
Kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya Anindira. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya itu.
"Kembar! Jadi calon anakku kembar dua dokter?" Tanyanya Anin dengan antusias.
Dokter Margaretha Sungkar menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari Anin tersebut.
"Selamat Nona Muda, tujuh bulan ke depan Anda akan memiliki dua orang anak, masalah jenis kelaminnya belum bisa diketahui karena usianya belum cukup umur untuk mengetahui hal tersebut," jelasnya Dokter Margaretha.
Anindira menatap layar komputer dengan seksama hingga tidak berkedip "Tapi mereka baik-baik saja kan dokter?" Tanyanya Anin yang mengkhawatirkan kondisi janin dalam kandungannya itu dengan menatap intens ke arah layar komputer.
"Semuanya normal,mulai dari ukuran, jumlah air ketuban semuanya normal, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan yang perlu kamu lakukan makan teratur dengan pola makan yang benar, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, hindari stres dan paling penting obat dan vitamin yang saya resepkan untukmu, harus diminum tepat waktu," tuturnya Bu dokter Margaretha Sungkar.
"Insya Allah… dokter saya akan lakukan semua sesuai anjuran dokter, makasih banyak sudah membantuku memperlihatkan kondisi calon anakku," imbuhnya Anindira seraya bangun dari baringnya setelah diperiksa.
"Sama-sama ini sudah menjadi tanggung jawabku,kamu harus hati-hati dan jangan lupa kamu itu sedang hamil," ucapnya Bu Dokter sebelum Anindira meninggalkan ruangan praktek spesialis dokter kandungan tersebut.
Anindira menggenggam erat sebuah amplop putih dan berniat untuk memberikan kejutan kepada suaminya. Karena itu lah dia hendak memberikan kejutan kepada suaminya langsung.
"Abang Alzam pasti akan bahagia dan senang mendengar berita gembira ini, aku yakin itu," gumamnya Anin yang berjalan ke arah parkiran dengan raut wajahnya yang berseri-seri.
Aswin yang melihat Anindira berjalan ke arahnya segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu seperti kebiasaannya.
"Nona Muda Anin apa kita langsung pulang ke rumah atau mungkin masih ada tempat yang ingin Anda kunjungi?" Tanyanya Aswin sembari membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Makasih banyak Pak Aswin, kita ke kantornya Abang Alzam saja yah, dari sana baru ke penjara jemput papaku," jawabnya Anin yang wajahnya selalu berseri-seri bahagia.
"Baik Non Anin," ucapnya Azwin.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan Ibu kota. Anin tak henti-hentinya tersenyum dan menatap ke arah jendela kaca mobilnya.
Azwin diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Anin," sepertinya Non Anin dalam keadaan yang baik, apa yang terjadi ketika masuk ke dalam rumah sakit, apa berita yang menggembirakan," gumam Aswin.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di lobi perusahaan suaminya.
"Pak Aswin kamu tunggu aku di sini saja, tidak perlu repot-repot antarin saya lagian ini kedua kalinya saya ke sini, jadi aku sudah hafal letak ruangannya Abang Alzam di lantai 15 kan," ujarnya Anin yang menatap ke arah Azwin yang merasa khawatir dengan kondisi Anin.
"Kalau gitu hati-hati Non kalau ada apa-apa kamu infokan saja kepadaku dengan menelpon nomor hpku saja mungkin kalau butuh bantuan," ucapnya Azwin.
"Padahal baru mau nanya kalau Tuan Muda Alzam nelpon harus ngomong apa, tapi Non Anin sudah mengatakan kepadaku sebelumnya."tampiknya Azwin yang tersenyum cengengesan.
"Sudah ah aku masuk dulu entar Abang pergi keluar lagi, assalamualaikum," ucapnya Anin sambil meninggalkan Aswin yang masih berdiri di depan mobil seraya menatap punggung Anin yang semakin tidak nampak di pelupuk matanya itu.
"Semoga kalian berdua bahagia dunia akhirat, sampai kakek nenek karena aku yakin kalian sudah saling mencintai dan harapku masa lalunya Tuan Alzam tidak akan pernah muncul lagi," batinnya Aswin Nasution Rahman.
Anindira hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mulut Aswin yang seperti kakaknya saja yang mengkhawatirkannya sedangkan kedua kakak kandungnya malahan seperti dia sama sekali tidak mempunyai anggota keluarga, selain papanya yang berada di dalam penjara.
Sudah dua bulan lebih pernikahannya, tapi sekalipun kakaknya tidak ada yang balik dari tempat tugasnya, walaupun hanya sekedar bertegur sapa dan menanyakan kabarnya. Bahkan Anin kadang berfikir,apa mereka saudara kandung atau bukan. Tapi, Anin berusaha untuk selalu berfikiran positif, walaupun dalam hatinya selalu merasa aneh dan kerinduan yang sangat kepada kedua kakaknya itu.
__ADS_1
Anin berjalan perlahan ke arah lift, dia tidak bertanya terlebih dahulu kepada resepsionis yang selalu berjaga di sekitar lobi. Karena dia ingin memberikan kejutan kepada suaminya itu, karena itulah dia tidak ingin bertanya ataupun mengabarkan bahwa dia datang berkunjung.
Langkahnya begitu panjang dan lebar hingga sudah berada di dalam lift. Anin sesekali tersenyum menanggapi sapaan dan senyuman dari orang-orang yang berpapasan dengannya ketika berada di jalan terutama di dalam lift.
Anin melihat ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya itu dengan cantiknya dan sangat pas dan warnanya kontras dengan warna kulitnya.
"Hey perempuan cantik itu siapa?" Tanyanya seseorang yang melihat kepergian Anin dari dalam lift.
"Iya orangnya cantik banget, anggun dan masih kelihatan nampak muda banget kayak anak sekolah SMA saja," timpalnya yang satunya lagi.
"Kalau enggak salah ingat itu seperti istrinya CEO kita deh namanya Anindira Mahika Mahendra iya benar sekali namanya itu tapi, orangnya belum yakin kalau dia istrinya pak Alzam soalnye hanya pernah dengar sekilas sih namanya disebut gitu," ujar yang satunya lagi.
"Tapi,kok mereka nikahnya enggak mewah dan megah malah terkesan seperti disembunyikan dan dirahasiakan segala,secara dia itu CEO pemilik perusahaan yang cukup diperhitungkan kekuatannya di dalam negri maupun luar negeri, aku yakin tidak mungkin tidak sanggup membuat pesta yang luar biasa gitu," terangnya yang satunya lagi.
"Benar pakai banget malah apa yang kamu katakan, tapi sepertinya sih mungkin belum punya waktu yang banyak untuk mengadakan dan melaksanakan resesi pernikahan apalagi beberapa hari ini, perusahaan kita ini kebanjiran tender kerja sama yang sangat bagus dan menguntungkan," ungkap yang satunya lagi.
Perbincangan mereka berempat segera terhenti ketika melihat anak buah kepercayaannya Alzam berjalan ke arah mereka. Anin tidak melihat jika sekretaris suaminya berada di tempatnya.
"Kok Mbak Alisha enggak ada, kemana perginya? Mungkin ada kerjaan yang harus dikerjakan di lain tempat," cicitnya Anin yang melewati meja sekretaris kenalannya.
Anin mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim sebelum memutar handle pintu dan memegangi kenop pintu dengan penuh keyakinan. Tapi, saking terkejutnya melihat apa yang terjadi di dalam sana sampai-sampai amplop putih yang dipegangnya terjatuh ke atas lantai.
Air matanya menetes tanpa aba-aba itu, ia mengutuk dirinya sendiri yang nekat datang langsung ke kantor tersebut.
__ADS_1
"Astagfirullah aladzim, ini tidak mungkin!?"