Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 42


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Shena yang kabur tentu langsung di kejar oleh Abang Asha, Lintang dan El. Si anak kecil tentu tak mau di tinggalkan sendiri maka ia pun ikut bersama kedua kakak sepupunya.


Si JanCiL yang berlari ke lantai atas menggunakan tangga mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang tadi sempat terkuras. Dan bukan krucil namanya jika tak punya banyak ide. Demi bisa menangkap Si calon cucu mantu Rumah utama, tentu mereka naik menggunakan Lift keramat dan sudah bisa di Pastikan tiga pria tampan itu sudah sampai lebih dulu.


Doooooooooor...


Shena yang kaget karna sedang mencari kamarnya hanya bisa pasrah sambil mengelus dadanya sendiri


"Hayoooo, mau mana hah?" tanya Lintang sambil cekikikan sendiri.


"Cari Aa ya? kan Aanya gak ada," ledek Abang Asha juga.


Shena yang lupa dimana letak kamarnya masih tetap mengingat ingat meski rasanya mustahil sebab semua nampak sama.


"Hiu! ada Hiu----," teriak Si JanCiL, ia menerobos ketiga pria tampan yang jauh lebih tinggi darinya itu dengan berlari.


"Hiu? Hiu ayah lepas," kata Lintang.


"Phiu kamu noh!" sahut Abang Asha dan El.


Lintang yang melihat Sang Tuan besar Rahardian tentunya senang bercampur kaget karna pria itu akhirnya sudah keluar dari tempat semedi nya.

__ADS_1


"Kalian ini lagi ngapain?" tanya Phiu samudera.


"Berdiri," jawab El. Ya, memang mereka bertiga sedang berdiri sejajar, entah siapa yang salah jika sudah begini, karna yang menjawab sudah pasti benar.


"Phiu juga tahu, ini Shena kenapa?"


Ketiganya diam dan belum buka suara sama sekali. Takut sudah pasti, tapi tak mungkin juga mereka akan di marahi, pikir para pria tampan.


"Shena di kejar kejar, Hiu," jawab Si JanCiL yang bersembunyi di balik tubuh Sang Tuan besar.


"Kenapa?"


"Aku salah pukul, ku kira itu Lilin taunya Abang Asha," jelas Shena dengan jujur.


"Wajah mereka sama, aku gak salah kan?" sambungnya lagi dengan ekspresi menggemaskan.


"Tuuuuuuuh, gak apa apa katanya aku pukul Abang, kan di kira itu Lilin."


Shena merasa ada yang membela tentu berani menyalahkan Si kembar dan El lagi, tapi ia belum mau jika harus keluar dari balik punggung Sang Tuan besar Rahardian Wijaya. Apa pun bisa terjadi dan ia masih takut akan hal itu.


"Tapi Abang gak salah, sini kamu!" panggil Si Buaya cilik.


"GAK!!" tolak Shena langsung tanpa berpikir lagi.

__ADS_1


"Sudah, kalian ini apa-apaan? kamu juga kenapa pulang, Bang? El kenapa gak kuliah dan kamu Lilin, kenapa belum kerumah sakit, hem?" tanya Phiu tepat sasaran hingga tak ada satupun yang bisa mengelak, ketiganya menunduk sambil saling senggol.


"Hayoooooo, kenapa?" ledek Shena gantian dan itu membuat Lintang ingin murka sebab Shena berani dekat dekat dengan Phiu nya.


"Maaf, Phiu," ujar ketiganya bersamaan dan mengaku salah juga sebab memang itu kenyataannya. Abang pulang bukan waktunya, El bolos dan Lintang nyatanya masih santai dirumah padahal ia harus segera checkup ke rumah sakit.


"Maaf untuk apa?" tanya Phiu.


"Tapi El bolos mau liat dia noh," bela Si anak kecil.


"Siapa?" tanya Phiu lagi.


"Itu, yang di belakang Phiu," jawab.


"Apa? aku kenapa di liatin!" balas Shena


"Biarin ih, mata mata El, suka suka El dong," cibirnya kemudian, anak itu memang sangat


menyebalkan.


.


.

__ADS_1


.


Sudah, kalian bertiga sapu halaman samping sampai bersih..


__ADS_2