
Alzam menyiram tubuhnya dengan air hangat di tengah malam itu dan terbayang di pelupuk matanya Anin istrinya yang sedang menunggunya di atas ranjangnya dengan menyambut kedatangannya dengan senyuman yang sungguh tulus itu.
Khayalan Alzam tidak seperti yang terjadi di depan matanya. Seorang perempuan tidur membelakanginya hanya punggungnya yang tertutupi bed covernya yang berwarna putih itu begitu nampak dipenglihatannya. Alzam hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat sikap dan perilaku Anindira. Perempuan belum genap 24 jam dikenalnya itu.
"Sayangnya saya sudah terlambat, Anin istriku sudah tertidur tapi ngomong-ngomong pose tidurnyanya sungguh luar biasa sampai membuatku tidak bisa berkata-kata apa dia perempuan atau anak laki-laki," cicit Alzam.
Alzam keluar dari kamar mandi, kedua kelopak matanya Anin belum bisa terpejam. Pikirannya melayang kemana-mana memikirkan apa yang akan terjadi beberapa menit yang akan datang.
Alzam mengira Anin sudah tertidur dengan memakai handuk sebatas pinggangnya saja, Alzam segera berjalan ke arah sofa dan tanpa aba-aba langsung menggendong tubuhnya Anindira perempuan yang belum cukup sehari semalam menjadi istrinya.
Alzam tersenyum tipis melihat bulu matanya Anin yang lentik itu bergoyang-goyang.
"Kalau enggak bisa tidur ngapain juga dipaksakan," ketusnya Alzam seraya menggendong tubuhnya Anin ala bridal style itu.
"Aahh nanti aku terjatuh!" Teriaknya Anin yang langsung memeluk erat lehernya Alzam saking takutnya terjatuh ke atas lantai.
__ADS_1
Alzam semakin tersenyum mendengar teriakannya Anin," kamu tidak akan takut jika saya yang menggendongmu, berpegangan yang erat saja," pintanya Alzam.
Alzam bukannya menurunkan tubuhnya Anin ke atas ranjang, tapi malahan berputar sedikit dan mengambil hpnya untuk memotret gaya keduanya itu. Alzam ingin melihat terus raut wajahnya Anindira yang sudah nampak pucat pasi saking takutnya dijatuhkan oleh suaminya itu.
"Kamu lucu juga dengan gaya seperti ini, saya kira kamu perempuan pemberani ternyata pengecut banget malah," ujarnya Alzam.
"Saya dari sejak sekolah menengah atas saya selalu takut akan ketinggian Tuan Muda, karena waktu saya kelas satu SMA pernah terjatuh dari atas pohon, sejak itu sudah stop main manjat-manjatan apapun alasannya Tuan Muda," elaknya Anin yang mendekatkan wajahnya ke dada bidangnya Alzam yang tidak tertutupi selembar kain apapun itu.
Anin semakin terkejut melihat dada sispack nya Alzam yang menyerupai roti sobek itu.
"Ya Allah… sungguh begitu menggoda iman saja, benar-benar bentuk tubuh dan otot yang dijaga dan dilatih setiap hari," gumamnya Anin yang membuka matanya dan melotot melihat dada bidang tersebut.
Alzam mendekatkan wajahnya ke telinganya Anin,"malam ini kamu akan menjadi istriku seutuhnya dan aku akan membuktikan kepada semua orang jika aku sanggup mencetak beberapa keturunan untuk Tuan Besar Mahawira," bisiknya Alzam.
Perkataan Alzam mampu membuat bulu kuduknya Anin berdiri saking gelinya mendapatkan perlakuan seperti itu.
__ADS_1
"Aku tidak boleh menolak keinginannya, karena perjanjian kami ini adalah demi kebebasan papa dari penjara hanya ini cara satu-satunya yang harus aku lakukan," bathinnya Anin yang sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Alzam pada dirinya.
Alzam segera melaksanakan apa yang menurutnya benar sesuai dengan instingnya sebagai pria dewasa. Anin hanya mengigit kecil bibirnya Anin menahan rasa geli dan sensasi aneh di atas tubuhnya itu.
Alzam pun melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami begitupun juga dengan Anindira yang memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri di tengah malam buta itu.
"Hemph!" Lirihnya Anindira.
"Aku akan tidak akan menyakitimu dan akan sangat pelan penuh kelembutan," cicitnya Alzam sebelum melakukan apa yang sejak tadi sudah menggerogoti tubuh dan seluruh jiwa dan pikirannya itu.
Malam itu bulan purnama bersinar begitu terangnya, cahaya sang bintang pun yang berkelap-kelip semakin menambah kesyahduan dan keindahan serta ketenangan malam itu. Hanya suara jangkrik dan bunyi burung hantu saling bersahutan satu sama lainnya.
Alzam bersyukur karena menjadi orang yang pertama di dalam kehidupan istri nya itu. Dia awalnya menyangka Anin seperti kebanyakan perempuan lain yang di luar sana yang rela melakukan apapun demi uang dan gaya hidup matreliastis. Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasangan suami istri itu.
"Makasih banyak sudah memberikan yang pertama untukku istriku," cicit Alzam sebelum memejamkan matanya menuju alam mimpinya indahnya yang sangat kelelahan setelah beraktifitas malam dengan Istrinya sendiri.
__ADS_1
Anin ngos-ngosan karena terlalu lelah menghadapi permintaan suaminya yang sungguh membuatnya serasa seluruh tulangnya remuk redam.
"Akhirnya aku menjadi istrinya sepenuhnya, semoga aku bisa berbakti kepadanya walaupun pernikahan kami ke depannya sangat singkat, semoga Alzam Khair Mahawira memperlakukan aku selayaknya seorang istri," batinnya Anindira Mahika Mahendra.