Menikah Karena Perjanjian

Menikah Karena Perjanjian
Bab. 28


__ADS_3

Anin berjalan lunglai menaiki undakan tangga, karena belum menemukan siapa orang yang telah membuatkan bubur ayam yang sungguh lezat dan nikmat. Baru sekitar empat langkah anak undakan tangga dinaikinya itu, langkahnya kembali terhenti ketika mendengar suara bel pintu apartemennya berbunyi.


"Siapa siang-siang begini datang bertamu, tidak seperti biasanya?" Gumamnya Anindira.


Anin segera berbalik badan menuju pintu rumahnya karena, tidak satupun orang yang berniat untuk membukanya.


"Ya Allah… kenapa Mbak Lia dengan Mbak Aysiah enggak bukain pintunya sih, apa mereka beristirahat di dalam kamarnya sampai-sampai tidak membukakan pintu," ketusnya Anindira Mahika.


Anin mau tidak mau harus berjalan ke arah depan untuk membuka pintu karena orang yang datang bertamu juga tidak sabaran sekali. Anin membuka pintu rumahnya dengan enggan karena ia tidak mood untuk nerima tamu.


"Ini kan waktunya istirahat siang ngantuk banget soalnya," cicitnya Anin.

__ADS_1


Anin memutar kenop pintu rumahnya itu dengan lesu dan tidak semangat. Ia andai bisa mungkin sudah ngorok dengan cantik di dalam kamarnya.


"Apa jangan-jangan itu Abang Alzam yang sudah balik dari kantor, tapi ini baru jam dua belas lewat, tidak mungkin sudah pulang," cicitnya Anin.


Anin membuka pintu dengan memegangi terus handle pintu apartemen mewah milik suaminya itu. Tapi, belum terbuka lebar semuanya pintu itu masuklah beberapa orang dengan suara hebohnya itu.


"Anindira menantunya Mama selamat sayang kamu akhirnya hamil calon penerus keluarga Dirgantara," ucapnya heboh Bu Renata ibu mertuanya Alzam.


"Congrat! Akhirnya tidak lama lagi saya akan menjadi nenek dari cucuku," hebohnya lagi Bu Regina adik iparnya Bu Renata.


"Mantu cucunya Nenek saya juga tidak lama lagi akan dipanggil Oma dengan cicit ku, Alhamdulillah aku sangat bahagia, kalau seperti ini saya batal ke London Inggris UK.

__ADS_1


Semuanya masih berdiri di depan ambang pintu, karena Anin masih kebingungan dan juga keheranan, dari mana mereka tahu kalau dirinya hamil. Lagian yang tahu kalau dia hamil hanya dia dan juga dokter sedangkan Alzam Khair saja belum mengetahui berita kehamilannya yang begitu menggembirakan. Itu menurut dan persepsinya Anin padahal Alzam sudah mengetahui kebenaran ini.


Anin menatap satu persatu dari mereka yang datang, "Mama, mami Nenek kok bisa tahu kalau saya hamil?" Tanyanya Anin menautkan kedua alisnya saking terkejutnya mendengar perkataan mereka.


"Ya Allah… Nak kamu buang angin saja kami tahu apalagi berita yang luar biasa besarnya tidak mungkin kami tidak mengetahuinya," tukasnya Bu Renata.


"Kamu kok sepertinya tidak bahagia dengan kedatangan kami Nak, apa kamu baik-baik saja atau ada yang membuat kamu tidak tenang dan tidak nyaman mungkin!" Tebaknya Bu Helma nyonya besar di dalam keluarga besar Dirgantara.


Anin menggoyangkan kedua telapak tangannya di hadapan ketiga perempuan yang masih cantik di usianya yang sudah tua itu.


"Ehh bukan itu maksudnya kok Nek, hanya saja Anin belum mengatakan kepada kalian karena nunggu waktu yang tepat saja, kalau boleh jujur saya sangat bahagia dengan kehadiran kalian loh, apalagi bawa banyak barang, ada bunga mawar dengan berbagai warna, barang-barang yang entah itu apa isinya di dalam paper bag, dan juga begitu banyaknya makanan yang sungguh enak dan lezat mana mungkin aku tidak bahagia dan juga menolak hadiah kalian bolehkan aku matre dikit terhadap Ibu mertuaku dan nenekku serta aunty cantikku," ujarnya Anin yang bercanda untuk menetralkan kondisi yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2