
Anindira ketika pulang dengan terburu-buru dari depan kantor suaminya itu tidak menyadari jika dia menjatuhkan satu amplop putih yang berisi foto USG kedua bayi kembarnya.
Alzam yang kebetulan hendak berjalan ke arah pintu segera dicegah oleh asisten pribadinya, karena melihat sebuah benda berbentuk persegi panjang berwarna putih tergeletak di atas lantai keramik.
"Tuan Muda Alzam stop!" Cegahnya Aulian Mahesa.
Alzam spontan menghentikan laju langkah kakinya karena mendengar teriakan dari Aulian sang anak buah kepercayaannya itu.
Alzam menatap intens ke arah Aulian,"ada apa!? Kenapa meski berteriak segala!" Ketusnya Alzam yang tidak menyukai jika dia sedang berjalan tapi ada orang yang mencegah kegiatannya itu.
Aulia segera membungkukkan badannya dan berusaha untuk mengambil benda yang sejak tadi tergeletak di atas lantai.
"Maaf Tuan Muda saya melihat ini, mungkin bisa jadi amplop ini sangat penting untuk seseorang tapi, terlupakan karena terjatuh tanpa sepengetahuan dari orangnya," imbuhnya Aulian seraya menyodorkan benda tersebut ke hadapannya Alzam.
__ADS_1
Biasanya Alzam tidak akan peduli dan menggubris masalah seperti ini, tetapi kali ini begitu tertarik bahkan kepo dan penasaran dengan apa isi dari dalam amplop putih itu.
Alzam segera membuka amplop itu dengan tatapan matanya yang terkesan sulit untuk diartikan. Betapa terkejutnya setelah memeriksa dengan seksama dan teliti apa yang tertulis di atas foto itu. Aulian terkejut melihat sepintas isi foto itu yang berupa tes USG kehamilan.
"Foto USG!" Beonya Aulian.
"Aulian lanjutkan meeting kita bersama klien dari Inggris, saya ada urusan yang sangat penting untuk saya lakukan," ucap Alzam kemudian segera melangkahkan kakinya menuju lift khusus petinggi perusahaan.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa raut wajahnya sangat serius seperti itu,apa aku harus menyampaikan hal ini kepada Abidzar mungkin aku bisa mengorek informasi dari dia," cicitnya Aulian.
Alzam sangat terkejut sekaligus bahagia dan juga gembiranya melihat tulisan yang tertera di atas kertas tersebut.
"Syukur Alhamdulillah… akhirnya istriku hamil juga, yang paling membuat aku bahagia ketika aku membaca tulisan tersebut istriku hamil anak kembar, aku sangat bahagia banget, aku harus menemui Anin dan menanyakan perihal tersebut, Kakek dan nenek pasti sangat bahagia jika mereka mengetahui akan memiliki dua cicit sekaligus dariku," gumamnya Alzam dengan langkah kakinya yang cukup panjang dan lebar itu menapaki setiap lantai keramik yang dilaluinya.
__ADS_1
Air matanya tanpa disadarinya menetes saking bahagianya mengetahui jika istrinya telah hamil.
"Saya harus segera membatalkan perjanjian kesepakatan kami sebelumnya, saya tidak ingin gara-gara itu Anin tertekan dan stress memikirkannya apalagi, Istriku sedang hamil,"lirih Alzam sambil mengendarai mobilnya menuju ke apartemennya itu.
Sedang di tempat lain, Anindira dan papanya pak Primus Mahendra segera meninggalkan lokasi penjara tempat beberapa bulan yang menjadi saksi bisu dari keterpurukannya seorang pria yang bernama Primus Mahendra.
Pria yang terpaksa masuk ke dalam buih, karena akibat jebakan dan ulah dari adik sepupunya sendiri. Pak Primus dijebak melakukan korupsi uang milyaran dari kantor instansi pemerintah yang ditempatinya bekerja selama beberapa tahun terakhir ini.
Mereka sudah berada di dalam mobil dan menuju rumah lamanya itu, rumah dimana dahulunya berisi lima orang, yaitu mamanya dan kedua kakaknya. Sekarang rumah itu sepi tanpa penghuninya seorang pun.
Mamanya Anin sudah meninggal dunia sejak mengetahui suaminya tertangkap basah melakukan tindakan kejahatan yang sengaja dituduhkan kepadanya untuk mengusirnya dan menjauhkannya dari posisi puncak kepemimpinan di kantor tempatnya bekerja selama hampir tiga puluh tahun itu.
"Papa menurut aku nama baik papa harus segera dibersihkan dan dipulihkan terlebih dahulu, saya tidak suka jika kejahatan dan kesalahannya paman selalu menghantui dan membayangi kehidupan papa," usulnya Anin yang sangat berharap akan hal itu.
__ADS_1