
🍂🍂🍂🍂
Setelah dua minggu kembali ke rumah sakit dan benar benar di nyatakan positif hamil kini semua keluarga tahu jika Shena tengah berbadan dua, target Fajar tentu Lintang dan El. Pria yang kini berstatuskan suami siaga memohon dengan sangat pada adik kandung dan sepupunya itu untuk tak menganggu Shena.
Dan itu terbukti hingga di kehamilan Shena yang kini menginjak 4 bulan, bahkan acara tasyakuran yang terjadi beberapa hari lalau saja semua aman terkendali tanpa ada drama kejar kejaran atau pun saling ledek, tapi bukan berarti Fajar bisa tenang karna ada saja yang mereka ributkan bertiga bahkan berempat jika abang Asha sudah ikut jahilnya juga.
"Duuuuuuung--," panggil Lintang dari ujung tangga sedangkan Shena sudah ada di tengah tengah.
"Gal denger!" jawab Shena yang kembali melanjutkan langkahnya dengan pelan dan satu satu, meski usia kehamilannya baru masuk trimester kedua tapi perutnya sudah terlihat besar dan pastinya itu berat bagi Shena yang punya ukuran tubub langsing dan mungil.
"Belagu banget nih calon emak emak, weeeek!!" ledek Lintang sambil tertawa melewati Shena di tangga.
Shena yang geram hanya bisa mengepalkan kedua tangannya tentu ia masih Shena yang dulu yang mudah terpancing emosinya jika sudah berusan dengan si kuncen akhirat mau pun penjaga pintu neraka.
Tapi, ia masih inghat dengan pesan sang sumai dan kedau mertuanya termasuk abag dan enin, meski anak itu belum lahir shena begitu sayang dan tak sabar ingin cepat melahirkannya ke dunia.
"Shena, mari kakak bantu," ucap Rinjani yang langsung mengulurkan tanganya.
Shena yang tahu siapa yang datang langsung tersenyum simpul, ia begitu senang karna Bintang dan Rinjani bak ibu peri baginya selagi sang suami sibuk di kantor.
"Mau kemana?" tanya adik iparnya itu sambil ikut berjalan pelan turun ke lantai bawah, Rinjani tahu betul apa yang di rasakan Shena karna ia yang lebih dulu merakan ibu hamil.
"Gak tahu mau kemana? bosen di akamr terus," jawab shena yang memang pusung sendiri.
"Kak Bintang baru beli kue tadi, aku juga belum cobain, kita makan sama sama ya," ajak Rinjani yang di iyakan oleh Shena, baru mendengar saja serasa air liur sudah mau tumpah.
Keduanya kini berjalan ke arah ruang makan yang ada di dapur bersih, tempat paling cicok untuk bersanatai sambil mengemil makan ringan, masih dengan bergandengan tangan, Rinjani menarik kursi untuk Shena duduk lebih dulu, perutnya yang membuncit memang harus banyak bantuan jika ingin melakukan sesuatu.
"Terima kasih, Kak," ucap Shena sambil duduk, tak perduli dengan status mereka yang kakak adik ipar tapi menurut Shena, Rinjani tetap kakaknya.
Kini, baru Shena yang duduk sebab istri dari Lintang Rahardian Lee Wijaya itu sedang mengambil kue yag katanya naru di beli oleh kakak ipar mereka, tak hanya itu, Rinjani juga membawa piring sendok kecil dan jus buah dari dalam lemari pendingin.
Jangan harap para nona muda itu akan tinggal tunjuk saat butuh ini dan itu kepada para pelayan, karna selagi mudah dan bisa di lakuakn sendiri mereka akan melakukannya.
__ADS_1
"Sepi banget ya, pada kemana?" tanya Shena saat sadar di lantai bawah tak ada siapa pun begitu pun dengan Lintang ynag juga entah kemana saat ini setelah turun barusan.
"Aku cuma tahu Bubun hari ini kunjungan ke rumah sakit ibu dan anak, sedangkan Kak Bintang ke apartemen temannya," jawab Rinjani yang kini sudah ikut duduk duduk jga saling berhadapan dengan Shena.
Para menantu Lee Rahardian itu terus mengobrol sambil menikamati kue manis dari rasa ciklat batangan yang menjadi topingnya.
"Aku lapar terus sekarang, bahkan sampai binhung maua makan apa lagi." ucap Shena saat isi piringnya itu kosong.
Dan itu berhasil membuat Rinjani tertawa, semua ibu hamil hampir merasakan hal tersebut, perut serasa tak ada kenyangnya dengan mulut yang enggan berhenti mengunyah. Tapi semua mau tak mau di nikmati karna yang di pikirkan tentu bukan dirinya saja tapi ada malaikat kecil yang ikut makan apapun yang ibunya telan.
"Tak apa, selagi itu bukan makanan yang membahayakan untuk mu dan juga bayimu makan saja, Shen," ujar Rinjani yang jauh berpengalaman.
Shena patut banyak banyak bersyukur karna semua baik dan perhatian, tak bisa ia bayangkan jika hidupnya masih bersama si Batagor. Meski kecil kemungkinan untuk hamil tapi bukan berarti pria itu tak memberikan atau menjualnya di kala susah bosan.
Pria yang punya kelainan seperti itu butuh kepuasan dari rasa takut, kaget dan jijik. Jika sudah terbiasa pastinya tak ada lagi raut menegangkan di wajah korban pelampiasan napsunya tersebut.
Jadilah mereka akan mencari mangsa baru yang jauh lebih polos dan tak paham apapun.
"Shena, kenapa melamun?"
"Enggak, Kak. Oh ya, lusa aku dan Aa akan menginap di rumah Abah. Kalian mau ikut?" tawar Shena yang sudah merencanakan hal ini dari minggu lalu.
"Hem, aku belum bicara dengan Lintang, nanti ku kabari jika dia dan anak anak mau ya," jawab Rinjani yang tak bisa memastikan apapun.
Sama dengan Fajar, Shena juga lah cucu mantu yang paling dekat dengan Abah dan Enin, tapi bukan berarti Angkasa, Bintang, Lintang dan Rinjani tak sayang dengan pasangan baya itu, hanya saja Shena yang tak punya orang tua lengkap lagi mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk Abah serta Enin.
Shena hanya mengangguk, ia tak bisa memaksa meski rasanya ingin di sana bersama sama lagi seperti ini.
"Aku kesana karna Aa mau keluar kota, pergi pagi pagi sekali dan belum pasti kapan pulangnya," jelas Shena.
"Maksudmu kapan pulangnya itu apa?" tanya Rinjani tak paham.
"Iya, entah malamnya atau mungkin besoknya lagi."
__ADS_1
"Oooh, iya. Memang suka begitu, kamu do'akan saja semoga Aa cepat pulang nanti ya, berangkat selamat dan pulang pun demikian, tujuannya mulia yaitu mencari nafkah, tugas kita sebagai istri cukup menunggu dengan tak lepas dari doa," ucap Rinjani yang di iyakan langsung oleh Shena.
Obrolan mereka terus berlanjut karna mulai meleber kemana-mana, senang rasanya bisa bertukar cerita seperti ini yang tak hanya seputar kehamilan dan anak saja.
"Kak Jani liatin perut aku terus memang mau hamil lagi?" tanya Shena yang sadar di perhatikan.
"Hah? aduh, untuk sekarang enggak dulu deh, nanti aja setelah anak anak besar karna mengurus Lintang saja sudah jauh merepotkan, karna dia bayi ku yang tak akan besar besar," jawab Rinjani sambil tertawa.
Begitu pun dengan Shena, jika di telisik justru pernikahan mereka berbanding terbalik sebab disini Shena lah yang begitu di manja oleh Fajar. Pria itu sangat baik dan bahkan memikirkan rasa sabar melebihi dari Phiunya.
"Loh, kalian makan apa ini?" tanya Mhiu yang tiba tiba datang, Rinjani dengan sigap langsung menarik satu kursi lagi untuk duduknya Sang Nyonya besar Rahardian Wijaya.
"Kue dari Kak Bintang, enak deh manis banget," jawab Shena yang tak berani menawari wanita baya itu sebab Mhiu Biru sudah lama tak makan coklat.
"Nikmati ya, coklat juga bagus untuk menstabilkan moodmu, apalagi jika sedang hamil seperti ini, suasan hati kadang naik turun sulit di tebak karna jauh lebih sensitif."
Tak hanya Shena, karna Rinjani pun ikut menganggukan kepalanya. Semua yang dikatakan atau terucap dari mulut Mhiu selalu saja benar dan bisa menenangkan. Tak beda dengan Aunty Rindu yang akan menjadi penerus Nyonya besar Rahardian.
"Bubun kalian belum pulang?"
"Belum, mungkin sebentar lagi, atau akan bareng denga Ayah," jawab Rinjani yang sudah tahu kebiasaan ibu mertuanya tersebut.
"Tapi Lintang mana ya, tadi dia, keluar kamar lebih dulu," tanya Rinjani yang baru sadar dengan dengan ketiadaan suaminya tersebut.
"Ada di kamar, lagi semedi sama Phiu," jawab Mhiu sambil Terkekeh, ia akan kalah dan mengalah jika cucunya itu sudah datang.
"Bukannya tadi udah turun ke bawah, lalu kapan naiknya?" Shena yang bingung sediri sampai menautkan kedua alisnya.
Mhiu dan Rinjani pun tertawa, ia mengatakan bisa saja suaminya itu naik kembali menggunakan Lift.
.
.
__ADS_1
.
Oh, kirain Kuncen Akhirat punya jurus menghilang, gituu...