Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 121


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Setibanya di rumah Abang dan Enin, mereka yang sudhh di tunggu di teras depan rumah pun langsung di sambut dengan pelukan bahagia.


Satu pekan tak bertemu saja rasanya sangat luar biasa karan harus menahan rindu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Enin yang kedua tangannya kini menangkup wajah cucu mantunya tersebut.


"Aku baik, Enin sendiri?" tanya balik Shena yang tak hanya rindu penghuninya tapi juga bangunannya.


Rasanya semua begitu cepat, padahal ia masih ingat betul bagaimana saat pertama kali menginjakan kaki di rumah ini, tapi semua seolah berlalu dengan cepatnya karna terbukti ia datang justru dengan perut yang kian membuncit.


Proses demi proses di jalani oleh Shena, mulai dari status janda, istri dan kini ibu. Semua itu tak pernah terbersit dalam pikiran Shena yang sebelumnya hidup jauh dari kata beruntung tersebut.


"Seperti yang Shena lihat," jawab Enin sambil sedikit terkekeh.


Dua pasang suami istri itu pun masuk kedalam rumah yang selalu nampak sepi jika tak ada keturunan yang datang.


"Aa mau pergi sekarang?" tanya Abah.


"Iya, harusnya pagi pagi banget, tapi gak apa-apa se siang ini juga," jawab Fajar yang melirik kearah istrinya.


Kedua wajah itu merah merona layaknya buah tomat yang matang di pohonnya. Tentu semua ini karna hal kejadian di luar pikiran, dimana mereka kembali bercinta di dalam kamar mandi yang seharusnya saat itu justru Fajar dan Shena sudah bersiap untuk sarapan.


Ada saja memang kelakuan dua orang tersebut yang kadang tak kuasa membendung hasRAat apalagi tahu jika mereka akan terpisah oleh jarak hari ini, belum jelasnya kapan Fajar kembali seolah ingin memuaskan diri masing-masing selagi sempat.


"Shena tetap disini kan?" tanya wanita baya tersebut yang di jawab anggukan kepala oleh Shena.

__ADS_1


Si bumil selalu nampak senang jika sudah berada di dalam pelukan Fajar, Bubun, Enin dan Mhiu. Belum lagi jika ia berada dalam lift yang entah kenapa langsung merasakan kehangatan juga, meski berkali kali sang suami mengatakan jika itu menyeramkan tapi Shena tak pernah takut. Ia menikmatinya hingga selalu lagi dan lagi ingin berada di dalam kotak besi tersebut.


"Kalau gitu Aa berangkat ya, titip Shena, cepat hubungi Aa jika terjadi sesuatu padanya," pesan pria itu yang sebenarnya tak tega meninggalkan istrinya jauh ke luar kota. Tapi, ia juga punya tanggung jawab lain sebagai seorang pemimpin perusahaan.


"Kamu tenang saja, Shena akan baik-baik saja," jawab Abah yang paham betul dengan perasaan cucunya tersebut, terlebih Shena sedang hamil rasa khawatir tersebut pasti akan berlipat ganda pastinya.


Fajar mengangguk, ia tentu percaya karna Abah dan Enin begitu sangat menyayangi Shena justru jauh sebelum mereka menikah, kasih sayang itu tak perlu lagi di ragukan karna semua sudah terbukti nyata dimana Abah dan Enin pun ikut turut andil dalam penyembuhan Shena dari rasa traumanya tersebut.


Fajar yang berpamitan tentu langsung meraih tangan sepasang baya itu untuk di cium takzim punggung tangannya secara bergantian. Hal yang sama pun di lakukan Shena pada suaminya, ia langsung mendapat balasan ciuman bertubi tubi hampir di seluruh wajah cantiknya.


"Pipimu selalu membuat ku gemas, Shena," kekeh Fajar saat pipi itu kini kian gembil.


"Ish, geli." protesnya dengan wajah yang kian merah merona, padahal wanita itu malu jika harus di perlakukan seperti itu di depan Abah dan Enin.


"Aku berangkat ya, jaga dirimu baik baik. Jangan makan yang terlalu pedas dan jangan juga naik turun tangga, paham?" pesan Fajar pada istri kecilnya.


"Iyaaaa, gak pedes kok, aku janji," jawab yang masih nampak mencurigakan.


Meski tak tega, tapi Fajar harus benar benar pergi, ia yang di antar sampai teras harus berkali-kali menoleh ke arah istrinya yang kadang melihat dengan seksama ke area perut dimana ada buah cinta mereka disana yang ikut di tinggalkan juga.


"Hati hati ya, A' cepat kembali," ucap Shena sedikit berteriak karna suaminya sudah masuk kedalam mobil.


"Aku akan meneleponmu saat sampai disana nanti," jawab Fajar.


Sebelum ke luar kota, tentu ia akan ke kantor lebih dulu. Bersama dengan Niha, dua satu sekertarisnya dan beberapa team yang lain. Ada 6 orang yang akan pergi jadi semua tentu dirasa aman termasuk bagi Shena yang akan membuang jauh jauh pikiran buruknya. Berkali-kali ia menepis, berkali-kali juga ia yakin jika sang Asisten menaruh rasa pada suaminya tersebut.


"Shena, ayo masuk," suara Enin yang berada di ambang pintu membuat si bumil menoleh, ia tersenyum kecil lalu melangakaj sembari mengusap perutnya.

__ADS_1


"Katanya, Bubun dan Kak Jani mau kesini besok, Enin."


"Iyakah? bagus dong, bisa tambah ramai rumah ini kalau mereka datang juga," jawab Enin yang selalu membuka lebar pintu rumahnya untuk. para keturunan putra semata wayangnya tersebut. Meski bukan lahir dari rahimnya, tapi Ayah Keanu tetap yang paling berharga, karna dialah Abah dan Enin bisa menikah dan bersama hingga detik ini.


"Iya, tapi gak nginep," ucap Shena lagi.


"Tak apa, mau satu dua menit pun Enin bahagia sudah bisa melihat mereka."


Bukan tak ingin, tapi rasanya mereka segan jika harus datang ke rumah utama. Bagaiamana pun keluarga sang menantu bukan orang biasa. Ada saja perasaan tak enak hati meski besan mereka yaitu Phiu dan Mhiu selalu bersikap terbuka pada siapa pun. Tak pernah memandang kasta, karna yang sudah sudah jelas mati pun tak membawa apa-apa, hanya amal kebaikan yang turut serta mendampingi di alam keabadian.


"Kalau Shena yang lama-lama disini, boleh?" tangannya dengan kepala sedikit miring tak lupa kedua matanya yang kedip kedip manja.


Enin bukan menjawab malah tertawa melihat tingkah Shena yang tak ada berubahnya sampai sekarang. Selalu ada saja yang membuat orang sekitarnya senang meski yang di lakukan wanita itu cukup sederhana.


"Mau tinggal disini pun tak apa, Enin itu cuma punya kalian," jawab Si wanita baya sambil mencubit gemas hidung Shena yang kini terlihat sedikit tenggelam karna kedia pipinya terlihat semakin berisi.


Kedua obrolan wanita tersebut berhenti saat Abah datang membawa sebuah bungkusan plastik, Enin dan Shena tentu bukan Fokus pada pria tersebut, melainkan apa yang sedang di tenteng abah di tangannya.


"Abah bawa apa?" tanya Enin.


.


.


.


.

__ADS_1


Bawa Es Cendol....


__ADS_2