
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
#RUMAH UTAMA.
Bubun yang baru turun dari lantai atas langsung di berondong banyak pertanyaan oleh si bungsu yang kembali melayangkan protes pada si mantan buaya betina yang kini memiliki banyak pasukan.
"Memang Bubun mau sampai kapan bolak balik terus? kenapa gak Aa sama si Dung Dung Pret yang pulang kesini, kalau Bubun capek gimana? Kita semua juga loh yang repot yang mikirin, terutama Ayah tuh," oceh Lintang panjang kali lebar sambil berjalan di belakang Bubun sampai ke ruang makan.
"Kamu, kasian sama Bubun atau kangen dengan Shena?" tanya wanita itu yang langsung menghujam jantung Lintang yang memang sedikit bemasalah.
"Enak aja!" elaknya yang langsung salah tingkah.
"Kangen? Bilang, Bos!!" ledek Abang Asha sambil lewat didepan Bubun dan adik bungsunya, tak lupa ada tawa renyah juga dari si sulung.
Jujur, memang itu yang di rasakan oleh si kuncen akhirat. Semenjak melahirkan, Shena benar benar pulang ke rumah Abah dan Enin hingga sekarang. Shena yang pernah berkata entah sampai kapan ia mau di sana tentu menjadi beban pikiran bagi Lintang.
Kurang lebih satu tahun wanita itu ada di rumah utama memberi warna lain yang tak biasa. Teriakannya, marahnya, kesalnya,cemberut hingga ide jahilnya sungguh sangat di rindukan oleh semua orang yang kini merasa kehilangan di bangunan mewah tersebut.
Lintang mau pun Angkasa kini tak lagi punya musuh untuk berdebat hal yang tak penting, padahal ia ingin sekali kembali ke masa masa itu.
"Kalian lah yang datang kesana, Shena dan Aa pasti senang kalau kalian berkunjung apa lagi menginap," saran Bubun. Ia tahu, meski Lintang punya jiwa iseng luar biasa tapi bukan berarti ia tak punya rasa perduli, dan jangan aneh juga jika ungkapan kasih sayang dan perhatiannya justru di balut dengan ejekan yang menjengkelkan.
"Emang muat? Pasukan bubun segini banyaknya," sahut Abang yang menatap satu persatu para krucil yang sudah berkumpul di meja makan.
"Muat muatin lah, kalian bisa per paket biar hemat," kekeh Bubun yang malah mendapat cibiran dari dua putra kesayangannya tersebut.
"Gimana, Bang? mau kapan kesana?" tanya Lintang pada Angkasa yang hanya di jawab gelengan kepala karna mulutnya sedang sibuk mengunyah.
"Kalau mau kesana jangan dadakan," pesan Ayah yang tahu kadang Enin jadi mendadak sibuk juga menyiapkan segala sesuatu demi kedatangan para keturunan buaya kadal kesayangan semuanya.
"Siap, Yah!" sahut Abang Asha dan Lintang berbarengan.
.
.
__ADS_1
.
Usai sarapan bersama, sepasang suami istri yang sedang berbahagia karna punya mainan baru yaitu ZaRa dan XaRa kini sudah ada di lobby perusahaan Rahardian Group.
"Kamu yakin gak mau Abang tunggu?" tanya Ayah Keanu.
"Tak perlu, Bang. Kita ketemu di rumah Abah saja," tolak Bubun, ia tak yakin pekerjaannya akan cepat selesai jika Si kadal ada bersama nya.
Ya, Bubun masih memegang wewenang penuh atas perusahaan tersebut meski kini semua di kelola oleh Fajar dan Lintang karena Angkasa menjadi pewaris utama seluruh perusahaan dan kekayaan dari keluarga Lee.
"Bun--," panggil Ayah.
"Hem, kenapa?" tanya Bubun sambil melepas seatbelt.
"Apa kita pertimbangan kan lagi ucapan Lintang barusan?"
"Masalah Abah dan Enin? bukankah selama ini kita sudah berkali kali melakukan itu? tapi hasilnya apa? mereka tetap tak mau pindah ke rumah kita dengan alasan begitu banyak kenangan di rumah nya yang tak ingin di tinggalkan," jawab Bubun dengan nada bicara bingung sendiri terhadap mertuanya tersebut.
Rumah yang di maksud Bubun tentu bukan rumah utama, tapi istana megah yang di milikinya bersama sang suami yang memang jarang sekali di tempati bahkan nyaris tak pernah.
Bangunan dua lantai tersebut memang banyak kenangan bagi sepasang baya yang selama ini tak punya keturunan kandung, mulai dari anak, cucu hingga cicit yang luar biasa. Sedikit demi sedikit rumah itu memang mengalami renovasi agar lebih kokoh karna memang itu adalah bangunan lama.
"Ya sudah, aku turun dulu ya, aku juga buru buru karna kasihan pada Shena, Bang," pamit Bubun yang kini wajahnya di tangkup lalu di hujani dengan banyak ciuman dari suaminya.
"Baiklah, aku mencintaimu Embun RaLiana Rahardian Lee Wijaya," ucap Ayah yang membuat wanita halalnya tersebut terkekeh. Bubun selalu merasa sangat di cintai jika nama lengkapnya di sebut apalagi kini di tambah dengan nama marga suaminya juga.
"Aku juga mencintaimu mantan Abang Paket, cepat hubungi aku jika sudah sampai kantor ya," pesan Bubun.
"Tak perlu kamu ingatkan, aku pasti akan melakukan itu, Sayang."
"Hem, ku tunggu! Jika tidak, Abang akan kehilangan ekor kadal kebanggaanmu itu," ancam Bubun yang membuat mereka akhirnya tergelak bersama.
.
.
__ADS_1
.
Sedang kan di rumah lain, Shena yang hari ini merasa sangat lelah karna si bungsu cukup lumayan rewel langsung tersenyum lebar saat mendengar suara pintu terbuka, tak perlu melihat pun ia sudah bisa tahu siapa yang masuk sebab hanya Fajar yang biasa masuk tanpa mengetuk si benda bercat putih tersebut.
Tapi, senyum dan rasa lega itu berakhir kecewa saat Fajar yang belum membuka stelan jasnya justru mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya dan si kembar. Meski Sangat lelah dan mengantuk, Shena mau tak mau menurut juga dengan ikut keluar kamar untuk bertemu dengan Niha..
"Shena, apa kabar?" tanya Niha saat keduanya berpulukan.
"Baik, Mbak."
"Maaf, baru mejengkukmu dan si kembar," ucap Niha dengan perasaan tak enak hati.
"Tak apa, Mbak. Aku paham. Mbak Niha kan harus mengerjakan pekerjaan suamiku, Terima kasih banyak untuk semuanya termasuk sudah menyempat kan diri datang untuk kami," jawab Shena yang tak kalah hebat membalas basa basi dari teman yang merangkap juga menjadi asisten pribadi suaminya.
Fajar yang mendengar hal tersebut pun begitu bangga dengan sikap tenang yang Shena tunjukan kali ini, padahal ia tahu jika wanita halalnya itu usai melewati hari beratnya sebagai ibu muda yang langsung di berikan dua bayi sekaligus.
"Sama sama, Shena. Itu memang tugasku. Oh ya, aku datang membawa hadiah untukmu dan si kembar," ucap Niha sambil memberikan tiga paparbag pada Shena.
"Kenapa harus repot repot, Mbak. Tapi sekali lagi, Terima kasih banyak," balas Shena begitu pun dengan Fajar.
"Jangan di lihat merk barang dan harganya ya," pesan Niha yang sebenarnya ragu, dan itu terlihat dari senyum yang terulas di sudut bibirnya.
Dulu, Shena memang gadis polos dari kalangan biasa. Tapi, tidak untuk sekarang yang semua di layani dan di pakai kan barang barang bagus serta branded.
Shena terkekeh, ia pikir semua hadiah akan hanya untuk ZaRa dan XaRa saja tapi nyatanya banyak yang memberinya juga hadiah bentuk suport karna sudah banyak berjuang mulai dari trimester pertama hingga kini kedua putrinya lahir dengan selamat dan sehat.
"Sayang, kenapa?" tanya Fajar saat melihat Shena menghapus cairan bening di ujung matanya.
"Tak apa A', aku hanya terharu saja, ternyata adanya si kembar tak membuat ku tersisih," ungkap Shena yang merasa ia tetap di anggap kehadirannya oleh orang-orang terdekat. .
.
.
Jangan bicara begitu, karna RATU yang sesungguhnya memang tak akan pernah terkalahkan, Sayang....
__ADS_1