
Ibu Fadia menggenggam erat tangannya Anin penuh kelembutan dan mengerti perasaan yang dialami oleh Anindira yang mengetahui kondisi keluarganya Anindira cucu menantunya itu.
"Anin,kamu itu bukan anak yatim-piatu Ingat,kita ini adalah satu keluarga lihatlah dari ujung sana sampai di sampingmu, mereka menyayangimu hingga mereka sangat peduli dengan hidupmu, jadi jangan hidup dalam terus-menerus kesedihan dan mulailah membuka lembaran baru bersama dengan suamimu, insya Allah dia akan membahagiakanmu selamanya," terangnya Nyonya Besar Fadia.
Sudah pukul sebelas malam, Anindira belum bisa memejamkan matanya yang terus menerus memikirkan tentang malam pertamanya.
"Mama apa aku bisa menjadi seorang istri yang baik, sholehah seperti Mama yang selalu memenuhi tanggung jawab sebagai seorang istri yang penuh tanggung jawab terhadap papa dan menjadi istri yang selalu mendapatkan curahan cinta dan kasih sayang dari suaminya,apakah saya akan mendapatkan hal seperti itu dari suamiku sedangkan kami menikah hanya beberapa tahun saja dan kami menikah dengan tujuan untuk mendapatkan anak," batinnya Anindira yang duduk meringkuk di atas ranjangnya bagian pinggirannya dipenuhi oleh tebaran kelopak bunga mawar yang berwarna merah.
Alzam sedang sibuk bersama dengan Adli, Andra dan Arion menceritakan masalah bisnis mereka yang cukup serius malam itu.
"Hemp, Bang Adli sepertinya rapat kita malam ini cukup sampai di sini saja dulu, kasihan kakak ipar yang harus menunggu suaminya padahal sudah hampir jam dua belas malam loh," ucapnya Arion yang menatap intens ke Adli bergantian dengan Alzam sepupunya itu.
"Yoi benar sekali apa yang kamu katakan Arion, kasihan Anindira malam-malam begini harus tidur seorang diri di dalam kamar pengantinnya yang sungguh cantik, ini kesempatan kamu loh Abang untuk membuktikan jika kau itu pria sejati yang hanya semalam langsung bisa membuat Tuan Besar Mahawira mendapatkan keturunan penerus keluarga besar Mahawira," sahutnya Andra.
"Maafkan saya Tuan Muda Alzam yang sudah menghalangi malam pertamanya Tuan Muda, saya sama sekali tidak bermaksud melakukan hal ini pada Tuan Muda kok," ucap sesalnya Adli.
Arion berjalan ke arah luar pintu sambil menepuk pundak dari kakak sepupu sambungnya itu," tidak perlu tegang dan panik seperti itu, apa kamu butuh bantuan tutorial contoh dari saya mungkin," candanya Arion Khaizan Hermansyah anak dari suami pertamanya Bu Karina.
Alzam hanya menatap tajam ke arah ketiga sahabatnya secara bergantian," saya akan buktikan kepada kalian kalau hasilku tokcer dalam satu bulan dua minggu Anindira Mahika Mahendra akan hamil calon anakku!" Tegasnya Alzam yang berjalan ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Andra Ramadhan saling bertatapan satu sama lainnya," kita berhasil memprovokasinya, saatnya kita pulang ke rumah untuk istirahat besok masih mau masuk kerja untungnya hari ini libur," ucapnya Andra.
"Betul banget, dia itu workholik jadi baginya siang dan malam sama saja, semoga saja istrinya mampu merubah kebiasaannya itu yang terlalu menghabiskan waktunya dengan bekerja," timpalnya Adli.
Mereka berdua berjalan beriringan untuk pulang masing-masing ke apartemen mereka. Andra sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan tengah malam itu. Sedangkan Adli ditarik tangannya oleh seseorang ke arah dalam kamar.
Adli yang sudah mengetahui siapa orang yang melakukannya hanya tersenyum menanggapi sikap dari kekasihnya itu.
Ayunda menutup pintu dengan rapat-rapat dan mendorong tubuhnya Adli ke arah tembok, "Mas Adli kenapa meski mengatakan hal omong kosong seperti itu di depan kakek dan nenek? Gimana kalau aunty Kania menyampaikan kepada Mami tentang rencananya Mas Adli bisa-bisa aku stop kuliah dan dinikahkan dengan Mas Adli segera," ketusnya Ayunda adik sambungnya Alzam beda ayah itu.
Adli membalik tubuhnya sehingga ia bertukar posisi Ayunda sekarang yang bersandar dibalik tembok bercat putih gading itu. Ayunda tidak kuasa menghalau apa yang dilakukan oleh Adli terhadapnya.
Ayunda menatap tak berkedip kekasihnya itu," Mas aku belum siap menikah, serius aku masih pengen bebas Mas aku baru 19 tahun juga nanti bulan depan baru 20 tahun," kilahnya Ayunda sambil mengalungkan kedua tangannya ke lehernya Adli.
"Kalau itu maumu Mas akan melakukan hal-hal yang tidak akan bisa kamu hindari dan menolak untuk menikahiku, Ingat itu baik-baik!' kesalnya Adli seraya menghempaskan tangannya Ayunda yang berada di atas pundaknya Adli.
"Mas saya masih ingin kuliah sampai aku menyelesaikan pendidikanku hingga S2, aku mohon menunggu lah beberapa tahun lagi," ujarnya Ayunda.
"Kalau begitu aku butuh waktu empat tahun untuk menunggu kamu,apa kamu kira itu waktu yang singkat haa!! Itu sangat lama Ayunda, kalau kamu tidak mau aku terpaksa memilih salah satu dari dua pilihan yang akan aku pakai nantinya, bersiaplah untuk menunggu apa yang akan terjadi nantinya," ancamnya Adli yang sungguh emosinya mampu tersulut gara-gara keegoisan dari Ayunda.
__ADS_1
Adli sama sekali tidak melirik ke arah kekasihnya itu tanpa menolehkan kepalanya ke Ayunda yang tidak percaya melihat sikapnya Adli yang penuh kelembutan dan kasih sayang padanya.
"Biasanya Mas Adli tidak akan bersikap kasar padaku kenapa kali ini sangat berbeda," gumam Ayunda yang sama sekali tidak menyadari kesalahannya itu.
Air matanya Ayunda menetes membasahi pipinya dan tubuhnya luruh seketika kea atas lantai dan kebingungan dengan sikap kasar Adli segera padanya. Padahal mereka sama-sama egois dan tidak ada yang mau mengalah.
Sedang di tempat lain, Anindira sudah berjalan ke arah sofa yang kebetulan ada di sekitar kamar pribadinya Alzam yang sungguh mewah dan besar itu.
"Aku tidur di sofa saja, kasihan dengan bunga-bunganya jika aku tidur diatasnya terlalu cantik sih penampilan beberapa kelopak mawar itu yang terlalu indah dimataku, salahkan pada bunganya yang terlalu cantik," gumam Anin yang merangkul bantal kepala dan peluk nya menuju ke arah atas sofa beludru berwarna cokelat dengan motif kembang tersebut.
Alzam masuk ke dalam kamarnya ketika Anin hendak menutup kelopak matanya menuju alam mimpinya,tetapi segera terpejam dengan paksa karena tidak ingin ketahuan jika dia kesusahan tertidur malam itu.
"Dia kenapa tidur di sofa,apa ranjang kurang empuk atau tidak menyukai jika ada taburan bunga di atasnya?" Cicitnya Alzam.
Alzam kebingungan sembari berjalan ke arah dalam kamar mandi. Tubuhnya butuh sentuhan air hangat malam itu seperti kebiasaannya setiap hari nya.
Alzam menyiram tubuhnya dan terbayang di pelupuk matanya Anin istrinya yang sedang menunggunya di atas ranjangnya dengan menyambut kedatangannya dengan senyuman yang sungguh tulus itu.
"Sayangnya saya sudah terlambat, Anin istriku sudah tertidur tapi ngomong-ngomong pose tidurnyanya sungguh luar biasa sampai membuatku tidak bisa berkata-kata apa dia perempuan atau anak laki-laki," cicit Alzam.
__ADS_1