
Dokter pun bertanya beberapa hal mengenai kapan terakhir Anidira mendapatkan tamu bulanannya itu. Beliau juga bertanya mengenai apa yang dirasakannya dalam beberapa hari belakangan ini.
Anindira pun menceritakan apa yang terjadi padanya lengkap tanpa menutupi sedikitpun apa yang dialaminya beberapa minggu belakangan ini.
"Suster tolong ambilkan alat tes pack ke sini lengkap dengan fasilitas lainnya," perintahnya dokter Margaretha Sungkar.
Suster segera melaksanakan perintahnya dokter kandungan itu kemudian berjalan kearah lemari, tempat dimana perlengkapan dan peralatan medis disimpan.
"Ini dokter alat yang Anda minta," ucapnya Perawat tersebut sambil menyodorkan sebuah taspack dengan kualitas terbaik dan wadah untuk menampung air seninya atau urine nya Anin nantinya.
"Nona Muda silahkan melakukan tesnya untuk mengetahui apakah hasilnya positif atau negatif dan caranya akan dijelaskan oleh suster," imbuhnya Dokter Margaretha.
"Siap Dok!" Timpalnya perawat tersebut.
Amin pun mengikuti langkah kakinya perawat itu kedalam kamar mandi yang khusus disediakan untuk Ibu hamil. Anin menjalankan apa yang disarankan dan diperintahkan oleh suster itu dengan penuh kelembutan dan hati-hati agar Anin merasakan kenyamanan.
"Sudah ada hasilnya Bu,"
__ADS_1
"Jadi hasilnya bagaimana Sus?" Tanyanya penuh selidik yang harap-harap cemas dengan hasilnya.
"Saya tidak punya wewenang dan hak untuk menjelaskannya Nona Muda sebaiknya Anda bertanya ke dokter saja insya Allah… dokter akan menjelaskan secara detail apa yang Anda ingin ketahui," pungkas perawat itu.
"Ooh gitu yah, maaf kalau sudah merepotkan sus," imbuhnya Anin.
"Tidak apa-apa kok Non, itu hal yang wajar terjadi insyaallah semuanya baik-baik saja, jadi Anda tidak perlu khawatir dan merisaukan semuanya Non," ucap Suster.
"Alhamdulillah kalau seperti itu adanya,"lirihnya Anin yang sebenarnya sangat penasaran dengan hasil tesnya.
Anin kembali duduk di hadapan dokter Margaretha, dokter pun melihat hasil tes tersebut dengan tatapan matanya yang sulit untuk diartikan.
Anindira menyambut hangat uluran tangannya Dokter dengan penuh kegembiraan.
"Serius Dokter saya hamil?!" Tanyanya Anin yang tidak mempercayai penjelasan dari dokter.
Dokter menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari Anin itu, "Iya kamu positif hamil, kalau begitu ikut saya ke tempat itu agar kamu bisa melihat kondisi bayimu," pinta Dokter.
__ADS_1
Anin tersenyum bahagia mendengar perkataan dari dokter tersebut, Anin segera mengikuti langkah kakinya dokter Margaretha. Senyuman selalu tersungging dari sudut bibirnya itu.
"Ya Allah… akhirnya saya hamil juga semoga Abang Alzam bahagia mendengar berita ini," gumamnya Anindira.
"Silahkan berbaring di atas ranjang, karena saya akan memperlihatkan kepadamu bentuk bayi yang sudah berada di dalam rahimku selama dua bulan ini," jelas Dokter.
Anin sudah berbaring di atas ranjang dengan melaksanakan arahan dari dokter kandungan. Anin menyingkap sedikit pakaiannya ke atas dengan malu-malu dan seperti enggan. Dokter Margaretha tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Anin.
"Tidak perlu malu-malu dan risih kok, kita hanya bertiga di dalam sini lagian kami semua ini sama-sama perempuan, hal ini wajar saja terjadi selama beberapa bulan kedepannya selama kamu hamil," tuturnya dokter yang tersenyum simpul menanggapi sikapnya Anin yang malu-malu karena memperlihatkan perutnya bagian daerah tubuhnya yang tertutupi setiap harinya.
Anin hanya tersenyum menanggapi perkataan dari dokter," maafkan saya dokter sudah menganggu pekerjaannya dokter," sesalnya Anin.
"Tidak apa-apa kok, wajar kok kamu seperti ini lagian saya tidak mempermasalahkannya,santai saja karena ibu hamil harus selalu enjoy santai dan tidak boleh banyak pikiran apalagi sampai tertekan dan stres itu sangat berbahaya untuk calon bayimu dan juga untuk kamu," terang Dokter Margaretha sembari mengoleskan gel ke atas perutnya Anin yang sedikit buncit padahal baru trisemester pertama itu.
Dokter segera mengoleskan gel khusus ke atas perutnya Anin dan mengarahkan sebuah benda khusus, hingga nampak lah bentuk calon bayinya Anindira.
"Woooo ternyata calon bayimu bukan hanya satu loh tapi,dua calon baby yang masih sangat kecil banget," ujarnya Bu dokter yang mengamati dengan seksama ke layar komputernya.
__ADS_1
Anin segera mengalihkan perhatiannya ke arah layar komputer dengab penuh rasa penasaran. Anin menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang dijelaskan oleh dokter jika dirinya dipercaya oleh Allah SWT untuk dititipkan dalam rahimnya dua langsung calon bayi.
Anin sangat sumringah bahagia dan saking bahagianya sampai-sampai dia terharu dan meneteskan air matanya, "Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… aku sangat bahagia menyambut berita gembira tersebut,"