Menikah Karena Perjanjian

Menikah Karena Perjanjian
Bab. 16


__ADS_3

Alzam sudah berangkat ke kantornya dengan berbagai macam alasan dan bujukan yang dikeluarkan olehnya untuk membujuk Anindira istrinya agar segera melepaskan pelukannya.


"Anindira Anulika Mahendra, Abang akan berusaha untuk berikan yang terbaik untuk dirimu, Abang pengen kamu selalu mendampingiku hingga akhir waktuku," Alzam membatin.


Anin pun menatap sendu kepergian suaminya itu," Abang apakah aku boleh egois sedikit saja, saya tidak sanggup untuk berpisah denganmu kurang lebih dua tahun lagi itu, apa aku boleh dan bisa meminta padamu untuk merobek dan membatalkan perjanjian pernikahan kita itu Abang?" Air matanya Anin tanpa terasa menetes tanpa aba-aba langsung membasahi pipinya yang sedikit tembem itu yang sudah membentuk chubby.


Mbak Ririn memperhatikan Tuan Mudanya sudah pergi jauh barulah mendekati Anin, "Non kalau aku perhatiin sudah dua hari ini Non Muda selalu tidak mau berpisah dari Tuan Muda, apa yang terjadi pada Nona sebenarnya?" Tanyanya Mbak Ririn sambil membereskan sisa perlengkapan makan tuannya itu.


Anin segera menengadahkan kepalanya ke arah Ririn asisten pembantunya yang selalu menemaninya jika Alzam pergi keluar daerah atau ke luar negeri dalam rangka pekerjaan.


"Entahlah Mbak aku merasa tidak ingin berpisah dari Abang Alzam, aku sangat suka bau parfum yang dipakai Abang, entah kenapa aku seperti ini padahal biasanya tidak pernah melakukan hal semacam ini juga," balasnya Anin yang keheranan dengan sikapnya sendiri.


"Non kapan terakhir Non datang tamu bulanannya?" Tanyanya balik Mbak Ririn.


Anin yang mendengar pertanyaannya Mbak Ririn spontan mengerutkan keningnya itu.

__ADS_1


"Apa hubungannya tamu bulananku dengan wangi parfum yang dipakai oleh Abang Alzam?" Tanyanya Anindira dengan penuh keheranan.


"Nona Muda sudah menikah dua bulan lebih, biasanya dimasa seperti ini seorang istri kebanyakan akan hamil dan masa ngidam seseorang itu berbeda-beda,apa jangan-jangan Nona sudah hamil lagi?" Ucapnya Mbak Ririn.


Anin pun mengingat hari terakhir dirinya haid, yaitu hari dimana mamanya meninggal dunia dan itu terjadi dua bulan lebih sudah kejadiannya.


"Kalau enggak salah Ingat sewaktu Mama meninggal dunia itu hari terakhir kalinya aku menstruasi, sampai hari ini belum dapat Mbak," jawab Anin yang berusaha mengingat kejadian itu.


Mbak Ririn tersenyum sumringah bahagia mendengar perkataan dan penjelasan dari mulutnya Anindira majikannya yang bagaikan adiknya sendiri itu.


Raut wajahnya Anin bukannya bahagia tapi, langsung berubah sendu, biasanya orang yang mendengar dirinya positif hamil pasti akan kegirangan dan bahagia luar biasa tak terkira.


"Kalau aku hamil berarti hubungan kami akan segera berakhir setelah aku berhasil mendapatkan dan melahirkan anak untuk Abang Alzam," Anin membatin.


Perubahan raut wajahnya yang drastis berubah dari penuh kegembiraan sekarang berubah menjadi sedih dan khawatir yang berlebih.

__ADS_1


"Nona apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Mbak Ririn dengan penuh selidik.


Anin tersentak terkejut mendengar perkataan dari art nya itu,ia terlonjak dari atad kursi yang didudukinya itu.


"Ehh enggak apa-apa kok Mbak, aku akan ke dokter setelah ini dan aku juga mau minta ijin ke penjara karena papaku hari ini bebas dari penjara," kilahnya Anin yang menyembunyikan kenyataan yang terjadi padanya itu.


"Non butuh ditemani atau aku suruh Pak Dodi saja untuk antarin Nona ke rumah sakit dan ke penjara?" Tanyanya Ririn yang masih sibuk membereskan sisa makanan di atas meja sambil sesekali berbincang-bincang dengan Anindira.


Anindira melihat ke arah Mbak Ririn," tidak perlu kamu antar, saya akan pergi sendiri mungkin ditemani Pak Romi saja karena Pak Doni sepertinya yang nganter Abang Alzam," tolaknya Anindira seraya berdiri dari kursinya bangkit dari meja makan untuk berjalan ke arah kamarnya karena akan segera bersiap ke rumah sakit untuk memastikan dugaan keduanya itu.


"Kalau gitu aku samperin pak Romi dulu untuk segera menyiapkan mobil untuk Nona," ucap Ririn segera berjalan terburu-buru ke arah dalam untuk menuju tempat keberadaan supir pribadi milik atasannya itu.


Raut wajahnya Anindira nampak lesu dan tidak bersemangat mengingat tidak lama lagi mereka akan berpisah. Surat perjanjian kerjasamanya sebelum menikah adalah jika Anindira melahirkan anak laki-laki maka mereka sudah resmi bercerai sedangkan kalau anak perempuan bisa memilih apa anaknya dibawa pergi atau tinggal bersama papa kandungnya.


Anin menapaki setiap anak undakan tangga dengan perlahan, "Saya harus bagaimana ya Allah… berarti tersisa sembilan bulan lagi saya akan bercerai dengan suamiku, kebahagiaan ini kenapa terasa singkat banget ya Allah," gumamnya Anin dengan menititkan air matanya yang mewakili perasaannya saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2