
Anin ngos-ngosan karena terlalu lelah menghadapi permintaan suaminya yang sungguh membuatnya serasa seluruh tulangnya remuk redam.
"Akhirnya aku menjadi istrinya sepenuhnya, semoga aku bisa berbakti kepadanya walaupun pernikahan kami ke depannya sangat singkat, semoga Alzam Khair Mahawira memperlakukan aku selayaknya seorang istri," batinnya Anindira Mahika Mahendra.
Baru sehari usia pernikahan keduanya, tetapi kehidupan rumah tangganya Anindira dan suaminya Alzam begitu romantis dan mesra di depan orang lain terutama di hadapan keluarga besar Mahawira. Bahkan menjadi sorotan publik yang memuja hubungan keduanya.
Pagi buta itu yang baru sekitar jam tiga lewat, Anin hendak membantu beberapa koki di rumah mertuanya itu,tapi niatnya segera dicegah oleh beberapa chef tersebut.
"Nona Muda Anin, tidak perlu repot-repot untuk membantu kami di dapur, ini bukan tugasnya Non Anin, semuanya sudah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing jika Nona menggantikan mereka akan berujung mereka akan dimarahi, diomelin bahkan kemungkinan terburuknya bisa dipecat Non," terangnya Aisyah asisten rumah tangganya itu yang tidak ingin mendapatkan amarah jika mengijinkan jika istri dari pemilik rumah itu bekerja di dapur.
__ADS_1
"Tapi, aku sudah terbiasa bantuin bunda kalau di rumah Mbak," sanggahnya Anindira.
"Saya sangat maklum masalah itu,tapi jika disini itu Nona harus terbiasa tidak boleh menyentuh peralatan dapur apalagi menghirup udara dapur, jika tidak kami akan mendapatkan hukuman yang berat dari Nyonya Besar Fadia," ucapnya Aisyah lagi.
"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Aisyah Nona, mohon pengertiannya dan mulai detik ini nona harus membiasakan diri untuk tidak lagi datang ke dapur dengan tujuan untuk memasak makanan, karena ada kami yang akan melayani Nona Muda," ucap Anita art lainnya yang mendengar percakapan keduanya itu.
"Kalau begitu aku pamit dulu," ujarnya Anin yang berjalan sangat pelan karena masih sesekali mengeluh perih dan sedikit ngilu dibagian sensitifnya itu.
Anin kembali menaiki tangga menuju kamarnya berada, Anin membuka pintu itu dengan memutar perlahan kenop pintunya agar apa yang dilakukannya tidak menggangu kenyamanan dan ketenangan dari suaminya itu.
__ADS_1
Anin melihat suaminya masih terlelap dalam tidurnya itu, dia yang baru beberapa menit lalu sudah membersihkan seluruh tubuhnya itu dengan air hangat. Kemudian mengambil mukenah dari dalam lemari pakaian yang setelah melihat isi dalamnya begitu terkejutnya.
"Ya Allah… siapa yang mengisi lemari ini dengan begitu banyaknya pakaian yang sangat pas untukku dan sesuai dengan model fashion favorit aku," gumamnya Anindira seraya memeriksa beberapa pakaian yang sudah berada di dalam lemari itu dengan tertata rapi.
Begitupun juga dengan lemari yang berisi perlengkapan shalatnya,mulai dari berbagai jenis dan merek mukenah sudah terlipat rapi serta beberapa Al-Qur'an yang tertata rapi di tempatkan paling atas.
"Masya Allah… semuanya sangat lengkap kalau gini bisa-bisa saya tidak akan pernah injak mall, dapur dan pasar lagi, apa begini rasanya kalau hidup dengan suami sultan," imbuhnya dengan tidak terlalu menyukai jika dia hanya berdiam diri dalam rumah saja.
Anin segera mengambil mukenah serta sajadah dan juga Al-Qur'annya itu,ia kemudian menggelar sajadahnya yang senada dengan warna mukenahnya itu dengan warna dominan cokelat,lalu ia duduk dengan tenang kemudian mulai mengaji dengan suara yang begitu merdunya yang mampu membuat Azlam terbangun dari tidurnya dan langsung spontan duduk di atas ranjang king size-nya tanpa suara,hanya menyaksikan apa yang dilakukan oleh istrinya yang baru dinikahinya dalam hitungan jam itu.
__ADS_1