
Bu Renata memegangi punggung tangan anak menantunya itu," sayang apa kedua calon cucunya Mama tidak merepotkan kamu seperti papanya?" Bu Renata menyentuh puncak perutnya Anin.
Anindira Mahalika Mahendra diperlakukan seperti itu, sungguh merasa bahagia,nyaman dan hatinya tersentuh dengan perlakuan lembut dari Ibu mertuanya itu.
Anin tersenyum penuh kegembiraan," Alhamdulillah keduanya anteng-anteng saja kok Ma, bahkan selama aku hamil aku tidak merasa kesepian lagi dengan kehadiran keduanya,tapi ngomong-ngomong Mama dengan yang lainnya kok tahu kalau calon anakku kembar? Tahu darimana sih Ma? Padahal hanya aku dan dokter yang tahu kalau calon babyku itu kembar,' tukasnya Anin sambil menautkan kedua alisnya itu.
Hehehe," kamu tidak perlu tahu dari mana dan siapa yang mengatakan semuanya pada kami, karena yang paling penting kami semua bahagia menyambut berita kehamilan anak menantu kami, Iya kan Mbak Regina," imbuhnya Bu Renata mama sambungnya Alzam.
__ADS_1
Anin sesekali mencicipi berbagai buah-buahan yang sudah dikupas bersih dan berada fy dalam mangkuk khusus untuk menaruh buah yang sudah dikupas.
Anin melihat ketiga orang itu dengan bergantian seraya tersenyum sumringah, "Anin bahagia banget melihat mama, Mami, aunty cantik, Nenek juga bahagia dan gembira menyambut kedua anakku, kalau boleh jujur nih Anin pengen nangis gara-gara teringat dengan bunda kalian mengingatkan aku dengan almarhumah Bunda yang sudah tenang di alam sana," ucapnya Anindita yang menitikkan air mata kesedihan sekaligus kebahagiaannya itu.
Ketiga perempuan paruh baya tersebut yang masih cantik dan nampak awet muda itu saling berpelukan memeluk tubuhnya Anin dengan ikut menangis tersedu-sedu.
"Ya Allah… cucu mantu jangan seperti ini lagi,kamu itu tidak seorang diri,kami selalu mendukung, membantu dan menjagamu berada disampingmu mendampingimu hingga nanti, jadi jangan sekali-kali lagi bersedih dan menganggap kamu itu seorang diri di dunia ini, yang perlu kamu lakukan adalah kamu fokus dengan kehamilanmu tidak ada perlu kamu khawatirkan," ujarnya Bu Liviana Alexander Dirgantara neneknya Alzam.
__ADS_1
Lima bulan kemudian…
Anindira menjalani kehamilannya dengan cukup berat pasalnya dia hamil anak kembar. Tapi, walaupun begitu dia tetap berusaha untuk tenang, iklhas, tulus dan sabar menghadapi persalinannya yang tersisa menghitung hari saja.
Pagi ini Alzam kembali memasak makanan yang khusus diminta oleh Anindira pagi itu sebelum berangkat ke kantornya. Anin sudah mengetahui siapa orang yang membuat bubur ayam spesial untuknya beberapa bulan lalu.
Siapa lagi kalau bukan Alzam Kheiz Hanif Dirgantara. Pria yang rela melakukan apapun selama itu untuk istri dan kedua calon anaknya yang sudah diketahui jenis kelaminnya yaitu perempuan dan laki-laki.
__ADS_1
Hanya saja mereka belum yakin siapa yang akan duluan brojol dan nongol minggu depan sesuai dengan prediksinya dokter kandungan yang selalu menangani kesehatannya Anin selama masa kehamilannya itu.
"Abang apa kerjaannya lancar? Ngomong-ngomong apa Papa sudah bisa menyesuaikan diri dengan kantornya Abang?" Tanyanya Anin seraya menikmati lezatnya kerupuk udang goreng yang sudah berada di dalam toples plastik berwarna ungu itu dengan lahapnya tanpa mengindahkan peringatan dari Alzam untuk berhenti mengunyah makanannya karena sudah belepotan.