
Anin mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim sebelum memutar handle pintu dan memegangi kenop pintu dengan penuh keyakinan. Tapi, saking terkejutnya melihat apa yang terjadi di dalam sana sampai-sampai amplop putih yang dipegangnya terjatuh ke atas lantai.
Anindira tergugu dalam tangisnya,ia tidak menyangka jika pria yang sudah menikahinya berduaan dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak dikenalinya itu.
Air matanya menetes tanpa aba-aba itu, ia mengutuk dirinya sendiri yang nekat datang langsung ke kantor tersebut.
"Astagfirullah aladzim, ini tidak mungkin!? pasti aku hanya salah lihat dan salah paham dengan apa yang mereka lakukan, lagian lambat laun juga semua ini akan berlaku dalam kehidupan rumah tangga dan hubunganku dengan Abang Alzam, aku harus sadar diri saya ini dinikahi karena bertujuan untuk memberikan keturunan untuk penerus keluarga besarnya," lirihnya Anin seraya mengelus dadanya yang terasa sakit seolah tertancap puluhan ribu jarum menikam jantung dan hatinya.
"Kenapa aku harus marah dan cemburu bukannya Abang Alzam menikahiku karena dia hanya membutuhkan anak saja, Anindira Mahika sadarlah jika kamu dinikahi karena aku atas dasar perjanjian kelak kamu akan ditendang oleh Alzam setelah melahirkan, jadi kamu tidak boleh bersikap kekanak-kanakan, ini sudah menjadi resikonya menikah dengan Alzam Khaif, jangan perlihatkan sisi lemahmu di hadapan orang lain," gumamnya Anin lalu segera meraih amplop putih yang sempat terjatuh ke atas lantai.
Anindira segera berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu bagian di dalam hatinya. Air matanya berusaha ia tahan agar tidak menetes membasahi pipinya itu.
Amin menyeka air matanya itu yang setetes membasahi pipinya itu, "Saya tidak boleh marah-marah, aku sedang hamil demi kedua buah hatiku saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah yang bergejolak di dalam hatiku, kudu berusaha untuk berdamai dengan keadaan, lagian ini sudah menjadi resiko dari pilihanku sendiri demi kebebasan papa dan bayiku saya akan tegar sekuat karang," gumamnya Anindira.
Anin berjalan tergesa-gesa ke arah luar loby perusahaan,dia sama sekali tidak menggubris sapaan dari beberapa orang yang bertemu dan berpapasan dengannya.
"Papa pasti sudah menunggu lama, aku harus segera datang menjemput papa," gumamnya dengan melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya dimana Aswin Nasution masih menunggu kedatangannya.
__ADS_1
Aswin dengan sigap membukakan pintu mobil untuk istri majikannya itu dengan menyambut Anin dengan senyuman hangatnya. Sedang Anin yang dalam kondisi yang tidak baik sama sekali tidak tersentuh oleh senyuman hangatnya Aswin.
"Non Muda Anin baik-baik saja?" Tanyanya Azwin ketika membuka pintu.
Anindira menatap jengah ke arah Aswin," kamu nanya? Kamu bertanya-tanya!" Ketusnya Anin.
Perkataan Anin yang tak terduga itu berhasil membuat senyuman dari sudut bibirnya Azwin langsung pudar begitu saja.
Aswin menutup pintu mobilnya yang baru dimasuki oleh Anin, "Apa yang terjadi padanya?" Batinnya Aswin.
Aswin hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Anindira. Mobil pun melaju meninggalkan lokasi area rumah sakit milik kakek buyut calon bayinya itu.
"Kenapa banyak orang yang mengumbar kebahagiaan mereka bersama pasangannya, apa mereka pamer pengen mendapatkan pujian dari orang-orang, kalau gini kan jadi kesel jadinya," Anin mendumel kesel dengan hal tersebut.
Anin segera menyimpan hpnya saking kesalnya melihat layar ponselnya itu.
"Non kalau mau juga kenapa enggak buat gituan seperti mereka juga, yang penting jangan membuat postingan yang merugikan dirinya Nona sendiri dan orang banyak itu saja sudah cukup," usulnya Azwin yang melirik sekilas ke arah Anin yang memonyongkan bibirnya yang dilihatnya melalui kaca spionnya.
__ADS_1
"Benar juga apa yang pak Aswin katakan," pungkas Anin.
"Non Muda kalau bisa selama hanya kita berdua saja tidak perlu manggilnya formal dan lengkap seperti itu panggil aku Aswin saja supaya lebih akrab anggap saja aku ini kakakmu," pintanya Azwin.
Anindira menatap intens ke arah Aswin," apa itu enggak apa-apa kalau aku panggil Pak Aswin sebagai kakak saja gitu?" Tanyanya Anin.
Aswin hanya menggeleng kepalanya mendengar pertanyaan dari Anin itu.
"Malah kakak gembira mendengar kamu menyapaku dengan panggilan kakak," ucapnya Azwin yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.
"Okey mulai hari ini, detik ini, menit, jam,minggu dan bulan ini saya janji akan memenuhi permintaanmu," ucap Anindira.
Berselang beberapa menit kemudian, mobil mereka sudah terparkir di depan pintu masuk rumah tahanan kota. Anin tidak sabar menunggu papanya segera terbebas dari hukuman atas kesalahan dan tuduhan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya itu seumur hidupnya.
"Kamu sangat pantas memanggilku kakak karena kamu adalah adikku yang hilang saat kebakaran rumah kita dulu, kamu adalah adikku satu-satunya di dunia ini yang sejak delapan belas tahun yang lalu menghilang ketika kamu berusia kurang lebih dua tahun kala itu, aku sudah memenuhi keinginannya ayah dan bunda Anin, pasti mereka bahagia di atas sana setelah mengetahui jika aku sudah bertemu denganmu," Azwin membatin.
Anin mondar-mandir menunggu papanya tepat di depan pintu khusus keluar narapidana.
__ADS_1
"Kak Aswin kok papaku lama banget yah, apa jadi nggak papa bebas hari ini atau jangan-jangan papa enggak jadi dibebaskan lagi," khawatiran dan kecemasan melanda hatinya itu.
"Kamu harus sabar, insyaAllah pasti bebas kok hari, lagian apa alasannya pihak kepolisian untuk menahan pak Mahendra sedang beliau sama sekali tidak bersalah dan semua bukti sudah membuktikan bahwa beliau sama sekali tidak terbukti bersalah sedikitpun, pengacara keluarga yang ditugaskan oleh Tuan Muda Alzam dan Tuan Besar Mahawira bukanlah pengacara kacang-kacangan," tuturnya Azwin yang berusaha membujuk Anin adiknya yang baru diketahuinya dua minggu lalu.