
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Mau dada, sayap atau paha?" tanya Fajar sebelum ia memesan makanan yang tak hanya untuk mereka berdua saja.
"Shena mau kepalanya aja, tapi yang mata ayamnya merem ya A'," jawab Shena saat ia menjawab tawaran dari sang suami.
"Kayanya di sini gak ada kepalanya deh, Sayang." Fajar sampai mengernyitkan dahinya karna seingatnya di resto siap saji hanya ada bagian tubuhnya saja.
"Tapi aku mau kepala, kalau gak ada beli di tempat abang abang pinggir jalan aja yuk," ajak Shena.
Fajar diam dan nampak berpikir sejenak sebab sekali lagi bukan perut ia dan Shena saja yang di pikirkan, tapi juga dua orang pria di dalam mobil yang kini sedang bersama seekor anak macan berbulu putih.
"Paha aja ya, sama kok enaknya," rayu Fajar yang di jawab dengan gelengan kepala.
Bukan masalah enak dan tak enak karna bagi Shena semua ayam tepung sama saja rasanya hanya saja kali ini ia memang sedang benar benar ingin makan kepala tanpa mata terbuka yang seakan sedang melirik kearahnya.
"Ya udah, tapi Aa mau pesen buat supir dan pak Iwan dulu ya, kasihan belum makan siang kayanya," kata Fajar sebelum mereka pergi mencari apa yang Shena mau.
"Beli juga buat Aa, aku cuma mau kepalanya aja loh," titah Shena yang di iyakan oleh sang suami sambil tersenyum simpul.
Melihat hal tersebut, Shena pun ikut tersenyum bahkan memerah di kedua pipinya. Andai ini bukan di tempat umum sudah bisa di pastikan wanita halalnya itu sudah habis di gigit olehnya saking merasa gemas.
Fajar pun bergegas memesan dua porsi nasi ayam dan minuman. Ia tak memikirkan perutnya sendiri yang sebenarnya merasa lapar, tak tega rasanya jika harus makan yang justru shena tak makan, apalagi ia habis muntah muntah yang pasti perutnya jauh lebih lapar.
Setelah cukup lama mengantri, memesan hingga melakukan transaksi pembayaran, kini Fajar kembali lagi pada Shena di kursi tempat terakhir ia tinggalkan seorang diri.
"Ayo kita balik ke mobil," ajak Fajar sambil mengulur kan tangannya, tak ada sekali pun mereka berjalan tanpa tangan saling menggenggam satu sama lain.
"Nanti beli kepalanya tujuh ya A'," pinta Shena saat ia bergelayut manja di lengan pria terbaiknya menuju parkiran mobil.
__ADS_1
"Segerobak juga gak apa apa asal di habisin," jawab Fajar yang membuat Shena kembali senang.
"Sama abang abangnya, boleh?" goda Shena.
"GAK!!"
Gelak tawa pun terasa begitu renyah di telinga Fajar, ia memang paling tak bisa menyembunyikan rasa cemburu sekali pun kadang itu pada Bubu.
.
.
.
Cari sana sini akhirnya mobil menepi di parkiran minimarket dimana ada pedagang ayam tepung dan jus buah, bagi Shena itu adalah paket komplit yang sangat luar biasa, terbukti ia langsung memesan tanpa menunggu suaminya menawari lagi.
"Aa yakin mau air mineral aja?" tanya Shena memastikan minuman yang di pesan oleh Fajar karna ia sendiri justru memesan jus mangga, melon dan jambu.
"Iya deh, aku beli dulu ya." Shena masuk kedalam mini market dengan selembar uang di tangannya pemberian dari sang suami.
Tak lebih dari 10 menit ia kembali dan langsung masuk kedalam mobil sedangkan pak Iwan dan pak supir makan di luar. Bubu yang anteng di dalam tetap membuat Fajar harap harap cemas dengan hewan buas tersebut.
Tujuh potong kepala ayam kini siap di santap oleh Shena, sebelum makanan itu masuk kedalam mulutnya justru ia malah sibuk menutup mata mata si ayam dengan saos, alasannya karna tak mau terus di lihat yang seolah sedang di perhatikan.
"Awas kepedesan," ucap Fajar saat melihat makanan milik Shena.
"Aa belum di makan ayamnya?" tanya Shena saat box diatas pangkuan sang suami masih tertutup.
"Belum, kamu makan duluan aja," titah Fajar.
__ADS_1
Shena yang penasaran pun membuka box tersebut, bibirnya langsung mengerucut saat melihat isinya.
"Dada dan paha, kenapa gak beli cekernya sih!!"
Fajar pun tergelak, jangan bilang wanita halalnya itu cemburu dengan dada dan paha ayam yang sudah di tepungi tersebut.
"Gak ada dagingnya, kan aku mau yang montok montok," jawab Fajar sambil tergelak.
"Iiiiih, curang!! Tuker deh tuker," kata Shena yang menukar kedua box mereka.
Tapi, ujung ujungnya ia juga makan dari suapan tangan sang suami yang tanpa nasi karna Shena kekeuh ingin nasi cap ketek Hiu.
Perkara kepala, paha dan dada ayam selesai, mereka pun langsung pulang setelah merasa perut kenyang, karna layaknya anak bayi Bubu kini mulai rewel dan itu pastinya sangat berbahaya untuk keselamatan mereka yang ada di dalam mobil.
Sampai di rumah utama, Shena langsung masuk kedalam kamar tapi tidak dengan Fajar yang di panggil ke ruang kerja sang tuan besar Rahardian Wijaya.
Di dalam kamar itulah, Shena yang bergegas ingin membersihkan diri di buat bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya terutama dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ini apa? Kok gini ya," gumam Shena saat tubuhnya sudah polos bak bayi baru lahir usai ia tanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuh langsingnya tersebut.
Pandangan matanya berpusat pada kain tipis penutup kerang sawahnya yang kini sedang ia pegang dengan perasaan bingung dan tak paham.
.
.
.
.
__ADS_1
Kenapa, kenapa bulan ini aku dua kali kedatangan si BULAN??