Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 141


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


#RumahUtama.


Bubun yang baru selesai mandi, melihat ZaRa ternyata sudah bangun dan bermain sendiri, sedangkan adiknya XaRa masih terlelap dalam peluk kan Ayah. Beruntungnya, para krucil sedang pergi sejak kemarin kerumah kakek nenek mereka yang lain, jadilah si kembar sedikit leluasa bersama Buaya dan Kadal.


"Cantiknya Bubun udah bangun? adek masih bobo tuh," ucap wanita paruh baya itu sambil meraih si sulung.


Kedua pipi yang bulat kemerahan terlihat sangat menggemaskan bagi siapa pun yang melihatnya, bahkan Bubun saja seolah tak ada bosannya untuk menciumi terus menerus.


"Papa dan Mama kalian belum telepon, tumben banget ya," lanjutnya lagi yang merasa aneh, biasanya sepagi ini sudah ada notif pesan di ponsel Bubun, jika sudah di balas barulah sang putra akan menelepon.


Bubun meletakkan ZaRa di Babby Bouncer sedangkan ia akan merapihkan diri sebentar sebelum nanti XaRa pun akan ikut bangun.


Bayi 7 bulan itu terus mengoceh dengan mainan di tangannya, tak mau diam dan selalu penasaran dengan apa yang ada di sekelilingnya. Semakin aktif si kembar tentu semakin kualan mamanya saat menjaga.


******Mamamamaaaaaaa******....


Bubun yang mendengar pun langsung menoleh karna ZaRa pun memang di bawa ke ruang ganti bersamanya.


"Iya, kangen Mama ya? nanti telepon Mama sama Papa ya, Cantik," sahut Bubun sambil tertawa kecil.


Ia yang tak punya anak perempuan malah kini justru di limpahi beberapa cucu perempuan dan itu membuat ia sangat bahagia, belum lagi para menantu yang baiknya luar biasa, serasa ketiganya adalah anak sendiri tanpa ada yang di beda bedakan.


ZaRa yang bertepuk tangan pelan seolah paham dengan apa yang di katakan Bubun, jika ada para krucil yang lain, ZaRa tak akan seanteng ini karna para sepupunya pasti akan rebutan ingin mencium pipinya, padahal ada dua pipi yaitu kanan dan kiri tapi tak seru jika tak saling berebut hingga ada saja yang menangis, dan saat itu juga perdebatan baru akan selesai.


Selesai merias diri dengan senatural mungkin, kini Bubun meraih tubuh monTOOk ZaRa untuk di bawa lagi ke ranjang, disana ternyata XaRa sudah bergeliat sambil sedikit merengek tapi pria yang memeluknya seolah tak mendengar karna masih terbuai mimpi.


"Bang, bangun. Pegang ZaRa dulu, aku mau buatkan susu sebentar," ucap Bubun pada suaminya yang masih mendengkur, sedangkan XaRa sudah melakukan paduan suara sambil guling guling.


"Baaaang!" teriak Bubun sambil menggoyang bahu dan menepuk pipi si kadal jantan.


Merasa terganggu, Tuan besar Lee pun akhirnya bangun juga, ia kaget saat mendengar suara tangis XaRa yang tepat di sampingnya.


"Kenapa? adek kok nangis?" tanya Ayah yang pastinya dalam keadaan tak sadar sepenuhnya.


"Pengen susu, Ayah bangun dulu," sahut Bubun yang mulai kesal.


"Susu?" gumamnya yang meraba dadanya sendiri.


"Bukan susu ituuuuuuuu!"

__ADS_1


.


.


.


.


Lain di rumah utama, lain juga di Resort pulau pribadi milik Rahardian Group. Serasa berada di surga dunia, sepasang suami istri yang kini semakin betah menikmati waktu berdua justru belum tahu kapan mereka akan pulang, walau rasa rindu pada dua putri mereka sudah sangat menggunung.


"A'--," panggil Shena dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hem, apa? mau lagi?" sahut Fajar, ia sebenarnya sudah bangun dari beberapa waktu lalu tapi tahu sang istri masih pulas terbuai mimpi, ia pun tak berani untuk bergerak. Fajar biarkan saja wanita halalnya itu tetap dalam pelukannya, mengingat keduanya sampai tiga kali melakukan hal yang menyenangkan.


"Enggak, aku cape."


Mendengar hal tersebut, membuat Fajar tertawa. Ia yang merasakan hal yang sama pun tentu hanya menggoda, tapi jika Shena pastinya ia tak akan menolak. Setiap inci tubuh wanita itu begitu jadi candu yang tak bisa Fajar sia siakan begitu saja. Rasanya nikmat dan tak cukup sekali jika sudah di depan mata.


"Besok pulang yuk A', kangen anak anak," ucap Shena dengan pelan dan lirih. Andai si kembar sudah jauh lebih besar sedikit, pasti liburan mereka jadi lebih sempurna karna tak berdua saja.


"Iya, terserah padamu. Kamu sudah lebih tenang kan?" tanya Fajar, mengingat tujuan mereka berlibur tentu ingin menyenangkan Shena, dan membuat wanita itu sebentar saja menepi dari rutinitas harian yang terus seperti itu.


Sebagai ibu, tentu ada ikatan bathin yang terjadi antara ia dan anak anak selama berpisah meski si kembar baik baik saja, namun dalam hati kecil mereka tentu tetap mencari sosok mama dan papanya yang biasanya selalu ada bersama.


Setelah mengiyakan keinginan Shena, sepasang suami istri itu mandi secara bergantian tak seperti biasanya yang sering kali di lakukan berdua, niat hati ingin mempersingkat waktu yang ada justru tenggelam dalam surga dunia.


Selama menunggu Shena selesai, Fajar mengurus kepulangan mereka untuk esok pagi, termasuk memberi tahu Ayah dan Bubun lebih awal.


"Sudah?" tanya Fajar sambil mengulurkan tangan.


"Iya, kita makan dimana sekarang?" tanya balik Shena yang langsung menerima uluran tangan sang suami, saat bergandengan tangan itulah ia selalu merasa aman dan nyaman, tak pernah takut akan hal apapun lagi karena ia tahu jika Fajar akan melindunginya.


"Tepi laut," jawab Fajar sambil tersenyum.


Seolah punya firasat dengan keinginan pulang istrinya, ia justru sudah membuat rencana untuk menikmati sarapan pagi dengan nuansa berbeda.


"Cuma di tepi kan?" tanya Shena seperti ragu.


"Iya, apa di tengah laut? nanti kita naik kapal pesiar ya," jawab Fajar dengan entengnya serasa yang di sebutnya tadi adalah odong odong.


"Ish, ngeri ah. Naik pesawat aja mual," ucap Shena yang belum apa-apa sudah memikir kan perjalanan pulangnya nanti.

__ADS_1


Fajar yang mendengar itu terkekeh kecil lalu mencium punggung tangan Shena yang sedang ia genggam. Tak seperti Bintang dan Rinjani yang sering ikut dalam perjalanan bisnis sang suami, Shena justru lebih memilih diam dirumah menunggu. Alhasil, Fajar lah yang sering mengalah melimpahkan pekerjaan pada yang lain yang sekiranya bisa meng-handle ke luar kota atau negeri karna Abang Asha dan Lintang tentunya sambil menyelam minum air yang artinya sembari berlibur dan bulan madu untuk kesekian kalinya setelah urusan pekerjaan mereka selesai.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit dengan mobil, Fajar dan Shena turun dan berjalan bersama menuju tepian laut, sudah terlihat oleh sepasang suami istri tersebut sebuah meja dengan dua kursi yang saling berhadapan. Senyum merekah di ujung bibir Shena yang jika ini mimpi tentu ia tak ingin bangun lebih dulu.


"A', ini luar biasa sekali," ucao Shena yang terharu.


"Untukmu, Sayang."


Fajar menarik kursi untuk istrinya duduk, hal istimewa yang lagi dan lagi ia lakukan pada istrinya, seperti tak pernah bosan membuat wanita itu untuk bahagia.


Hidangan yang sudah tersedia di atas meja tinggal mereka nikmati bersama. Obrolan tentang masa depan yang indah pun mulai mereka rancang dan itu semua pastinya tak lepas demi anak anak.


"Cukup dua saja untuk sekarang ya," ucap Shena karna bayangan ruang operasi masih membekas di pelupuk matanya.


"Iya, Sayang. Kalau ZaRa dan XaRa sudah besar baru kasih adik ya," sahut Fajar yang sebenarnya hanya menggoda, kadang ia rindu dengan tingkah konyol Shena yang menguras rasa sabarnya. Tapi, rasanya wanita itu tak lagi sempat untuk melakukan hal tersebut.


"Aku gak janji," jawab Shena.


Makanan yang tinggal sedikit tak di habiskan oleh Shena. Hawa dingin dari angin laut membuatnya ingin pergi ke toilet.


"Biar ku antar," jawab Fajar saat sang istri berpamitan.


"Aku bisa sendiri, nanti aku tanya pelayan yang tadi," tolak Shena yang meyakin suaminya jika ia akan kembali dengan baik baik saja.


"Jauh loh, Sayang."


"Masih sekitaran sini A', aku pergi ya," pamitnya lagi yang di balas anggukan pasrah dari Fajar. Ia tatap punggung wanita halalnya dengan perasaan tak enak hati.


Dan, di tengah rasa anehnya itulah Fajar alihkan pada ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ada beberapa notif pesan yang kini sedang satu persatu di baca oleh Fajar dan yang lebih dulu di balas tentu dari Bubun, setelah nya dari Lintang dan Niha yang memastikan kepulangan Sang presiden direktur esok hari. Barulah ia menyimak dengan baik obrolan dalam grup para sepupunya yang tak pernah sepi, setiap detik ada saja yang di bahas meski itu tak penting.


**Deg**...


Fajar yang baru ingat Shena belum kembali tentu langsung panik, sudah lebih dari 20 menit wanita itu tak kunjung datang karna tak mungkin juga ia mengantre di dalam toilet sana.


.


.


.


Ya ampun, Shena!

__ADS_1


__ADS_2