Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 125


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Shena yang ternyata masih meringkuk di atas ranjang di hampiri oleh Fajar yang masuk kembali ke kamarnya usai berbincang dengan Bubun perihal keinginan dokter yang disampai kan tadi di rumah sakit. Fajar yang sebenar nya masih sedih dan serba salah harus berkali kali menarik napas dalam dalam lalu di buang.nya perlahan, ia harus bersikap jauh lebih tenang di hadapan sang istri yang suasana hatinya seang kacau.


"Sayang, Aa bawa jus tomat yang kamu mau, ayo bangun dulu," ucap Fajar yang kini sudah duduk di tepi ranjang.


"Gak pakai gula 'kan?"


Fajar menggelengkan kepala, ia tak perlu bertanya tentang itu dan Shena pun tak usah lagi memberi tahu sebab pria yang kini sedang tersenyum simpul kearahnya sudah hapal betul apa yang di sukai dan tak di sukai oleh istrinya, apalagi selama hamil yang kadang perasaan Shena jauh lebih sensitif meski salah sedikit saja.

__ADS_1


"Enak, kenapa gak bikin segelas gede? Emang tomatnya gak ada lagi ya?" tanyanya terkekeh, tawa itu tak enak di dengar karna jelas sedang di paksakan.


Sedang Fajar yang sadar akan hal tersebut langsung mengambil gelas berisi jus tomat yang tinggal setengah itu untuk ia letakkan ke atas nakas.


Tangan Shena yang kini tak lagi memegang apapun di raihnya untuk di genggam, sejauh ini hanya pelukan dan sentuhan tangan yang bisa Fajar lakukan untuk si calon ibu.


"Shena takut banget A'," ucapnya lirih yang mulai terisak.


"Tapi kan harusnya bulan depan, bukan besok," rengeknya yang ternyata sidah mengalir air matanya.

__ADS_1


"Iya, bulan depan jika Shena melahirkan normal, tapi untuk sekarang Shena belum bisa. Gak apa apa ya, kali ini aja Aa mohon Shena nurut sama Aa juga Dokter," mohon Fajar yang juga sudah berkaca kaca matanya, ia sampai memalingkan wajah hanya untuk menghapus cairan bening itu sebelum jatuh ke pipinya, Shena kan semain sedih jika tahu sandaran hatinya menangis.


"Memang Shena selama ini gak nurut? Aa tahu kan kalau obat, vitamim dan susunya selalu Shena habiskan, lalu kenapa bukan kalian yang kali ini nurut sama Shena?" tanyanya dengan tatapan tak habis pikir dan kecewa dengan keputusan yang haris ia terima.


"Anggap ini permintaan terakhir kami untukmu ya, Sayang," lirih Fajar yang semakin tak kuat menguasai gejolak dalam dadanya.


"Memang, habis operasi Shena mati?" tanyanya.


Fajar tentu buru buru menggelengkan kepalanya, untuk membayangkan saja rasanya ia tak sanggup sama sekali. Entah akan jadi apa hidupnya nanti tanpa Shena sebab ia tak mencari tanya sempurna melainkan yang selalu ada.

__ADS_1


Ya, Shena nya tak pernah pergi atau meninggalkan. Mereka selalu bersama dengan segala rasa yang ada termasuk keluar dari rasa trauma.


Kini, keduannya tak ada lagi yang bicara jika Fajar sedang mempersiapkan segala hal untuk dan selama di rumah sakit, Shena justru sedangkan sibuk dengan pikirannya sendiri. Hidup dan matinya kini seolah ada di depan mata demi nyawa baru yang akan menyapa dunia. Dokter tentu tetap manusia biasa yang hanya bertugas melakukan yang terbaik karna si pemilik hidup pastinya Tuhan sang Maha Segala Nya.


__ADS_2