
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Fajar yang baru keluar dari ruang Meeting langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya di ikuti oleh Niha selaku asisten pribadinya selama ini. Kepala yang serasa mau pecah membuat pria itu memilih duduk lebih dulu di sofa panjang untuk mengistirahatkan otaknya.
"Minum dulu, pekerjaanmu masih banyak," ucap Niha yang datang dengan dua gelas minuman dingin.
"Hem, Terima kasih. Aku bisa pulang sore kan? kemarin aku sudah pulang malam," pinta Fajar yang merasa kasihan pada Shena.
"Kenapa? apa istrimu merajuk saat kamu pulang telat?" tanya Niha yang sama lelahnya.
"Tidak, hanya saja aku tak tega jika ia harus menungguku lagi sampai malam."
Niha tersenyum simpul, sebegitu besarnya cinta Fajar Rahardian Lee Wijaya pada Senandung. Wanita yang memang cantik berusia belasan tahun tersebut.
Meski tak aneh, tapi ada rasa iri menyelinap di hati Niha sebagai wanita yang juga ada rasa pada pria di depannya kini.
"Dia pasti paham tentang pekerjaanmu, lagi pula bukannya banyak orang di rumah utama, tak mungkin tak ada yang menemaninya kan?x" tanya Niha yang kenal baik dengan keluarga Rahardian.
"Iya, untung ada Bubu juga, jadi ia tak bosan menungguku."
"Bubu, siapa Bubu? aku baru dengar," tanya Niha bingung karna seingatnya tak ada nama itu sebagai penghuni rumah utama.
"Anak Macan, peliharaaan Shena," jawab Fajar.
__ADS_1
"Apa????!!!"
.
.
.
"Hus - Hus--, sana pergi, El tuh belum Clulut Clulut tau!"
RaXel Rahardian Wijaya tentu tak menyangka jika akan langsung disambut oleh Anak Macan putih yang bagi Shena itu sangat menggemaskan. Tak ada yang cerita padanya akan tamu rumah utama kali ini, jadi tak salah jika Pemuda tampan kaya raya itu kaget bukan main.
"Sana ih, kamu ngapain? kamu siapa?" tanya El sambil terus menghindar.
"Bun, ini apa? Miong baru Uncle ya?" tebak El pada Bubun.
"Ini kesayangannya aku, weeeeeh!" sahut Shena yang langsung mengendong Bubu tapi Si anak Macan malah meronta. Dan...
"Huuaaaaaaaaaa----"
Drama kejar kejaran pun terjadi dan untungnya itu di halaman samping jadi tak perlu khawatir anak menusia dan anak hewan itu akan menabrak apapun di dalam rumah.
Shena yang senang tentu tertawa dan ikut mengejar Bubu, tapi bukan untuk di tangkap melainkan di beri intruksi lainnya. Bahagia sekali rasanya melihat El begitu takut hingga banjir keringat saking lelahnya berlarian.
__ADS_1
"Tangkap gak!!!" titah El pada Shena yang ada Bubu juga di dekat wanita itu.
"Enggak, kata Abang Asha kalau di gigit tangannya bisa putus loh. Kutu kupret mau nyobain gak?" tawar Shena sambil tertawa.
"Heh, Dung Dung Pret tekewer kewer, situ waras gak sih!" teriak El yang sungguh menyesal sudah datang ke rumah utama.
"Apa? sini kalau berani deketin. Biasanya juga deket deket terus sama aku," ledek Shena sambil mencibir sedangkan El rasanya mual sekali.
Tentu ia tak berani karna tampang Si Bubu sungguh tak bersahabat. Ia yang biasanya rapih dan harum kini berantakan dengan baju yang basah.
"Masukin kandang, cepetan!" titah Tuan muda Rahardian tersebut.
"Ish, orang Bubu lagi main. Kenapa jadi kamu yang ngatur?"
.
.
.
El.. mau turun woy! ngeri nih di atas pohon!!!
__ADS_1