
Anindira dengan perasaan yang tak menentu segera meninggalkan apartemen milik suaminya itu menuju salah satu rumah sakit khusus ibu dan anak terbesar di Ibu kota Jakarta yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemennya.
"Non kalau mau ke rumah sakit xx saja fasilitasnya di sana lengkap, letaknya jauh enggak terlalu jauh juga dari sini," usulnya pak Aswin
Anin mengalihkan perhatiannya dari luar jendela mobilnya ke arahnya Pak Aswin yang melihatnya melalui kaca spion mobilnya itu.
"Kalau menurut Pak Aswin itu yang terbaik silahkan pak karena jujur saja saya sama sekali tidak mengetahui masalah rumah sakit mana yang bagus," sanggahnya Anin.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di lobi rumah sakit. Anindira mewanti-wanti Mbak Ririn dan Pak Aswin untuk sementara tidak mengabarkan masalah ini kepada suaminya. Rencananya dia ingin memberikan kejutan dan juga berniat untuk mengetes apa tanggapan suaminya jika mengetahui dirinya hamil.
"Pak Aswin disini saja nunggunya, tidak perlu antar masuk,saya masih bisa sendiri kok," cegahnya Anin agar dirinya bebas bergerak leluasa tanpa ada pengawasan dan pengawalan ketat dari anak buah suaminya itu yang seperti didapatkannya selama ini.
"Tapi Non pesan Tuan Muda saya harus menjaga Nona kemampuan perginya, bagaimana kalau saya tidak mengikuti dan menjaga Nona saya dicap melalaikan tugas dari Tuan Muda lagi!" Tampiknya Aswin yang sebenarnya seorang bodyguard kepercayaannya Alzam yang hanya Alzam dan anak buah kepercayaannya yang mengetahui hal tersebut.
"Untuk kali ini saja, selanjutnya saya tidak akan menolak jika bapak akan menungguiku dan menjagaku kemampuan saya perginya, aku mohon hal ini jangan sampaikan kepada Tuan Muda Alzam," pintanya Anin penuh harap dengan tampang memelas.
Aswin serba salah tidak ingin melanggar aturan dan tanggung jawabnya yang diberikan oleh Alzam kepadanya dan juga tidak mungkin bisa tidak memenuhi keinginannya Anin dengan wajahnya yang sudah memperlihatkan raut wajah memelasnya.
__ADS_1
"Baiklah untuk kali ini saja Nona Anindira,tapi tidak ada lain kali lagi," tegasnya Aswin.
"Makasih banyak Pak Aswin yang baik hati sedunia dan akan segera mendapatkan jodoh terbaiknya, Insya Allah… pasti bertemu dengan perempuan yang terbaik deh," ucap Anin lalu berjalan ke arah dalam lobi rumah sakit.
Aswin segera menghubungi anak buahnya yang selalu menguntit kemanapun perginya Anin dalam 24 jam penuh tanpa henti. Aswin juga menghubungi kepala rumah sakit dan mengabarkan jika cucu menantu dari Tuan Besar Mahawira berada di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Anindira berjalan ke arah dalam rumah sakit, tanpa harus menunggu lama untuk antri dia sudah mendapatkan giliran untuk bertemu dengan dokter. Pak Aswin Romi Herton segera menghubungi pemilik rumah sakit agar memberikan pelayanan yang terbaik untuk Anindira cucu dari pemilik rumah sakit tersebut.
Aswin sebenarnya bukan supir biasa saja yang ditugaskan oleh Alzam khusus untuk menjaga istrinya kemanapun perginya. Anindira sendiri yang meminta kepada Alzam agar tidak terlalu memberikan penjagaan ketat, dengan alasan dia tidak pernah mendapatkan hal semacam itu dan tidak leluasa untuk bergerak melakukan aktifitas di luar jika harus diikuti kemanapun perginya.
"Nyonya Anindira Mahika Mahendra!" Teriak seorang perawat yang membawa sebuah buku besar dalam genggaman tangannya dan memanggil namanya itu.
"Baru juga duduk sudah dipanggil, padahal aku baru saja datang sedangkan yang lain yang kemungkinannya lebih duluan antri, apa ini campur tangannya Abang Alzam lagi," Anin membatin seraya berjalan ke arah ruangan praktek dokter kandungan.
Aswin sudah berjanji untuk tidak melaporkan atau mengatakan apapun kepada Alzam, melainkan anak buahnya yang lain yang selalu on time berjaga di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh setiap harinya.
Sedangkan pria yang mendapatkan laporan itu dari anak buahnya sedang sibuk menangani proyek besar dengan beberapa kliennya dari luar negeri.
__ADS_1
"Saya Anindira Suster," jawab Anin yang menyunggingkan senyum ramahnya itu.
"Silahkan masuk ke dalam Nyonya Muda," ujarnya suster itu dengan membukakan pintu ruangan tersebut.
"Makasih banyak Sus," timpalnya Anin.
Anin melihat seorang perempuan paruh baya yang mungkin seumuran dengan Mama mertuanya Bu Kania duduk sambil memeriksa dan mengecek langsung beberapa berkas dari hasil pemeriksaan pasiennya.
"Selamat pagi dokter," sapanya Anindira.
Bu dokter segera mengalihkan perhatiannya dari beberapa tumpukan kertas dan menatap intens ke arah Anindira.
Dokter itu langsung tersenyum ramah dan mempersilahkan Anin untuk duduk," silahkan duduk Nona Muda," imbuhnya dokter tersebut.
Anin pun segera menarik kursi tersebut lalu mendudukkan dirinya ke atas kursi yang tidak tersedia.
"Maaf apa suaminya dimana Nyonya?" Tanyanya Dokter yang sering disapa Dokter Margaretha Sungkar itu.
__ADS_1
"Suamiku sibuk di kantornya Bu dokter jadi enggak sempat datang menemaniku," balas Anin.