
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ish, jangan gitu dong, Sayang, El itu Demoy bukan Tarzan," kata Fajar yang memberi pengertian pada istrinya sembari merapihkan rambut panjang Shena yang tertiup angin.
Shena yang mendengar itu hanya cekikian karna baginya si kutu kupret tak ada demoy demoynya, ia tetap makhluk menyebalkan setelah Lilin, tak perduli jika dua manusia itu kesayangan emak emak online.
"Apa namanya kalau bukan tarzan yang suka di pohon, karna yang dinding dan di langit langit atap itu cicak," kekeh Shena.
"Memang tahu kalau El ada di atas pohon, hem?" tanya Fajar yang menatap lekat wajah cantik ibu dari calon buah hatinya tersebut.
"Kemana lagi, tadi kan ada suaranya aja."
"Ya kali, itu teriakan dia dari gerbang neraka, kan kuncennya lagi di kantor," sahut Fajar.
Keduanya tertawa menyadari pembahasan yang sedang mereka bicarakan, untung saja di kursi kayu itu hanya ada mereka berdua yang artinya tak akan aneh jika di dengar orang lain, pembahasan neraka dan akhirat adalah hal paling ekstrem apalagi keduanya pun sedang duduk di bawah pohon.
"Mau apalagi, minumannya habis, Sayang," tawar Fajar yang sudah satu jam berada di taman kota hingga pengunjung tempat itu semakin ramai sampai tak sedikit juga yang memperhatikan ketampannanya.
"Mau colok mata cewe cewe disini boleh gak sih!"
Fajar yang tahu jika perasaan istrinya mulai tak beres pun langsung mengajak pulang, namunvwanita itu menolak, segala rayuan di layangkan oleh Fajar dan akhirnya Shena menganguklk setuju dengan syarat mampir sebentar ke mini market
"Jadi mikirin, Aa tuh kalau gak ada aku pasti banyak yang godain," kata Shena saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Gada, Sayang. Aa kan kalau gak sama kamu ya pasti di kantor, Meeting atau datang ke tempat tempat yang semua rekan kerja, gada yang godain," jelas Fajar yang tahu jika Shena itu buta sama sekali dengan dunia kerja suaminya.
"Kalau gak sama Shena pasti sama Niha, iya kan?" tanya nya dengan tatapan lain dari biasanya.
"iya, kan Niha asisten Aa, banyak bantuin kerjaan Aa kapan pun dan sebanayak apapun itu."
"Niha suka Aa," ucap Shena dengan perasaan yakin dan itu tak bisa di elak kan oleh Fajar, ia memang tahu hal tersebut, tapi selama Niha masih bersikap wajar dan tak pernah menyinggung masalah hati semua aman dan tak ada maslah, Fajar juga sebenarnya takut jika hubungan kerja mereka akan terganggu dan tak lagi nyaman nantinya, dan sikap pura pura tak tahu itulah yang menyelamatkan hubungan mereka selama ini.
"Jangan punya pikiran begitu," jawab Fajar yang tak mau Shena salah paham.
"Shena gak mikir, tapi Shena bisa rasain loh, tapi gak apa apa sih, kalau Niha suka Aa asal Aa gak suka dia, iya kan?"
" Iya, cantik. Kalau Aa juga suka Niha gak mungkin sekarang sama kamu, Tuhan kasih jodoh Aa itu Shena bukan Niha," tutur Fajar yang kali ini di selingi dengan dua ciuman di pipi kanan dan kiri istri kecilnya.
"Kenapa gak suka Niha? Kan dia cantik, lebih tinggi dari aku, dan pastinya pintar karna sekolah, gak kaya aku juga kan yang kata orang aku ini OON ?" Shena menunduk mulai cari penyakitnya sendiri, ia yang berkata ia juga yang terluka, tapi begitulah kehidupan yang kenyataan memang sering kali jauh menyakitkan.
"Aa gak cari yang cantik, karna kamu jauh lebih manis, Aa gak cari yang pintar karna kamu jauh lebih penurut, Aa gak cari yang tinggi karna kamu mudah Aa peluk, Sayang. Jika Aa dengan Niha, dunia Aa gak akan semenyenagkan seperti ini, karna bukan hanya Aa tapi semua keluarga Aa terhibur denganmu, jangan pikirkan ucapan orang-orang, kamu tak perlu berpura pura hanya demi menyenangkan orang lain, orang yang tulus adalah yang menerima bukan menuntut, Shena." ucap Fajar yang kali ini sembari memegang perut istrinya yang masih rata.
__ADS_1
Semua yang ia katakan benar benar dari dalam sanubarai nya, wanita yang di katakan Shena sudah terlalu banyak dan selalu ia temui setiap hari ,tapi yang seperti Shena sungguh akan di sandingkan bukan dengan pria biasa yang mencari kesempurnaan tapi kelengkapan dalam warna baru kehidupan, Fajar yang waras sejak kecil merasa tertantang dengan hadirnya Shena yang punya pribadi jauh dari kata anggun.
"Aa yakin?" tanya Shena dengan kedua mata yang berkaca kaca karna haru.
"Tentu, memang kamu masih meragukan Aa? Setelah ada calon malaikat kita di dalam rahimmu?" Fajar balik bertanya lalu tersenyum simpul saat Shena berhambur kedalam pelukannya.
"Aku tak butuh yang sempurna, aku hanya ingin hidupku menjadi sempurna dengan wanita yang ku cinta yaitu kamu, Shena."
.
.
.
Bubun yang baru turun dari lantai atas bersama XyRa setelah puas mengobrol dengan orang tuanya menanyakan tentang anak mantunya yang apakah sudah keluar dari kamar, tapi sayang nya salah satu pelayan mengakatan jika sepasang suami istri itu baru saja keluar rumah di antar dengan supir, pernyataan itu tentu membuat dahi nyonya besar Lee itu mengkerut, pasalnya semua juga tahu jika Shena baru saja pulang dari rumah sakit, ia yang sedang hamil muda jelas tak boleh banyak beraktivitas di luar.
"Kemana mereka?" gumam Bubu Embun.
"Cari sesuatu mungkin, Buy, kaya gak tahu aja kalau hamil banyak kepengen," sahut XyRa.
Bubun hanya menggelengkan kepala sebab meski punya tiga anak ia tak pernah tahu rasanya mengidam, semua rasa itu ia limpahkan pada PapAy, Abah dan phiu nya. Tiga pria itu yang repot selama sembilan bulan merasakan mual muntah dan repotnya juga mengidam yang aneh aneh termasuk menunggu kereta lewat setiap pagi.
XyRa yang paham pun terawa, ia menarik tangan kakak sepupunya itu ke sofa tempat ada beberaa paper bag juga di sana.
"Memang mau langsung pulang?" tanya Bubun setelah keduanya duduk bersama.
"Maunya sih, tapi El mana ya? Tuh anak suka ilang, udah tahu nyarinya kalau di sini tug susah banget," omelbya yang tak pernah bosan berpesan hal tersebut pada putra bungsunya, tapi El hanya mengiyakan tanpa di turuti.
"Di kamarnya mungkin, di sini juga gak ada siapa siapa, mau main sama siapa dia?" ucap Bubun yang mungkin Shena juga sengaja di ajak Fajar agar tak bertengkar dengan keponakannya itu juga.
"Mungkin juga, biar deh kalau di kamar asal gak bikin rusuh."
"El belum punya pacar?" tanya Bubun penasaran yang di jawab gelengan kepala oleh mamihnya itu.
"Entah, aku gak pernah tanya tanya tentang itu, Abang Sean juga mungkin gak tahu karna kalau tahu sudah di bahasnya dia sama kami," sahut XyRa yang tak pernah ambil pusing pada si calon Direktur Rahardian Group tersebut.
"Biarkan saja dulu, nanti juga ketemu jodohmya yang entah siapa dan kapan," balas Embun yang malah ingat lagi pada Fajar yang tiba tiba pulang membawa Janda perawan.
Keduanya terus mengobrol santai, karna dua wanita itu tentu tak punya kerjaan lain jika semua jadwal kegiatan sosial mereka sudah selesai. Para wanita tentu tak hanya menghabiskan uang suami nya saja, mereka menuruni semua bakti sosial dari para orang tua terutama panti asuhan yang dulu jadi rumah kedua bagi amma Melisa, ada beberapa panti jompo dan penyuluhan bagi anak anak jalanan dan orang orang yang kurang mampu.
"Aku pulang ya, Buy. Mas Axel takut keburu pulang juga, aku gak minta jemput dsini karna pergi dengan El jadi dia langsung pulang kerumah kayanya dari kantor," pamit XyRa, yang bagaimana pun dia harus di rumah sebelum suamianya pulang, itulah yang selalu di ajarkan bukan hanya pada dirinya saja tapi untuk semua entah itu anak atau menantu keturunan tuan Wisnu Rahardian Wijaya.
__ADS_1
"Pulang sama El? Elnya aja gak ada belum kamu cari, coba kamu telepon, titah Bubun.
XyRa yang mengangguk, langsung meraih ponselnya, ia cari kontak nama sang putra lalu menekan icon hijau untuk memanggil. Dua kali menghubungi nyatanya tetap tak di angkat juga.
"Kemana sih nih anak!" omel XyRa yang kesal.
Bubun pun memanggil pelayan untuk bertanya dimana keponakannya tersebut, dari info yang mereka dapat sang tuan muda itu ada di halaman samping entah sedang apa.
" Ya udah, kita susul aja kesana yuk," ajak Bubun juga yang ikut penasaran.
Baru juga dua wanita itu bangun, malah di kagetkan dengan teriakan Shena memanggil Bubun sambil sedikit berlari, wanita cantik itu langsung berhambur ke dalam pelukan ibu mertua nya saat Bubun merentangkan kedua tangannya..
"Dari mana?" tanya Bubun yang mengusap kepala menantunya dengan penuh sayang layaknya pada putrinya sendiri dulu ia melakukan ini hanya pada Bintang dan Rinjani saja, kini bertambah satu lagi yaitu Shena.
"Habis makan di mobil yang lagi jalan, terus ke taman kota habis itu ke mini market." jelas Shena apa adanya.
"Lalu Aa mana?" tanya Bubun lagi yang aneh saat Shena justru seorang diri masuk ke dalam rumah.
"Masih di garasi ,tadi gak tau ngobrol sama siapa," jawab nya.
"Ya sudah, kamu masuk kamar istirahat sana," titah Bubun
"Bubun sama onty mau kemana" tanya Shena"
"Cari El, onty mau pulang," sahut XyRa yang gemas dan haru dengan hubungan kakak sepupunya jika bersama dengan para menantu, itu membuat nya iri dan ingin seperti Bubun kelak jika kedua putranya kelak sudah menikah dan punya istri.
"Ikuuuuut," jawab Shena sambil memohon, di barengi dengan rengekan manja tentu membuat siapa pun tak kuasa untuk menolak
Shena mengangguk paham dan berjanji untuk diam tak bertengkar jika bertemu denga El meski rasanya itu sangat sulit ia lakukan, mulutnya serasa gatal ingin meledek pria itu jika sudah di depan mata.
Kini, tiga wanita tersebut berjalan ke arah halaman samping rumah utama yang begitu luas, ada beberapa pohon besar, kolam renang dan gazebo tempat itu selalu menjadi pavorit untuk berkumpul sekedar bertukar cerita.
Namun langkah mereka terhenti saat melihat sesatu yang cukup menyeramkan bagi Bubun dan juga XyRa tapi tidak untuk Shena yang langsung kesal.
"Heh kutu kupret!! Bubu Shena lagi di apain?" teriak su bumil sambil terus melanjutkan langkahnya.
.
.
.
__ADS_1
Lagi El ajarin doyang doyang utel utel aju undul lili nanan belum clulut clulut...