
🍂🍂🍂🍂🍂
Rayuan demi rayuan di layangkan oleh Fajar hingga akhirnya Shena mau mengalah. Ia tak jadi minta bihun kuah dan es kuwut melainkan apa saja yang berkuah asal keluar dari area Resort.
Tentu itu semua di setujui oleh Fajar yang tak pernah berkata TIDAK pada Shena selagi ia mampu menurutinya.
Rasa senang di rasakan oleh wanita itu saat ia merapihkan diri, Fajar yang menunggu duduk di sofa pun tak hentinya mengukir senyum.
"Tak perduli penilaian orang tentangmu, kamu tetap istri dan ibu dari kedua putriku, tetaplah jadi Shena karna tak perlu berpura-pura demi menyenangkan orang lain," bathin Fajar, cintanya bukan buta tapi ia juga sedang berjuang untuk sama-sama melangkah ke arah dan sikap yang jauh lebih baik.
"Ayo A', aku udah cantik belum?" tanya Shena yang sama saja itu seperti sedang mengibarkan bendera perang andai Fajar tak bisa menaklukan hatinya.
"Memang, sejak kapan kamu tak cantik?" tanya balik pria itu yang langsung membuat kedua pipi Shena merah merona.
"Hem, cantik terus ya? makanya Aa cinta banget sama aku," ujarnya sangat percaya diri meski nyatanya memang itu yang terjadi pada hati suaminya.
"Cantik rupa bisa pudar seiringnya waktu, Sayang. Aa mencintaimu bukan karna itu saja, rasa cinta, saling terbuka dan nyaman juga merasa sangat di butuhkan adalah hal paling penting dalam sebuah hubungan. Jadi, tetaplah memberikan yang terbaik menurut versimu ya," ungkap Fajar sambil menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan yang selama ini selalu terulur pada Shena apapun kondisi wanita itu.
__ADS_1
"Kata Bubun, kalau mau awet muda harus lepasin pikiran. Jangan banyak prasangka buruk dengan hal yang belum terjadi," balas Shena yang ingat dengan ucapan ibu mertuanya tersebut.
Pantas saja, mereka begitu tampak cantik di usia yang tak lagi muda, perawatan adalah usaha memaksimalkan karna yang paling utama tentu perawatan dari hati dan pikiran sendiri.
"Pintar, Ayo, Aa juga sudah lapar," ajak Fajar sambil meraih tangan istrinya yang memilih bergelayut manja di lengan.
Keduanya keluar dari Resort menuju salah satu Cafe yang tak jauh dari sana. Dengan hanya menggunakan sepeda motor, Shena begitu senang sampai memeluk suaminya dengan cukup erat.
Satu hal yang paling menyenangkan adalah kemana saja dan melakukan apapun dengan pasangan, dan itu bisa di lakukan Fajar bersama dengan Shena. Wanita itu tak pernah banyak mengeluh dan menuntut asalkan dengan suaminya.
"Kita kaya orang orang yang suka di jalan lampu merah itu ya A'," kata Shena yang meletakkan dagunya di atas bahu ayah dari dua putri kecilnya.
Motor terus melaju dengan kecepatan cukup lamban karna pengguna jalan disana hanya satu dua orang saja, lagi pula Fajar sedang sangat ingin menikmati waktu berdua seperti ini yang memang kadang bahagia itu tak perlu mewah.
Sampai di sebuah Cafe, mereka langsung masuk setelah di sambut oleh dua orang pelayan di pintu depan. Suasana tenang di rasakan oleh Shena yang baru pertama kali nya datang ke tempat seperti ini, karna biasanya ia sering di ajak Bubun atau saudara yang lain ke tempat yang tak jauh dari Hotel dan Mall di sana ia sering kali melihat banyak nya orang dengan segala kesibukannya masing masing dan itulah yang kadang membuat Shena sedikit pusing, berbeda dengan liburan nya bersama sang suami yang mengutamakan ketenangan dan kedamaian. Terkadang, memang hanya pasangan yang paling paham dan Tuhan benar benar mengirim sosok pria yang di butuhkan dalam hidup Shena.
"Disini ada yang suka pijit pijit gak A'?" tanya Shena stelah duduk berdua.
__ADS_1
"Spa maksudmu? ada dong, Sayang. Baru habis makan nanti Aa mau ajakin kamu, biar tubuh mu lebih rileks, selama ini kan sering bangun berkali-kali saat malam," kata Fajar, ia tahu batul apa saja yang di lakukan si ibu muda di hadapannya itu jika sedang bersama karna ia jarang sekali meninggalkannya sendiri jika sudah di rumah.
Fajar siap di suruh apapun oleh Shena saat istrinya itu kerepotan, bahkan selalu punya inisiatif sendiri untuk membantu, kadang memang hal kecil baginya tapi cukup melegakan perasaan Shena. Karna jika sedang menggoda, si kembar justru sering menangis secara bersamaan dan kadang jika sudah begitu membuat Shena ingin ikut menangis juga.
Banyak obrolan sederhana dan ungkapan perasaan yang di lakukan oleh sepasang suami istri yang sedang melepas rasa penat dari rutinitas harian yang hampir sama selama 7 bulan ini, dari kepolosan cerita yang Shena lontarkan sedikit banyak membuat Fajar semakin paham, dan memang apa yang di lalui wanita itu tidaklah mudah.
"Seorang ibu, akan tetap butuh sosok seorang Ibu juga untuk nya." ujar Fajar, entah bagaimana jika mereka hanya berdua saja tanpa Enin, Bubun atau pun Mhiu yang tak hanya membantu merawat si kembar saja tapi juga menjaga kewarasan menantu mereka tersebut.
"Iya, Terima kasih sudah melakukan banyak hal untukku, termasuk di sayangi oleh keluargamu. Tak pernah memandang apa latar belakangku, tak pernah membedakan aku dengan yang lain termasuk Kak Bintang dan Kak Rinjani, serta terpenting adalah mau menerima ku dengan segala bentuk masa lalu yang ada," ucap Shena yang malah terharu sendiri.
"Sayang, jodoh terbaik akan mengantar kita pada orang yang tepat. Tak ada yang kebetulan, semua sudah di rencana kan oleh Tuhan menurut takdir manusia masing masing. Jangan pernah takut dan rendah diri, Ok."
Shena menangguk paham, ia tersenyum manis saat tangan Fajar menghapus air mata bahagianya.
.
.
__ADS_1
.
Jika ada kesempatan aku terlahir lagi di kehidupan mendatang, aku akan tetap ingin Aa jadi suamiku, akan ku rayu Tuhan bagaimana pun caranya.