
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cendol yang merupakan minuman es manis yang mengandung tetesan tepung beras hijau, santan, dan sirop gula aren kini ada di tangan abah, entah dari mana pria baya itu mendapatkannya yang jelas kini dua wanita yang ada di depannya sedang saling pandang menatap heran.
"Gak usah aneh tiap hari juga gitu, kerjaannya ngejar ngejar Pedaganag terus," sindir Enin yang harus biasa dengan kelakuan suaminya yang makin kesini makin kesana.
"Shena mau," ucap Si Bumil yang langsung senang, padahal matahari belum terlalu tinggi menggantung di langit ibu kota.
"Kamu tunggu sini, biar Enin ambilkan gelasnya," titah wanita baya itu namun di cegah oleh cucu mantunya.
"Biar Shena yang ambil ya."
Shena berjalan menuju rak dimana semua alat makan berada, ia sudah hafal betul dimana letak setiap barang di rumah tersebut, tak seperti di rumah utama yang ada 4 dapur sekaligus dalam satu bangunan, hanya dapur kotor paling belakang yang tak pernah para penghuni datangi.
Entah ada berapa bungkus yang di bawa Abah, yang jelas Shena membawa tiga gelas besar dan tiga sendok makan, semua itu di bawa ke ruang tengah yang terdapat Tv besar menggantung di dinding. Dulu, ruangan tersebut selalu ramai oleh Angkasa, Fajar dan Lintang saat bermain meski kadang ada saja yang pecah akibat tabrakan atau senggolan dari si sulung. Jika di hitung hitung tentu tak akan bisa terhitung berapa jumlahnya. Tapi, Abah maupun Enin tak pernah memarahi ketiga cucunya tersebut kecuali Ayah Keanu yang jika kebetulan ada di rumah.
Semua begitu di nikmati sampai tak terasa kini para cicit lah yang sudah menggantikannya. Jangan bayangkan ramainya, karena untuk di ingat saja kadang membuat sakit kepala walau setelah itu ada gelak tawa.
"Apa ada pantangan dari Dokter?" tanya Enin setelah si cendol kini sudah berpindah ke wadahnya masing-masing.
"Gak ada, semua boleh makan. Kata kak Jani gak apa apa juga asal gak berbahaya," sahut Shena yang sudah mulai menikmati minuman manis dingin tersebut, hingga rasanya begitu ngilu di giginya.
"Makanan bahaya itu seperti--," ucap Enin sambil berpikir, ia sudah beberapa kali hamil tapi sayangnya Tuhan hanya sekedar menitipkan saja dalam rahimnya tersebut.
"Daging Buaya!"
Hatchiiii...
"Jangan sebut itu, Shena suka merinding," mohonnya yang berhambur ke dalam pelukan Enin.
Abah yang melihat ekspresi takut Shena malah tertawa, ia tentu hanya asal menjawab bukan bermaksud menyinggung besan dan menantunya.
"Kalau kadal tuh masih bisa di makan loh," kata Abah lagi yang kini sambil cekikikan.
"Abah awas ya, kalau sampai Shena minta makanan itu," ancam Enin, bukankah orang hamil itu kadang sering Celamitan jika mendengar sesuatu.
"Tapi masa iya daging kadal juga, gak mungkin lah, biawak aja mau?" goda Abah yang kini kabur membawa cendolnya ke arah teras sebelum ia habis di lempari bantal.
Shena yang masih dalam pelukan Abah hanya bisa tersenyum simpul, kadangnya berpikir kenapa ada di tengah-tengah keluarga yang begitu luar biasa.
"Gak boleh dengerin Abah, habiskan saja Esnya. Oh ya, kamu mau makan apa untuk siang nanti? biar Bibi belanja ke pasar sekarang," tanya Enin yang stok bahan makanannya sudah hampir habis.
"Apa aja, yang penting ada sayur," jawab Shena pasrah. Bukan karna kebetulan ia sedang hamil tapi memang semenjak hamil ia tak bisa makan tanpa kuah. Akan sedikit lama dan kurang berasa jika hanya nasi dan lauk saja.
__ADS_1
"Ya sudah, Enin ke Bibi dulu ya."
"Shena ikut ke pasar boleh? mau jajan juga," pinta Si bumil.
"Boleh, asal kamu izin pada Aa lebih dulu," titah Enin yang selalu mengajarkan jika tak boleh pergi atau melakukan apapun tanpa suami tahu, karna wanita yang sudah menikah semua menjadi tanggung jawab suami termasuk jika ada hal. yang tak di Inginkan saat di tengah jalan.
"Siap, Enin." Shena langsung meraih tasnya yang ada ponsel miliknya di dalam sana, Shena yang mau menelepon langsung mengurungkan niatnya tersebut.
"Kenapa?" tanya Enin.
"Kirim pesan saja, takut Aa di jalan atau sudah sampai di kantor lagi sibuk. Tapi, kalau Aa belum bales IYA, gimana? masih boleh ikut kan ke pasar?" tanya Shena yang bingung sendiri jadinya.
"Boleh, kirim saja pesannya sekarang. Syukur syukur cepat di balas oleh Aa ya," sahut Enin yang di iyakan langsung oleh Shena.
[ Shena mau ke pasar, pokonya Aa harus izinin, ok!! ]
Dengan tampang mmencurigakan, wanita yang sedang berbadan dua tersebut langsung meletakkan lagi ponselnya ke dalam tas, kemudian bersiap untuk ikut Bibi ke pasar tapi tidak dengan Enin, tentu ia tak lagi sanggup rasanya untuk berkeliling pasar apalagi dengan Shena yang banyak jajannya.
.
.
.
Triing.
Senyum terulas di ujung bibir Fajar dan itu jelas bisa di lihat oleh Niha yang kini ada di depannya sedang menunggu semua berkas di tanda tangani. Barulah mereka bisa pergi ke luar kota.
Fajar meletakkan dulu pulpennya untuk membalas pesan dari sang istri, ia tak pernah menunda apapun itu jika sudah berhubungan dengan belahan jiwanya. Semua akan di kesampingkan karna Shena dan keluarganya tetap yang utama.
"Apa harus pulang lusa? tak bisa kah di percepat jadi besok?" tanya Fajar setelah ia mendengar semua jadwal kunjungan yang Niha beritahu barusan.
"Maaf, Tuan. Tapi tak ada yang bisa di cancel lagi," jawab sang Asisten pribadi Presiden Direktur Rahardian Wijaya tersebut.
Fajar membuang napas kasar, baru membaca pesannya saja ia sudah rindi dengan Senandung nya.
"Baiklah, tapi jika bisa di percepat tolong lekas selesaikan semuanya," titah Fajar yang tak perlu ia memberi tahu karna Niha sudah sangat paham.
Pria yang diam diam ia cintai itu akan uring uringan tak jelas hanya karna perkara rindu, dan itu bukan sekali dua kali jadi tak salah jika Niha selalu merasa iri meski itu cukup ia tekan dalam hati. Tak pernah ada niatan untuk wanita cantik itu mengusik rumah tangga Fajar, bukan karena pria tersebut sekedar Bosnya saja tapi juga teman baiknya sejak lama, Niha juga kenal da dekat dengan keluarga Rahardian, jadi jika ia bermain api tentu pasti ia akan terbakar habis. Karirnya pasti hancur hidupnya pun tak akan tenang karna ia pasti akan di kejar meski sampai ke ujung dunia.
"Niha, kamu melamun?" tanya Fajar yang langsung membuat Asisten pribadinya itu tersentak kaget.
"Maaf, Tuan. Saya akan persiapkan semuanya sekarang," jawab Nina dengan gelagapan yang kemudian pamit ke luar dari ruangan.
__ADS_1
Fajar yang sebenarnya aneh tak mau ambil pusing. Ia kembali melihat ponsel nya yang ternyata tak ada balasan lagi dari sang istri.
Sudah bisa di tensk oleh Fajar, jika wanita itu pasti sudah berangkat ke pasar, tapi Fajar lupa dengan siapa saja wanita itu pergi, dan agar perjalannya pun tenang, Fajar langsung menghungi Abah.
"Hallo, Abah," sapa Fajar saat panggilan tersambung.
"Iya, A', ada apa?" tanya Abah dari sebrang sana.
"Abah dirumah kan? apa Shena sudah berangkat ke pasar? pergi dengan siapa saja?" tanpa basa basi lagi, pria itu langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.
Abah bukan menjawab malah terkekeh mendengarnya, Fajar seperti dirinya saat muda dulu sering panikan dan khawatir saat tak bersama dengan si pemilik hati. Jadi tak salah jika sampai tua begini Abah dan Enin tak terpisah sama sekali, keduanya tetap bersama meski begitu banyak hal yang sudah mereka lewati bersama..
"Shena sudah pergi, hanya bersama Bibi dan Supir. Enin mu tak ikut, A'," jawab Abah.
"Baiklah, aku mau berangkat sekarang ke luar kota, titipkan salamku untuk Enin juga ya," kata Fajar yang hatinya selalu sedih jika sedang berpamitan seperti ini.
"Tentu, hati hati di jalan. Kami menunggu kepulanganmu dengan selamat sampai di rumah."
Panggilan dengan Abah berakhir kini saatnya Fajar menghubungi Ayah dan Bubunnya secara bergantian untuk melakukan hal yang sama. Doa orang tuanya sungguh yang paling ia perlukan saat ini.
"Beres, semua sudah pamit kini tinggal berangkat," ucap Fajar sambil bangun dari duduknya. Ia yang merapihkan lagi Jasnya melirik kearah beberapa Figura yang berisi foto Shena, foto pernikahannya dan juga foto kelurganya serta satu yang berukuran cukup besar yaitu fotonya bersama Abang Asha dan Lintang.
"Dulu kita pernah sekecil ini ternyata,
tapi sekarang kita sudah punya anak kecil," kekeh Fajar yang cukup bangga dengan dirinya sendiri sekarang yang sama seperti kakak dan adiknya.
.
.
.
"Nona, apa sayurnya cukup segini?" tanya Bibi yang kedua tangannya penuh dengan plastik berisi barang belanjaan, begitu pun dengan pak supir yang turut serta membantu membawakan juga.
"Hem, semua sayur udah kan?" tanya balik Shena yang di jawab anggukan kepala.
Bibi kali ini tak membawa catatan belanja karna Enin memerintah untuk membeli apapun yang Shena mau. Si ibu hamil itu tak pernah bisa di tebak maunya apa, jadi biarkan saja semua sesuai seleranya. Lagi pula, tak pernah ada kata mubazir di keluarga tersebut karena sering memasak lebih jika stok sayur dan lauk masih banyak, semua masakan itu akan di bagikan ke area Kampung yang tak jauh dari komplek perumahan, disana ada beberapa keluarga yang kurang mampu, janda tua dan anak yatim. Hal sederhana seperti itu saja sudah sangat menyenangkan bagi yang benar-benar membutuhkan, kita tak pernah tahu doa tulus apa yang mereka panjatkan dalam hati saat kita tulus memberi.
"Sudah, Nona. Tapi ini baru sayur saja dan lauk saja, Apa Nona mau beli yang lainnya lagi?" tanya Bibi sebelum mereka pulang, dari pada harus balik lagi nantinya.
.
.
__ADS_1
.
Shena, mau kue TOPI..