Menikah Karena Perjanjian

Menikah Karena Perjanjian
Bab. 15


__ADS_3

Anin menangkupkan kedua tangannya di dagu lancipnya Alzam hingga kedua mata mereka saling bersirobot satu sama lainnya. Kedua pasang mata mereka saling berpandangan tanpa berkedip sedikitpun.


"Kok ketawa!? aku malah serius loh dengan perkataan ku Abang Alzam Khair Mahawira," ketusnya Anin.


"Lucu banget menurut Abang sayangku, kamu tidak perlu merisaukan masalah semua itu, insha Allah… semua tidak akan habis sampai tujuh turunan walaupun setiap hari aku beliin kamu hadiah lebih mahal dari ini," ujarnya Alzam penuh kesungguhan dan keseriusan.


Anin mendekatkan bibirnya hingga kedua hidungnya saling bersentuhan satu sama lainnya. Anin mulai berani untuk lebih dulu mengecup bibir suaminya itu, biasanya Alzam yang duluan berinisiatif untuk melakukan hal itu. Anin memegangi tengkuk leher suaminya itu hingga kegiatan pagi mereka harus tergantikan dengan melaksanakan kewajiban sebagai pasangan suami istri.


"Terpaksa harus dua kali mandi kalau seperti ini," candanya Alzam setelah mengakhiri kegiatan pagi mereka hari itu.


Anin hanya tersenyum menanggapi perkataan dari suaminya itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Alzam untuk segera dibantu bangun dengan bermanja-manja dalam gendongan suaminya itu. Alzam segera menggendong tubuhnya Anindira ke dalam kamar mandi.


"Aku yakin Abang pasti menyukai apa yang aku lakukan iya kan?" Tanyanya Amin dalam gendongannya Alzam yang menoel hidung mancungnya Alzam.


"Kalau boleh jujur setiap hari seperti ini saja sayang, Abang sangat bahagia dengan sikapmu yang cukup berani," imbuhnya Alzam.


"Serius Abang menyukai aksiku di atas ranjang?" Tanyanya lagi Anindira yang awalnya menganggap bahwa suaminya tidak menyukai apa yang dilakukannya itu.


Anin menatap intens suaminya itu sebelum di turunkan ke dalam bathub yang belum diisi air sedikitpun oleh kedua pasangan suami istri itu.


"Salah satu cara untuk mengabdi kepada suami caranya seperti ini, karena melaksanakan tanggung jawab dan kewajiban kamu sebagai istri imbalannya surga loh sayang,apa kamu enggan menemani Abang di jannahnya Allah SWT nanti?" Ucapnya Alzam sembari memutar shower air agar jakuzi tersebut segera terisi air hingga Anin bisa segera membersihkan seluruh tubuhnya itu tanpa berlama-lama.


"Saya sangat maulah Abang, bahkan impian terbesarku di dalam hidupku adalah hidup bersama Abang kekal dalam surgaNya Allah SWT bersama dengan beberapa anak-anak kita nantinya," jawabnya Anin yang tersenyum penuh harap akan apa yang dikatakannya kelaknya bisa terjadi.


"Amin ya rabbal alamin, semoga apa yang kamu impikan akan terwujud dan dikabulkan oleh Allah SWT," ujarnya Alzam seraya membantu Anin membersihkan punggungnya Anin.

__ADS_1


Awalnya mereka akan mandi,tapi sekarang berubah jadi saling membahagiakan satu sama lainnya hingga waktu yang dibutuhkan untuk mandi malah melebar menjadi lebih lama lagi.


"Saya akan mencari cara untuk membuat surat perjanjian itu menjadi surat perjanjian pernikahan kita untuk selamanya sepertinya aku harus bekerja sama dengan Adli untuk segera merubah isi perjanjian tersebut, saya tidak ingin berpisah dengan perempuan yang sangat aku cintai, aku tidak mungkin melepas istriku begitu saja walaupun awalnya saya menikahinya hanya karena anak tujuan awalnya tapi, sekarang saya tidak ingin perjanjian itu berlaku lagi," batinnya Alzam.


Pagi itu, keduanya sedang menikmati sarapan paginya dengan sesekali bercanda bersama dan bercengkrama satu sama lainnya.


"Mbak Ririn masakannya hari ini enak banget, bisa diajarkan kepadaku enggak?" Pintanya Anin yang baru kali ini menyukai masakan dari Mbak Ririn salah satu asisten rumah tangganya yang selalu setia menjaga dan membantu Anin dalam keadaan apapun.


Mbak Ririn tersenyum sumringah," Nona Muda bisa saja mujinya padahal masakan saya masih seperti kemarin hanya saja, rasa,bumbu dan bahan-bahannya juga berbeda pastinya karena menu makanannya berbeda," jelasnya Mbak Ririn.


Anindira hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mulutnya asisten rumah tangganya yang sudah seperti sahabatnya sendiri.


"Tapi maukan ajarin aku Mbak?" Bujuknya Anin dengan senyuman lebarnya dengan kedua bola matanya yang berbinar cerah secerah mentari pagi hari.


"Kalau itu mah sudah pasti lah Non saya akan ajarin yang paling penting Nona siap saya menjadi tutorial contoh chef handal yang akan membantumu Non," imbuhnya Mbak Ririn.


"Sayang aku pamit yah ada meeting penting soalnya yang Abang harus ikuti,kamu kalau bosan di rumah bisa ajak Ayunda dan Ayudia untuk temani kamu kemanapun perginya, Abang akan ijinkan yang penting kamu bahagia," ucap Alzam.


Alzam segera menyeka sudut bibirnya kemudian, ia berjalan ke Anindira yang sudah selesai makan sejak tadi hanya menunggu Alzam selesai menghabiskan sarapannya itu.


Anin berdiri dari duduknya itu lalu meraih tangan kanannya Alzam untuk segera dia cium punggung tangan itu sebelum Alzam beraktifitas di luar rumah. Alzam mengecup puncak rambutnya istrinya itu.


"Kamu baik-baik di rumah yah, ingat telpon Abang kalau ada apa-apa atau mau keluar hangout bareng dua kembar," pintanya Alzam.


Anin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulut suaminya itu. Alzam hendak pergi dari depan Anindita tapi, segera dihentikan oleh tangannya Anin.

__ADS_1


"Abang dasinya belum rapi sepertinya,sini saya betulin dasinya," usulnya Anindira yang sudah berjinjit sedikit agar tidak terlalu kesulitan untuk memperbaiki tata letak dasinya Alzam.


"Makasih banyak istriku," ucap Alzam kemudian memberikan kecupan hangat diatas bibirnya Anin.


"Sama-sama sayang, kerja yang rajin yah supaya anak cucu kita punya masa depan yang cerah kelak nanti," candanya Anin.


"Insya Allah… assalamualaikum," pamitnya Alzam.


"Waalaikum salam," balasnya Anindira yang sepertinya sangat tidak rela ditinggalkan oleh suaminya hari itu.


Anin tidak ingin melepas pelukannya dari tubuhnya Alzam,ia terus mengendus wangi parfum maskulin yang menguar tertiup tertawa angin dari alat pendingin ruangan itu.


"Abang kok wangi banget yah, apa Abang sudah ganti parfumnya?" Tanyanya Anin dengan penuh selidik sambil menghirup aroma tubuhnya Alzam dari dada hingga punggung lebarnya Alzam.


Alzam reflek mencium bau tubuhnya yang menurutnya masih seperti sebelumnya itu tidak berubah parfum yang dipakainya setiap hari.


"Kok menurut aku tidak ada bedanya kok, Abang masih pakai parfum yang sering Abang pakai sejak tiga tahun lalu,abang tidak ganti karena kamu suka dengan parfum saya ini," sanggahnya Alzam lagi yang berusaha meyakinkan bahwa dia tidak pakai merek lain.


"Tapi, kok Abang wangi banget yah," tuturnya Anin dengan keheranan.


"Sudah ahh itu perasaan kamu saja, stop dong meluknya bisa-bisa aku terlambat ngantor kalo kamu nggak lepasin pelukannya, tetapi aku sangat menyukai sih sebenarnya tapi sekarang aku harus pergi, enggak apa-apa kan sayang aku tinggal pergi ke perusahaan dulu," Alzam hanya terkekeh melihat sikapnya Anin yang sangat manja pagi ini.


Alzam melirik sekilas ke arah istrinya sebelum tubuhnya terhalangi dinding pemisah tembok ruang tengah dengan dapurnya itu.


"Anindira Anulika Mahendra, Abang akan berusaha untuk berikan yang terbaik untuk dirimu, Abang pengen kamu selalu mendampingiku hingga akhir waktuku," Alzam membatin.

__ADS_1


Anin pun menatap sendu kepergian suaminya itu," Abang apakah aku boleh egois sedikit saja, saya tidak sanggup untuk berpisah denganmu kurang lebih dua tahun lagi itu, apa aku boleh dan bisa meminta padamu untuk merobek dan membatalkan perjanjian pernikahan kita itu Abang?" Air matanya Anin tanpa terasa menetes tanpa aba-aba langsung membasahi pipinya yang sedikit tembem itu yang sudah membentuk chubby.


__ADS_2