Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 139


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Hari pertama tanpa si kembar baru ini Shena dan Fajar lalui, semua terasa lain seperti ada yang kurang tapi jika rasa itu muncul, mereka akan buru buru menipisnya. Sepasang suami istri itu sepakat akan fokus berdua saja meski tetap berkali-kali menelepon Bubun untuk tahu apa yang sedang di lakukan ZaRa dan XaRa.


"Hebat ya mereka gak rewel," ucap Fajar saat panggilan telepon berakhir dan ia simpan lagi ponselnya itu di atas meja.


"Iya, kan adeknya Bubu," jawab Shena sambil terkekeh.


Ia sedang ingat hewan itu, bahkan rasanya tak pernah lupa karna untuk kurang lebih satu tahun bersama pastinya begitu banyak kenangan yang tak akan pernah di lupakan begitu saja.


"Pulang dari sini nanti kita jenguk Bubu ya sama anak anak, tapi janji jangan di gendong," pesan Fajar.


Shena bukan mengiyakan ia malah tertawa, suami nya kini begitu rewel jika menyangkut kesehatannya. Kadang, Shena suka lupa suka mengangkat barang yang lumayan berat padahal itu salah satu yang di hindari.


"Aku juga udah gak kuat A', Bubu sekarang kan makin gede," kata Shena, tapi seberapa besar tubuh si hewan berbulu putih itu, bagi Shena tetap saja mengemaskan, Bubu masih lucu dan usel usel manja dengannya.


"Baguslah kalau kamu paham, dia tetap Buas loh."

__ADS_1


"Ish, di rumah Biantara bukan banyak ular besar?" tanya Shena yang mulai membandingkan.


"Turunan MariMar jauh lebih aman dari Bubu, Sayang."


Bicara dengan Shena memang tak cukup sekali. Antara dua pilihan yang akan wanita itu lakukan, jika tak di bantah ia akan terus melayangkan banyak pertanyaan saking jiwa penasarannya sedang meronta ronta, tapi Fajar selalu suka akan hal tersebut meski kadang kepalanya serasa ingin pecah karna harus memutar otak mencari jawaban dan memeberi pengertian.


Obrolan panjang kali lebar siapa sangka akan berhenti saat terdengar perut Shena yang berbunyi. Meski tak ada si kembar tapi Asinya tetap ia pompa dan di simpan di Freezer jadi tak salah jika ia masih seperti sedang menyusUii secara langsung, itu semua demi menghindari dadanya bengkak.


Meski nyatanya Shena membawa kang pijit professional tapi bayaran yang harus ia berikan cukup sangat menguras tenanganya nanti.


"Iya, cari makan yuk, A'. Shena mau bihun kuah," jawabnya yang langsung bermanja dalam pelukan suaminya..


"Bakso?"


"Bukan, bihun kuah. Mirip sih, tapi gak sama bakso nya juga."


Fajar mengernyitkan dahi, jika di ibu kota semua akan mudah di dapatkan tapi entah jika di pulau ini. Fajar harus meminta Koki untuk memasaknya.

__ADS_1


"Kita cari yang abang abang ya," pinta Shena lagi sambil menarik turunkan kedua alisnya dan itu sangat membuat suaminya gemas sendiri.


"Jangan kaya gitu, nanti Aa khilaf pengen gigit," ujarnya dengan nada mengancam tapi Shena pastinya tak akan takut malah justru ia menantang suaminya sendiri.


"Gigitnya nanti aja ya Aa ganteng, sekarang makan dulu, Shena laper. Pokoknya pengen bihun kuah minum nya es kuwut yang bijinya harus banyak," pintanya dengan sangat memaksa, sepertinya ia lupa jika ini bukan di rumah utama yang dalam hitungan menit semua bisa langsung ada.


"Sayang--," seru Fajar dengan tatapan aneh.


"Apa?" sahut Shena.


.


.


.


Gak lagi ngidam anak ketiga kan??

__ADS_1


__ADS_2