Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 54


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Senandung? Shena--, dimana dia?"


Sebuah nama yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri kini pria itu ucapkan dengan lengkap, padahal biasanya ia selalu memanggil dengan kata Hey...


Tapi tidak dengan hari ini, Bapak menyebutnya dengan baik dan benar tanpa nada tinggi seperti biasa.


"Boleh kami masuk, Pak?" izin Pak supir.


"Masuk lah, silahkan." Bapak mundur beberapa langkah dengan sedikit sempoyongan jika tak di tahan Supir pasti ia sudah ambruk ke lantai yang tak ber keramik tersebut. Hanya ada karpet berwarna Hijau alas mereka kini duduk, tapi tidak dengan Pak Supir yang berjaga di depan teras, tugasnya hanya mengantar para majikan hingga tujuan jadi tak mungkin terlalu jauh ikut campur dengan ikut juga masuk kedalam.


"Dimana Shena? dia anak saya," tanya Bapak tanpa basa basi lagi.


"Shena--, Shena ada bersama kami. Dan tujuan kami datang untuk melamarnya," jelas Ayah Keanu yang langsung ke inti pembicaraan sebab tak kuat dengan bau alkohol yang menyeruak dari mulut Bapak Shena.


"Melamar Shena, untukmu?" tanya Bapak bingung.


"Ah, tidak, bukan untuk saya melainkan putra saya. Shena juga sudah berada di rumah kamu beberapa bulan belakangan ini," jawab Ayah lagi..


"Kalian--, kalian pasti menculik anak saya, Hah!!"


"Waduh! gawat nih, Bang," bisik Rain yang mulai takut, keduanya sudah bersiap kabur jika Bapak Shena mengamuk karna tak Terima anaknya di bawa Fajar. Tapi yang mereka lihat justru pria yang sedang mabuk itu tersungkur lalu menangis tersedu sedu.


"Kirain mau bawain kita Golok, Bum." balas Ayah Keanu.


"Iya, malah mewek dia, gimana ini?" Rain pun hanya menjawab dengen gelengan kepala. Bingung rasanya jika sudah begini karna sulit sekali jika sudah menyangkut perihal anak karna mereka pun adalah sosok Ayah yang sangat sangat mencintai keturunan mereka.


Ayah Keanu dan Rain masih duduk di tempatnya, di atas karpet warna Hijau tapa ada segelas air putih tapi keduanya cukup maklum karna tahu bagaimana kondisi Bapak Shena saat waktu datang tadi.


Menit demi menit berlalu, hingga hampir satu jam tangis pria mabuk itu berangsur-angsur reda sampai hanya terdengar isakannya saja.


"Pak--, bagaimana? sekiranya Bapak merestui Shena menikah dengan putra saya, Bapak bisa langsung datang di hari pernikahannya nanti."


Tentu semua akan di urus oleh pihak keluarga Lee Rahardian, sedang Shena dan Bapaknya cukup duduk manis hingga SAH.

__ADS_1


"Shena--," panggilnya lirih, "Pulang, Nak."


Isakan itu sungguh menyayat hati siapapun yang mendengarnya termasuk kakak dan si adik ipar bahkan supir sampai berkali kali melongok ke dalam untuk memastikan ketiga pria tersebut.


"Bang, mending pulang yuk, kita kesini pas dia gak lagi mabok," bisik Rain.


"Lah, emang kita tahu jadwal dia mabok?" tanya Ayah Keanu.


"Oh iya ya." dengan polosnya Rain menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Pak, Shena baik baik saja, apa Bapak ingin bertemu dengab Shena dulu?" tawar Ayah, semakin ia pahami rasanya ini bukan drama kepura-puraan tapi benar-benar rasa rindu seorang ayah pada anaknya.


"Si Abang menantanga MAUT! Bum gak mau ya satu mobil sama yang mabok, ntar dia kumat gimana?" Protesnya.


Tapi Ayah Keanu tak menggubris sama sekali. Ia tetap bernegosiasi meski belum ada jawaban sedangkan suara pria itu kian melemah.


"Bawa Shena pulang," pintanya dengan suara pelan dan Serak nyaris tak terdengar hingga Ayah dan Rain saling pandang.


"Apa, Pak?"


Serasa pria tersebut tetap tak bisa di ajak berkomunikasi dengan baik, mereka pun memilih pamit pulang, biar nanti semua di bicarakan lagi antara menjemput atau mungkin Shena sendiri yang akan pulang, semoga gadis itu paham dan mau bertemu dengan satu-satunya orang tua yang tersisa tersebut.


.


.


.


Shena yang pulang dengan cara menyusul tentu membuat Abah dan Enin kaget saat gadis itu masuk sembari mengucapkan salam. Ia yang langsung memeluk Enin yang sedang duduk di ruang tamu merasakan jauh lebih tenang saat punggungnya di usap usap.


"Kenapa?" tanya Enin.


"Tadi temennya Aa?" tanya balik Shena, mendengar itu Enin dan Abah saling pandang lalu tersenyum.


"Iya, dia juga yang membantu Aa di kantor," jawab Enin.

__ADS_1


"Kok peluk peluk? kaya Shena peluk Aa."


"Mereka sudah berteman baik cukup lama, Shena marah?" tanya Abah, sebab rasanya tak yakin jika Shena peka dengan rasa cemburu.


"Gak suka, kesel liatnya," sahut Shena yang masih mencari kenyamanan dalam pelukan Enin.


Benar dugaan pasangan baya tersebut, hanya saja Shena tak pandai mengartikannya. Ia hanya tahu rasanya kesal dan jengkel saat miliknya di sentuh orang lain. Dan disini, tugas mereka memberi pengertian pada Shena yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya jika itu perasaan wajar karna adanya rasa sayang dalam hati gadis itu.


"Jadi, Aa dan Si Nehi Nehi Aca Aca itu tiap hari sama-sama?" tanya Shena dengan nada ketus, terasa sekali jika gadis itu tak suka.


"Apa Nehi Nehi Aca Aca?"


"Itu yang tadi loh," sahut Shena.


"Nihaaaaaaa!"


Pasangan itu pun tertawa bersama, jika sedang cemburu orang tersebut mamang akan bertingkah aneh aneh tak terkecuali Shena yang mengganti nama orang lain dengan seenaknya.


"Jangan Khawatir, mereka itu cuma teman. Aa cuma sayang dan cuma mau nikahin Shena aja, paham?" ujar Enin yang gemas hingga menciumi pucuk kepala gadis berambut panjang sepinggang itu sebagai tanda sayangnya.


"Emang Aa jadi nikahinnya?"


"InshaAllah ya, Nak. Semoga Ayah dan Uncle Rain pulang membawa kabar baik jika Ayahmu mau merestui dan bersedia datang menjadi wali Sahmu," harap Abah yang di Aamiinkan oleh istrinya saja.


Bayangan tak mengenakkan terlintas di benak Shena atas semua perlakuan buruk sosok yang barusan di sebut Ayah oleh Abah, pantas kah ia dengan gelar itu padahal tak sekalipun bersikap layaknya seorang pahlawan bagi anak perempuannya?


"Bisakah aku menikah tanpanya?" Shena bertanya sambil mendongakkan wajah kearah Enin, hati wanita itu sampai mencelos saat melihat kedua mata Shena yang berkaca kaca, cairan bening itu sudah menumpuk dan siap jatuh ke pipi mulusnya.


"Selagi ada, usahakan menikah dengan wali Ayahmu ya, Nak. Karna banyak anak di luar sana yang ingin di nikahkan langsung oleh Ayahnya sendiri, dan kamu masih beruntung masih memilikinya," jawab Enin sambil menghapus air mata di kedua pipi Shena.


"Tapi mereka gak kaya aku, Enin," keluhnya yang seolah melayangkan protes karna Shena terisak sambil menggelengkan kepalanya.


.


.

__ADS_1


Apapun yang di perbuat Ayahmu, kamu harus tetap berbakti padanya. Ia memang tak punya Surga tapi Ia punya darah yang mengalir juga di tubuhmu, Shena....


__ADS_2