
[ Ini sepi banget loh, mampir yuk 😭 satu rumah sama Chia di sono 🙏]
\# Part 01 \#
Dara yang berada dalam kamar mandi langsung duduk lemas di atas closet dengan tangan bergetar sambil memegang benda kecil yang akhirnya jatuh juga ke lantai.
Cairan bening kian deras jatuh ke pipinya saat kedua matanya terpejam, entah sudah berapa kali ia melakukan tes kehamilan yang semuanya selalu dengan hasil yang sama, yaitu NEGATIF. Sebagai seorang istri tentu ia ingini juga menjadi sosok Ibu,tapi di usia pernikahan yang sudah berjalan selama 7 tahun, gelar itu tak kunjung ia dapatkan.
Ya, 7 tahun sudah ia dan Arsen mengarungi bahtera rumah tangga sebagai pejuang garis dua yang mendamba gelak tawa malaikat kecil titipan Sang Ilahi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang, kamu di dalam?" Panggil Arsen, pria yang sampai detik ini masih menjadi suami idaman karna tetap kuat bertahan dengan kondisi pernikahan yang hanya berdua saja.
"I-iya, Mas. Tunggu sebentar ya," jawab Dara sambil menghapus air matanya, ia juga tak lupa membasuh wajahnya agar tak terlihat sembab.
Sudah sejak semalam ia membayangkan betapa senangnya pagi ini jika saja garis yang muncul ada dua, itu karena ia sudah terlambat datang bulan selama 4 hari. Untungnya saja, ia belum bercerita apapun pada suaminya.
Ceklek.
"Mas, mau mandi dengan air hangat? biar Dara siapkan."
"Tak usah, Sayang. Mas mandi biasa saja, buatkan teh hangat tanpa gula saja ya," Pesan Arsen yang selama ini tak pernah memanggil sang istri dengan sebutan nama sekali pun di depan orang lain.
Pernikahan yang seharusnya semakin sempurna jika saja ada keturunan diantara mereka. Tapi sayang, terkadang Tuhan ingin mengangkat derajat seseorang dengan di berinya ujian terlebih dulu.
"Baiklah, Dara tunggu di ruang makan ya, nanti baju kerjanya seperti biasa, Dara taruh diatas ranjang."
"Iya, Sayang," sahut Arsen yang kemudian masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Pria berusia 33 tahun itu pun langsung melepas segala yang melekat di tubuh tingginya hingga polos tanpa apapun lagi. Tapi, ada satu hal yang menjadi pusat perhatiannya saat kedua mata pria tersebut menangkap sebuah benda bewarna putih di atas Lantai tepat di dekat closet.
"Negatif lagi!" geram Arsen yang membuang kasar benda tersebut ke tempat sampah.
Suasana hatinya mendadak buruk saat tahu jika sang istri masih sama saja, belum bisa atau mungkin tak akan bisa melahirkan anak untuk nya, padahal teman teman kerjanya selalu bercerita antusias dengan berbagai kegiatan mereka, mulai dari mengantar dan menjemput anak sekolah yang terdengar sangat menyenang kan di telinga Arsen yang kadang ikut membayangkan dan berkhayal menjadi seorang Ayah dalam waktu dekat ini.
Meski tak terlihat terlalu mendamba, Arsen tetap kecewa dengan takdir yang ia Terima meski tak pernah terbersit dalam benak nya untuk menikah lagi.
.
.
.
"Mas, teh nya sudah ada. Mau sarapan nasi goreng atau roti selai saja?" tanya Dara saat sang suami sudah datang dan langsung menarik salah satu kursi meja makan, ia hempaskan bokong itu tepat di depan Dara.
"Tak perlu, aku tak ingin makan apapun pagi ini," jawab Arsen malas, bahkan sedikit ketus tanpa melihat kearah istri nya yang mengangguk paham.
Arsen yang hanya menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan di iyakan lagi oleh istrinya, Dara jadi tak ikut sarapan saat pria halalnya itu hanya menegak teh hangat tawar tanpa gula buatannya.
"Aku pergi dulu, baik baik di rumah. Jangan buka pintu saat ada orang asing datang, cepat hubungi aku jika ada sesuatu," Pesan Arsen yang tak pernah lupa ia ingatkan pada Dara yang memang hanya seorang diri di rumah mereka. Wanita itu selalu menolak adanya ART karna tak terlalu butuh, lagi pula rasanya kurang nyaman jika ada orang asing di istana kecil mereka tersebut.
Sebagai istri yang baik, Dara langsung meraih punggung tangan Arsen untuk di ciumnya secara takzim, ia juga mengantar suaminya sampai ke depan pintu mobil sambil melakukan drama cium kening dan pipi.
"Hati hati di jalan ya, Mas," ujar Dara yang tak mendapat jawaban apalagi senyuman.
Dara melepas kepergian suaminya dengan perasaan aneh sebab tak seperti biasa pria itu mendadak dingin jika sedang tak sehabis bertengkar.
"Mas Arsen kenapa ya?" bathin Dara yang masih mematung di teras rumah padahal kendaraan suaminya sudah tak terlihat.
__ADS_1
Lain halnya dengan sang istri yang kebingungan, Arsen justru berkali-kali memukul setir mobilnya untuk meluapkan rasa kesal karena kejadian Tespek di dalam kamar mandi yang tak sengaja ia temukan.
Ia mendadak uring uringan tak jelas padahal sudah bertekad ingin meningkatkan rasa sabar demi keutuhan rumah tangganya.
Tapi, semua itu seolah sirna dan begitu menyesakkan dadanya, fokusnya buyar dalam bekerja hingga di sadari oleh beberapa rekan kerjanya.
"Ar, kenapa lagi?" tanya Bian saat menghampiri Arsen yang sedang membuat kopi.
"Gak apa apa," jawabnya dengan senyum getir di ujung bibir.
"Berantem sama Dara?. Sorry ya, kalo tebak kan gue ini salah. " Bian adalah salah satu sahabat Arsen dari sebelum menikah jadi ia tahu juga tentang Dara dan inti dari permasalahan rumah tangga dua orang tersebut.
"Santai aja, ini masalah gak ada ujungnya buat gue juga dia. Udah capek juga rasanya. Males debat tapi selalu berulang, gue bosen," jawab Arsen yang akhirnya bisa meluapkan gejolak rasa kesalnya.
"Sabar, ini ujian rumah tangga. Toh, diantara kalian gak ada yang bermasalah kan? Jadi lo gak boleh nyalahin diri sendiri dan Dara, ini cuma perihal waktu aja kapan Tuhan kasih kalian kepercayaan," ucap Bian yang selalu menjadi pendengar dan penasihat Arsen selama ini, berhubung rumah tangga adalah privasi tentu Arsen tak sembarangan bercerita jika bukan ke sahabat terdekat.
"Hem, ok. Makasih ya, Lo emang kawan terbaik gue," balas Arsen yang langsung memeluk sekilas Bian sebelum sahabatnya itu kembali ke ruang kerja dengan minuman kaleng di tangannya.
Selepas Bian pergi, datang Lisa yang ternyata mendengar apa yang dua pria tadi bicarakan, tak sedikit orang di kantor yang tahu jika Arsen belum memiliki keturunan dari istrinya yang kata orang banyak adalah bidadari dunia saking cantik dan teduhnya saat di pandang.
"Pak Arsen, lagi buat kopi?" tanya Lisa berbasa-basi
"Iya, kamu mau buat juga?" tanya balik Arsen, dibanding dirinya yang senior, tentu Lisa adalah anak kemarin sore yang lama bekerjanya saja belum ada satu tahun.
.
.
.
__ADS_1
"Boleh, Pak. Atau Bapak ingin buat yang lain juga bersama saya?"