengingat terakhir kali dia datang ke sini untuk menyerahkan file penting kepada pria itu.
*******
Setelah selesai makan, Nova berjalan menuju meja rias nya
Tiba- tiba, sebuah suara membuat kepalanya tersentak.
__ADS_1
"Kurasa dia laki-laki."
Mata Nova melebar, ia berbalik, napasnya terengah- engah, saat melihat ayah dari anaknya duduk di tempat tidur sambil tersenyum padanya.