
🍂🍂🍂🍂🍂
ZaRa dan XaRa yang belum kembali tidur di biarkan saja di atas kasur, jika tak menangis Shena tak akan menggendongnya karna pasti ia akan kerepotan sendiri, apalagi Fajar sedang pergi sebentar karena ada urusan mendadak yang cukup mendesak di kantor.
Di rumah itu kini hanya ada Abah dan Enin serta ART, sedangkan Ayah juga Bubun belum datang. Shena dan Fajar cukup mengerti karna krucil di rumah utama sangat menempel dengan mantan Buaya dan kadal jantan.
Tok... tok.. tok.
Suara ketukan pintu membuat Shena menoleh, ia bangun dan langsung membuka benda bercat putih tersebut.
"Anak anak tidur?" tanya Enin pelan bahkan nyaris tak terdengar.
Kamar Fajar di rumah ini tentu tak seluas dan semegah di rumah utama meski tetap ada kamar mandi di dalam nya masing-masing. Jadi untuk bicara saat ada bayi begini tentunya harus pelan agar tak menganggu.
"Habis NyuSsuu, Enin. Belum tidur lagi, ayo masuk," jawab Shena.
Enin melanjutkan langkahnya menuju ranjang. Ia yang memang membawa satu mangkuk sayur dan jus buah langsung di letakkan di atas nakas.
__ADS_1
"Belum bosen kan?"
Shena hanya tersenyum, meski ia masih sangat muda tapi bukan berarti ia tak punya naluri sebagai ibu, karna kini terbukti jika ia bisa menekan egonya demi kedua putrinya, ZaRa dan XaRa.
Shena yang hanya bisa memberikan sedikit ASI memang harus rajin rajin banyak makan sayur, buah dan air putih di barengi juga dengan beberapa vitamin yang semuanya rutin ia minum. Ia kesampingkan rasa bosan itu demi Si kembar meski jika tak ada sama sekali tetap di bantu oleh Sufor.
"Enak kok', Shena masih mau makan," jawabnya yang terus berterima kasih lewat tatap matanya.
Beruntungnya, Shena tak mengalami Baby blues syndrome, di mana ini biasanya terjadi pada seorang ibu pasca melahirkan. Mungkin karna tingginya support dari keluarga dan perhatian penuh dari sang suami membuat Shena bisa selalu tenang tanpa banyak yang ia pikirkan, cukup tetap fokus hanya pada si kembar saja.
Enin yang duduk di tepi ranjang menatap dua makhluk mungil yang begitu cantik.
"Enin yang tadinya seorang diri, lalu datang Abah dan Ayah mertuamu siapa sangka kini jadi ramai," ucapnya sambil mengusap pipi ZaRa, si sulung yang yang lebih dulu lahir menyapa dunia.
"Aku juga, Enin. Aku sekarang gak cuma punya bapak, tapi kalian semua."
"Tetaplah bersama meski ujian rumah tangga tak bisa di hindari. Rasa lelah kadang membuat perasaan jauh lebih sensitif. Luapkan saja, katakan apa yang membuat dadamu sesak," pesan Enin yang masih melihat rumah tangga cucu mantunya itu masih dalam tahap manis manis buah jambu.
__ADS_1
Bukan menyumpahi atau menakuti hanya saja tak akan ada yang bisa menjamin jika sebuah pernikahan tak luput dari salah paham dan cemburu. Dua perasaan itulah yang kadang jadi racun dalam sebuah pernikahan, tapi jika bisa menghadapi dan melewatinya itu justru jadi bumbu cinta untuk memperat hubungan.
Shena mengangguk paham, kini bukan saatnya ia bermain main karna seluruh perhatian Fajar pun tak lagi berpusat padanya, ada ZaRa dan XaRa yang jauh butuh kasih sayang.
"Kamu makan dulu ya, biar si kembar Enin yang jagain, kebetulan mereka juga lagi anteng," titah Enin yang kadang jadi ibu itu harus pintar mencuri waktu dari si bayi yang seolah menggoda.
"Iya, mereka udah kenyang semua, malah gak mau lepas tadi," kekeh Shena saat ingat kedua putrinya itu saat menyuSsuU.
"Asi atau sufor?" tanya Enin.
.
.
.
ASI, soalnya Aa mau pijit pijit katanya.
__ADS_1