
Arion segera mengemudikan mobilnya menuju jalan protokol ke kafe tempat kencan buta yang sudah diatur oleh mamanya Bu Regina. Tatapan matanya tertuju pada mobil seseorang yang memasuki lobi perusahaan.
"Dia siapa, kenapa penampilannya dan cara berjalannya seperti aku kenal, iya apa yang aku lihat itu bukan khayalan tapi itu benar-benar Jesika, kalau Abang Alzam tahu entah apa yang akan dilakukannya sedangkan dia sudah menikah dengan Mbak Anindira," cicitnya Arion yang terus memperhatikan gerak gerik seorang perempuan yang sangat jelas dikenalnya.
Jessika Andini adalah mantan kekasihnya Alzam yang sekitar dua tahun lalu putus kontak dengan Alzam. Sedangkan Anindira Mahika Mahendra Siregar adalah masa depannya sebagai istri.
Anin pagi itu sungguh malas untuk bangun dari tidurnya, mungkin pengaruh kehamilannya yang sudah masuk bulan ketiga itu yang membuatnya mengalami ngidam.
Informasi kepulangan Jessica terdengar hingga ke telinganya Alzam. Dia segera memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk mencegah Jessika masuk ke dalam perusahaan,rumah dan apartemennya itu.
__ADS_1
Alzam juga memerintahkan kepada anak buah kepercayaannya, untuk menjaga dan melindungi istrinya agar tidak bertemu dengan mantan kekasihnya itu sekaligus mantan tunangannya itu yang gagal karena Jessika pergi keluar negeri dengan pria lain.
"Sudah jam sepuluh pagi tapi aku tidak ingin pergi dari kamarku, aku ada janji dengan papa soalnya, tapi kalau aku males bangkit dari tempat tidurku," gumamnya Anindira yang kembali menarik ujung selimutnya itu.
Baru sepersekian detik kelopak matanya terpejam, pintu itu terbuka lebar dan masuklah seorang pria yang memakai celemek di tubuhnya itu dengan sebuah nampan yang berada di dalam genggaman tangannya itu.
Wangi aroma masakan yang menyeruak ke udara hingga aroma wangi kelezatannya mampu tercium hingga ke lubang hidungnya Anin.
Anin tidak melihat seorang pun di dalam kamarnya, yang dilihatnya hanya semangkuk bubur ayam yang masih mengepul asapnya itu.
__ADS_1
Anin segera bangkit dari baringnya itu dan menyibak selimutnya. Ia tidak ingin membuat buburnya menunggu terlalu lama sehingga dengan tergesa-gesa ia segera duduk di hadapan meja khusus yang disediakan oleh suaminya itu.
"Alhamdulillah sepertinya hari ini aku akan makan enak terus, kedua calon bayiku pasti sangat bahagia dengan makanan terbaik yang pernah aku nikmati selama Mama meninggal dunia," gumam Anindira.
Semangkuk bubur ayam, stoples kerupuk udang dan juga sambal terasi kesukaannya sudah tercampur di dalam mangkuk putih porselennya.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga makanan ini membuatku semakin bertenaga dan bersemangat untuk menjalani kehidupan sehari-hariku, bayiku juga sehat," lirihnya Anin sembari menyantap makanannya itu dengan lahapnya tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya.
Padahal seseorang tersenyum bahagia melihat reaksinya Anin," Alhamdulillah kamu suka dengan masakanku,besok atau mungkin malam aku akan masakin lagi apa yang kamu inginkan," cicit Alzam yang menutup rapat pintu kamarnya dengan sangat pelan agar kebersihannya tidak diketahui oleh Anindita istrinya itu.
__ADS_1
Anin menyeka peluh keringat bercucuran membasahi pipinya itu. saking enaknya menyantap makanannya itu sampai-sampai melupakan rencana awalnya untuk bertemu dengan papanya Pak Mahendra.