
Alzam menatap penuh takjub ke arahnya Anindira yang sangat khusuk melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Aku kira perempuan yang bernama Anindira Mahika Mahendra, seperti perempuan kebanyakan di luar sana yang melakukan segala cara demi impiannya, semoga saja kedepannya kamu akan seperti ini," gumamnya Alzam yang kembali memejamkan matanya ketika tanpa sengaja melihat Anin menatap ke arahnya juga.
Satu minggu kemudian, Alzam meminta ijin kepada kedua orang tuanya dan juga kakek neneknya untuk kembali tinggal bersama istrinya di apartemennya itu. Dia tidak ingin jika perjanjian pra nikahnya ketahuan oleh keluarga besarnya itu.
"Ma, aku akan memboyong istriku ke apartemenku, kalau dari sini sepertinya aku cukup kelelahan harus bolak balik ke kantor dengan rumah yang jaraknya cukup jauh sedangkan kalau di apartemen hanya butuh waktu lima belas menit saja sudah sampai kantor," ujarnya Alzam ketika mereka sedang makan sahur bersama.
Bu Karina menatap ke arah suaminya terlebih dahulu sebelum menatap ke arah putra sambungnya itu.
"Wooo baru sehari kakak ipar sudah mampu merubah kebiasaan jeleknya Abang Alzam, semoga aku juga kelak dapat istri yang seperti modelnya Mbak Anin," ucapnya Arion Khaizan yang tersenyum penuh arti ke arah abangnya itu.
"Tumben anak ini pamitan? Biasanya main angkat barang saja tanpa pamit, apa ini semua karena istrinya yang sudah membawa dampak baik dan pengaruh positif dalam kehidupan putraku," imbuhnya ibu Karina.
Perkataan Nyonya kedua di dalam kediaman utama keluarga besar Wirawan membuat semua orang yang duduk di depan meja makan menghentikan kunyahan makanannya mereka masing-masing.
"Karina anakmu sungguh beruntung banget dapatkan istri yang sholehah, semoga saja anak bujangku juga segera dapat jodoh sekurang-kurangnya seperti Anindira, karena tidak mungkin ada perempuan yang sifat dan karakternya sama persis, setidaknya mirip Anin saja itu sudah beruntung anak tengik ini dapat jodoh," pungkasnya Bu Kania maminya Arion.
"Bukannya anak kita besok kamu sudah atur pertemuannya dengan anak dari salah satu teman arisanmu?" Tanyanya Khalif Gusman kepada istrinya itu.
"Ya Allah… astagfirullahaladzim hampir saja Mami melupakan semua itu, Arion kali ini jangan permalukan Mami sudah mengatur segalanya dan Mami yakin kamu tidak akan kecewa dengan perempuan yang Mami kali ini jodohkan denganmu, karena dia tidak seperti gadis-gadis sebelumnya yang Mami kenalin," jelasnya Bu Kania kepada semua orang khusus putra pertamanya dari pernikahan pertamanya itu.
Nyonya Kania sama sekali belum pernah melihat gadis itu hanya saja dari mama gadis itu dia mengetahui informasinya.
__ADS_1
"Iya mami saya pasti akan menemui gadis itu, aku juga akan menikahinya sesuai dengan keinginannya Mami,apa Mami sudah bahagia dan puas!?" Ketusnya Arion.
Bu Kania tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya anaknya juga akan menikah.
"Syukur Alhamdulillah," ucapnya Bu Kania.
"Alzam silahkan kamu pindah Nak, Nenek sama sekali tidak akan mencegah kamu untuk pergi dari sini," imbuh Bu Fadia neneknya Alzam.
"Kalau Mama gimana, apa setuju dengan permintaan kami ini?" Tanyanya Alzam yang menatap intens ke arah mamanya perempuan yang sudah berjasa besar membesarkannya.
Bu Karina memegangi tangan kirinya Alzam, "Insha Allah… Mama akan mengijinkan kamu pergi yang paling penting demi kebahagiaanmu, memangnya mama selama ini setiap kali menginginkan sesuatu mama pernah nentang atau memaksakan kehendaknya kepadamu, enggak kan? Mama itu yang paling penting kau bahagia itu sudah cukup bagiku," tampiknya Bu Karina yang walaupun hanya mama sambungnya Alzam tetapi sungguh perhatian yang diberikannya itu tulus dan ikhlas seperti layaknya ibu kandungnya.
"Makasih banyak Mi, atas pengertiannya," timpalnya Alzam.
"Apakah aku patut bersyukur dengan sikap mereka sedangkan kami hanya menikah karena perjanjian saja dan pernikahan ini hanya menghitung hari saja semuanya akan berakhir dengan tanpa hubungan apapun dari kami," Anin membatin.
"Hemph, kalau seperti itu jangan lupa setiap akhir pekan kalian harus datang berkunjung kemari, karena kakek sudah jatuh cinta dengan kopi buatannya Anin yang begitu enak," ucapnya Pak Wirawan Mahawira yang memuji kopi buatannya Anin padahal baru tiga kali dibuatkan kopi.
"Insya Allah kek, saya dan istriku akan sesekali berkunjung ke sini jika ada waktu luang, saya mewakili istriku untuk mengucapkan makasih banyak atas pujiannya, aku yakin Istriku pasti sangat bahagia," ujarnya Alzam sambil meraih tangannya Anin lalu kemudian mengecupnya dengan penuh kelembutan.
Anindira yang diperlakukan seperti itu tersenyum simpul dengan wajahnya yang sudah memerah bushing saking terkejutnya dengan aksi suaminya yang mempertontonkan kemesraan keduanya.
Andra yang kebetulan melihat apa yang mereka lakukan, akhirnya buka suara juga," ya elah… itu pengantin barunya nunjukin kemesraannya di depan kami para pria jomblo, kalian apa sengaja melakukan hal ini," candanya Andra.
__ADS_1
"Makanya cepetan nikah sana agar kamu tidak jadi bujang lapuk,kakek juga ingin melihat anakmu kelak," ujarnya Pak Mahawira yang sesekali mengunyah makanannya sambil ikut berbincang-bincang santai dengan anak menantu dan cucunya itu.
"Alzam nenek punya ini sebagai hadiah pernikahan kalian berdua dan Nenek tidak ingin mendengar bantahan dan penolakan dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal," tegasnya Bu Fadia sembari menyodorkan sebuah amplop putih ke hadapannya Anindira bukan kepada Alzam sedangkan Alzam lah yang beliau temani berbicara saat itu.
Anin menatap ke arah suaminya itu untuk meminta persetujuan dari Alzam sedangkan yang ditatap hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengiyakan permintaannya Anin lewat arti tatapan matanya itu.
Anin pun segera menyambut benda berwarna putih itu dan berbentuk persegi panjang dengan sedikit ragu, bimbang dan penasaran apa isi du dalamnya. Anin membuka amplop putih itu dengan mengucapkan basmalah terlebih dahulu.
"Bismillahirrahmanirrahim," cicit Anindira.
"Aku yakin itu pasti sebuah kartu ATM atau mungkin hadiah pernikahan kami berupa kunci rumah atau mungkin mobil," bathinnya Alzam menebak isinya dalam amplop tersebut.
Anin membaca tulisan yang tertera dari atas kertas yang dipegangnya," tiket ke Newzealand," beonya Anin yang tidak mengerti dengan arti tiket itu lengkap dengan akomodasi dan fasilitas penunjang lainnya untuk berangkat ke sana.
"Maksud ini apa Nek?" Tanyanya Alzam penuh selidik.
"Nenek ingin kalian berdua berbulan madu agar istrimu bisa santai, bahagia dan rileks, jadi kamu bisa secepatnya dapat baby, itu tujuannya Nenek tidak lebih," ungkapnya Nyonya Besar Fadia.
Alzam dan Anin tidak mungkin menolak keinginan neneknya jika tidak akan berabe dan urusannya bakal berujung ribet dan penuh perdebatan. Jalan satu-satunya adalah menuruti dan manut dengan semua itu.
Keesokan paginya, Anindira dan Alzam sudah pulang ke apartemennya. Di sana mereka tidak perlu hidup berpura-pura sebagai pasangan suami istri yang harmonis bahagia sakinah mawadah warahmah.
"Alhamdulillah akhirnya terbebas juga dari tatapan mata mereka yang sungguh membuatku tidak bisa percaya diri dan bebas bergerak, seolah saya bagaikan patung saja," gumamnya Anin yang menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan pula.
__ADS_1