
"Apakah saya patut bersyukur dan bahagia dengan semua kebahagiaan yang Engkau berikan padaku? Tapi aku tidak mungkin kufur nikmat ya Allah… aku tidak memungkiri jika aku gembira berbaur dan berkenalan serta bertemu dengan keluarganya Alzam, aku akan memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya walaupun hanya tersisa kurang lebih dari dua tahun lagi kami akan bercerai, tapi aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Abang Alzam," tekadnya Anindira yang sejak tadi menatap ke arah luar jendela mobil suaminya itu.
Alzam diam-diam sesekali melirik ke arah apa yang dilakukan oleh Istrinya itu.
"Apa yang dipikirkannya,sedari tadi terus menerus menatap ke arah luar? Semoga saja tidak berfikiran untuk kabur dari sisiku sebelum kami punya anak," batinnya Alzam.
Dua bulan kemudian, hubungan yang terjalin antara Alzam dengan Anindira dari luar nampak seperti pasangan suami istri pada umumnya yang bahagia penuh kebahagiaan.
Pagi itu Alzam masih berada di dalam kamar mandi, sedangkan Anindira menyiapkan beberapa keperluan kantor suaminya mulai dari pakaian stelan kerja, sepatu, pakaian paling dalam dan juga isi dari tas kerja suaminya. Setiap hari Anindira selalu melakukan hal-hal semacam itu, agar suaminya lebih cepat berangkat kerjanya.
Alzam pun tidak menginginkan ada orang lain yang mengurusi semua itu,sejak dulu ia tidak ingin apapun barang penting miliknya tidak ingin disentuh oleh sembarang orang. Hanya Mama sambung dan bundanya yang berhak memegang dan menyentuh barang-barangnya, adik kembarnya saja tidak diijinkan.
Alzam berjalan ke arah dalam kamar gantinya dan kembali tersenyum melihat semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Ia sangat bahagia karena semua yang disediakan istrinya itu selalu disukainya sesuai dengan keinginannya dan gaya berpakaiannya itu.
Anin duduk di depan meja riasnya untuk memoles wajahnya dengan make up minimalis seperti dalam kesehariannya. Alzam yang memakai handuk sebatas pinggangnya saja, hingga dada sispack nya terekspos lebih jelas dan nampak di depan matanya Anin melalui kaca cermin meja riasnya itu.
Anindira kesusahan menelan air liurnya sendiri, karena melihat bentuk tubuh suaminya itu dengan beberapa tetesan air sisa dari bekas mandinya itu.
"Ya Allah… nikmat mana lagi yang aku dustakan, nggak salah kan kalau mengangumi keindahan dari bentuk tubuh suami sendiri," gumam Anindira.
__ADS_1
Anin tersenyum melihat kedatangan suaminya, Anin segera menyelesaikan riasannya itu. Hendak berdiri dari posisi duduknya, tetapi segera dicegah oleh Alzam.
Alzam memeluk tubuh Anin dari arah belakang dengan penuh erat, "Kamu tetap duduk saja sayang, Abang ingin memeluk kamu seperti ini beberapa saat saja," pintanya Alzam yang memeluk tubuh istrinya dari arah belakang dengan penuh kasih sayang.
Alzam menghirup wangi aroma bau shampo dan parfum dari tubuhnya Anin, Alzma mengendus wangi aroma dari tubuhnya Anindira.
"Kamu wangi banget sayang, aku sangat suka dengan wangi tubuhmu ini, kenapa dari hari ke hari aku semakin saja suka sama kamu, apa jangan-jangan kamu melakukan sesuatu hal yang membuat aku semakin mencintai dan menyayangimu istriku," imbuhnya Alzam yang salah satu tangannya membuka laci meja riasnya Anin.
Anin hanya tersenyum menanggapi perkataan dari suaminya itu dengan raut wajahnya yang memerah merona saking bahagianya diperlakukan spesial oleh suaminya itu. Bahkan hampir setiap hari Anindira selalu diperlakukan begitu lembut dan romantisnya dari Alzam yang kadang membuatnya terlena dengan sanjungan, perhatian dan kelembutan kasih sayang dari suaminya itu hingga membuatnya sering melupakan keberadaan surat perjanjian kerjasama pernikahan keduanya.
Alzam membuka sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang yang berwarna biru tua itu. Alzam membuka kotak itu lalu mengambil isi dari dalam kotak itu. Alzam segera menyingkirkan anak rambutnya Anin yang menghalangi leher jenjang putih mulusnya Anindira.
Anin yang merasa ada sesuatu benda yang melingkar di lehernya yang terasa dingin yang menyentuh lehernya yang tidak terpasang apapun itu. Anin memegangi benda itu yang sudah terpasang cantik yang melingkar begitu indahnya dan sangat cocok di pakai oleh Anindira.
Alzam menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulut istrinya itu," apa kamu menyukainya?" Tanyanya Alzam.
Anin tanpa banyak pikir segera menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dan antusias wajahnya berseri-seri gembira karena mendapatkan hadiah spesial dari suaminya itu.
"Alhamdulillah makasih banyak suamiku, tapi ngomong-ngomong ulang tahunku sudah lewat tiga bulan lalu, ulang tahun pernikahan kita juga masih lama Abang," tampiknya Anin yang kebingungan maksud dari kado istimewa dari suaminya itu.
__ADS_1
"Apa kamu harus ulang tahun dulu baru bisa berikan kamu hadiah, saya hanya menjalankan perintah berupa sunnah Rasulullah SAW saja, itu alasannya Abang," jelasnya Alzam seraya mengecup puncak rambut panjang hitam legam milik Anindira.
"Sunnah Rasul?" Beonya Anin.
"Yoi tepat sekali, katanya Rasulullah SAW saling memberi hadiah lah engkau agar kamu dengan yang lainnya semakin saling mencintai, setahu aku seperti itu kalau lebih jelasnya tanya ibu-ibu di tempat pengajian kamu saja, karena saya hanya memberikan kamu hadiah karena kamu adalah wanita yang sangat spesial dan paling penting dalam kehidupannya Abang, dan satu hal lagi karena kamu adalah istriku apa alasan itu sudah cukup mampu membuat kamu puas dan tidak penasaran lagi," terangnya Alzam panjang lebar.
Anin spontan membalik tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan dan bertatapan satu sama lainnya. Anin memegangi kalungnya itu dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Anin mengecup sekilas pipinya Alzam bagian kanannya," ini hadiah khusus untuk Alzam Khair Mahawira karena sudah memberikan senyuman kebahagiaan untukku setiap hari bahkan setiap saat," ucapnya Anin.
Anin kembali mengecup sekilas pipi kirinya Alzam dengan penuh kelembutan sedangkan Alzam yang masih dalam posisi membungkuk merasakan kebahagiaan atas imbalan sikap dari perempuan yang sudah mulai dia cintai walaupun baru sekitar kurang lebih dua bulan itu.
"Ini untuk pria yang sudah menjadikan aku pasangan hidupnya dan menghalalkan aku untuk mendampingi hidupnya, makasih banyak atas segalanya suamiku ," Anin membuat Alzam klepek-klepek dengan sikapnya Anin.
"Alhamdulillah kalau seperti ini Abang akan usahakan berikan hadiah setiap hari agar aku mendapatkan hal semacam seperti ini," pungkasnya Alzam.
Anin masih melingkarkan tangannya di lehernya Alzam sedangkan Alzam memegangi ujung meja riasnya Anin, "Jangan Abang entar lemariku dan kamar kita ini akan dipenuhi barang-barang pemberian Abang dan juga akan membuat bangkrut nantinya, aku enggak mau itu gimana dengan nasib masa depan anak-anak kita kelak Abang," tampiknya Anin dengan raut wajahnya yang mulai nampak khawatir.
Alzam tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari mulut istrinya itu, Anin keheranan melihat reaksinya Alzam suaminya itu.
__ADS_1
"Kok ketawa!? aku malah serius loh dengan perkataan ku Abang Alzam Khair Mahawira," ketusnya Anin.
"Lucu banget menurut Abang sayangku, kamu tidak perlu merisaukan masalah semua itu, insha Allah… semua tidak akan habis sampai tujuh turunan walaupun setiap hari aku beliin kamu hadiah lebih mahal dari ini," ujarnya Alzam penuh kesungguhan dan keseriusan.