Menikah Karena Perjanjian

Menikah Karena Perjanjian
Bab. 9


__ADS_3

"Cucunya kakek, kenapa meski pernikahannya ditutupi segala,kalau memang kamu tak mau menikah dengan Ameera kamu katakan saja pada kami dan berbicara jujur jika kamu sudah punya calon istri yang begitu cantiknya," tutur Pak Mahawira.


"Pantesan kau kurus sayang,lihat Mama sama nenek dan juga Aunty Karina, sudah tua tapi berat badan kami terjaga dengan baik, jadi mulai detik ini kamu harus menyesuaikan diri agar body kamu lebih bahenol dan hot," jelasnya Kania.


"Maafkan Aunty Kania memang gitu sifat aslinya selalu mengomel jika ada yang tidak menjaganya bobot tubuhnya itu," pungkasnya Arion.


"Iya Nak,apa yang dikatakan oleh Kakekmu benar adanya,niat kami itu mencarikan kamu itu jodoh, karena kami sudah sangat ingin menimang cucu dari kamu, lihat usia kami sudah tua kami berkeinginan agar diusia senja kami ini sudah banyak cucu yang menemani masa tua kami, untuk Arion dan Alvaro juga kapan kalian nyusul Alzam,kami sudah tidak sabar menunggu kalian punya istri dan anak, anggap saja ini permintaan nenek yang terakhir kalinya pada kalian," ujarnya Bu Fadia yang memperlihatkan wajah sendunya itu.


"Mama, insya Allah saya akan memaksa putraku itu untuk segera menikah jika dia terus menolak jangan salahkan saya jika akan menjodohkannya dengan anak dari teman arisanku," ungkap Bu Karina yang tidak mau kalah dengan kakak iparnya yang sudah memiliki anak menantu.


"Itu ide yang sangat bagus istriku, kalau bisa besok kamu perkenalkan mereka dan kalau perlu atur secepatnya pertemuan mereka hingga mereka saling kenal satu sama lainnya dan saya ingin bulan ini Arion juga menikah," imbuhnya Pak Khanif papi sambungnya Arion yang.


"Kalau Andra bagaimana,apa kamu tidak berniat untuk menyusul mereka Nak?" Tanyanya Pak Khair papanya Alzam sekaligus teman dekatnya ayahnya Andra Ramadhan.


Andra segera mengalihkan perhatiannya dari piringnya dan sekilas menatap ke arah Ayunda sebelum menjawab pertanyaan dari pamannya itu.


"Insya Allah secepatnya Paman,hanya saja gadisku pengennya selesaikan dulu kuliahnya sebelum melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius," jelasnya Andra yang membeberkan rencananya.


Anin dan Alzam hanya terdiam dan sesekali menatap mereka yang mengeluarkan suaranya itu.

__ADS_1


"Ya Allah… kenapa sampai aku melupakan masalah malam pertama kami, karena tujuan yang sebenarnya kami menikah adalah harus memiliki anak laki-laki dalam jangka waktu dua tahun setelah itu kami akan bercerai,tapi yang jadi masalah apa aku bisa melalui malam panjang kami nantinya," bathin Anindira yang terdiam sesaat memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Kenapa gadisnya harus ngulur waktu segala, padahal menikah itu bisa terjadi dan dilakukan walaupun masih kuliah seperti halnya Anin,dia juga masih kuliah kok," cercanya Bu Fadia.


Alzam pun angkat bicara masalah tentang pendidikan istrinya itu," kalau Anin saya memerintahkan kepadanya untuk off atau cuti kuliah dulu nanti anaknya besar kemudian hari baru lanjut kuliah," ungkap Alzam.


"Itu ide yang bagus juga sih, karena menurut Tante setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan, pasti akan berakhir dan berujung di dapur,kamar dan ranjang, iya ga Kania," ucap Karina sambil menatap ke arah Kania yang seperti sedang banyak pikiran.


"I-tu benar sekali, saya secara pribadi tidak terlalu memusingkan pendidikan dan status anak menantuku karena menurut aku yang paling penting mereka bahagia dan memberikan aku cucu yang sehat, pintar dan banyak itu lebih dari cukup," tukasnya Kania.


Mereka kembali melanjutkan acara buka bersama mereka tanpa ada lagi yang berbicara untuk meramaikan acara tersebut di malam pertama di bulan suci ramadhan.


"Jujur saja saya kadang cemburu dengan rekan bisnis yang setiap kali bertemu pasti akan berakhir dengan perbincangan cucu mereka, kapan aku juga seperti mereka," ucapnya Khanif yang berharap penuh kepada anaknya yaitu Arion dan anak kandungnya Advika yang masih berada di luar negri," ucap pak Khanif suaminya Bu Karina.


Buka bersama pertama kalinya di bulan suci ramadhan itu sungguh berbeda yang dirasakan oleh segenap keluarga besar dari keluarga Mahawira dan terutama untuk Anindira Mahika yang pertama kali dalam hidupnya berbuka tanpa sosok Mama dan papanya.


Anin berusaha untuk tersenyum walaupun dalam hatinya merasakan kesedihan, untuk pertama kalinya pula harus hidup berjauhan dengan kedua kakaknya dan juga papanya, sedangkan Mamanya sudah meninggal dunia karena mengalami serangan jantung.


"Keluarga mereka kaya, tapi kehangatan dan kebersamaan jelas terlihat dari raut wajah mereka semua, pasti Tuan Muda Alzam sangat dicintai dan disayangi dalam keluarganya ini," batinnya Alzam.

__ADS_1


Alzam sebenarnya cucu tunggal di dalam keluarganya, sedangkan Arion Khaizan adalah anak sambung dari adik ayah kandungnya Alzam.


"Anin makan yang banyak Nak, malam ini adalah malam pertama kalian berdua dimana pasti butuh tenaga yang cukup banyak pula," ujarnya Bu Fadia Nenek kandungnya Alzam seraya mengisi beberapa potong daging sapi ke atas piringnya Anin.


Apa yang dikatakan oleh Nyonya Besar itu membuat kedua pasangan suami istri sampai terbatuk-batuk bersamaan.


"Uhuk-uhuk,"suara batuk Anin dan Alzam yang kompakan.


Bu Karina tersenyum simpul," ya Allah… dua pengantin baru kita begitu kompaknya, terbatuk-batuk saja bersamaan," candanya maminya Arion.


"Betul sekali adik ipar yang kamu katakan, mereka sungguh romantis sampai hal terkecil semacam ini mereka seolah janjian dan memperlihatkan kekompakannya, menurut aku mereka sungguh kompak," sahutnya Bu Kania Ibundanya Alzam.


"Kami yang tua ini jadi iri melihat mereka berdua yang begitu besar rasa cintanya yang ditujukkan oleh mereka Mas Khair," imbuh Bu Kania yang turut bahagia melihat kebahagiaan dan keromantisan anak sambungnya itu.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah bubar dan menunggu waktu shalat isya bersama. Mereka sudah berjanji akan melaksanakan shalat tarawih berjamaah dengan masjid terdekat di sekitar kompleks perumahan mewahnya.


Alzam begitu khusyuk mendengarkan ceramah tauziah agama Islam yang dibawakan oleh ustadz terkenal malam itu. Anindira menitikkan air matanya ketika mendengarkan ustadz menceritakan tentang kisah seorang Ibu yang berjuang untuk mencari sesuap nasi untuk santap makan sahur mereka.


Beberapa orang yang mendengar kisah itu, membuat suasana cukup haru malam itu. Penceramah itu membuat semua orang ikut hanyut dalam suasana malam itu.

__ADS_1


Ibu Fadia menggenggam erat tangannya Anin penuh kelembutan dan mengerti perasaan yang dialami oleh Anindira yang mengetahui kondisi keluarganya Anindira cucu menantunya itu.


"Anin,kamu itu bukan anak yatim-piatu Ingat,kita ini adalah satu keluarga lihatlah dari ujung sana sampai di sampingmu, mereka menyayangimu hingga mereka sangat peduli dengan hidupmu, jadi jangan hidup dalam terus-menerus kesedihan dan mulailah membuka lembaran baru bersama dengan suamimu, insya Allah dia akan membahagiakanmu selamanya," terangnya Nyonya Besar Fadia.


__ADS_2