
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Suami mana pun akan senang melihat pujaan hatinya kini berangsur baik, cukup banyak yang sudah mereka lewati, terutama keluar dari rasa trauma yang sempat Shena lalui. Sangat tak mudah baginya menjalani hidup yang serba kurang semuanya. Tapi tentu itu dulu, karna sekarang ia sudah memiliki pria yang mencintainya dengan sangat tulus dengan bonus tinggal di tengah keluarga yang hangat serta tempat yang nyaman dan aman untuknya juga.
"Lagi?" tanya Fajar yang di balas gelengan kepala.
Keduanya mengobrol sambil Fajar menyiapkan obat untuk Shena minum. Ingin rasanya cepat pulang tapi masih ada satu pemeriksaan lagi yang harus di jalani oleh Shena setelah ini.
Ceklek
Pintu di buka Fajar saat ia mendengar ketukan dari balik benda tersebut, ia tersenyum simpul saat tebakannya kali ini benar, jika yang datang memang Ayah dan Bubun.
"Apa kabarmu, Sayang?" tanya Bubun setelah mengurai pelukan dari sang menantu.
"Aku gak apa-apa, Bubun jangan marahin aku ya, Aa tuh yang salah," ucapnya yang langsung membuat pembelaan.
"Memang, dasar anak nakal!" cetus Bubun yang mentap kesal pada putra keduanya, sedang yang di tatap hanya bisa mengusap tengkuknya saja.
"Maaf, Bun. Aku benar-benar fokus pada Shena semalam," balas Fajar yang merasa sangat bersalah.
Tapi, tentu tak hanya sampai disitu saja sebab terbukti jika wanita paling berharga bagi Ayah, Angkasa, Fajar dan Lintang tersebut nyatanya masih mengomel karna rasa kesalnya belum tuntas, Ayah yang ikut mendengar pun menyenggol lengan putranya sebagai kode ia harus membuka lebar lebar telinganya sampai Bubun selesai melakukan siraman rohani dadakan nya tersebut.
"Lalu kapan kalian pulang?" tanya Ayah yang akhirnya kini bisa bernapas lega karna ibu dari tiga anak laki-laki itu sudah selesai mengeluarkan unek uneknya.
"Siang ini, tapi tunggu pemeriksaan terakhir, mungkin satu jam lagi," jawab Fajar dengan kedua mata menatap dia wanita yang kini sedang berbincang di atas ranjang, entah apa yang di bahas oleh istri dan bubun nya karna Shena sesekali terkekeh dengan kedua pipi merah merona bagai buah tomat yang matang dari pohonnya.
"Tapi pemeriksaan yang sudah sudah bagaimana?" tanya Ayah lagi yang cukup penasaran.
Entah apa jadinya jika ia bertukar posisi menjadi Fajar. Di banding sang putra, Ayah Keanu memang jauh lebih perasa dan mudah lemas jika berhubungan dengan kondisi istrinya, namun beruntungnya ia diberi pasangan yang kuat lahir bathin karna jika pusing dan sedih saja yang di carinya bukan obat melainkan kartu ajaib, yang di tuju pun bukan rumah sakit tapi pusat perbelanjaan. ( HALU ckck)
"Cuma tekanan darahnya aja rendah, Yah. Gak apa-apa kok' asal habis ini harus banyak istirahat aja sama rutin minum Vitamin juga di jaga pola makannya," sahut Fajar yang belum berani mengabari tentang kehamilan Shena.
Niatnya, ia ingin memberi tahu saat hasil USG di dua minggu ke depan, ia tak mau membuat kecewa keluarganya. Akan ada harapan dan doa saat ia mengatakan kondisi Shena yang baru 'Kemungkinan' sedang hamil tersebut.
"Syukur lah kalau begitu."
__ADS_1
"Tapi Shena ingin pulang ke rumah Abah, sedang aku belum tahu jelas kapan beliau sampai kerumah, Yah."
Ayah nampak berpikir, ia saja anaknya memang tak tahu pasti kapan orang tua nya itu kembali dari luar kota untuk liburan menghabiskan waktu berdua.
"Sudah hubungi Abah?" tanya Ayah.
"Belum, tadi aku telepon Bubun dulu, Yah," jawab Fajar yang baru ingat lagi hal tersebut.
Ayah pun meminta sang putra untuk menghubungi Abah Rendra lebih dulu sebelum mereka datang kesana, dan Fajar langsung menuruti perintah pria tersebut.
"Jangan beri tahu Enin dulu, A', kamu tahu bagaimana kesehatannya 'kan?"
"Iya, Yah."
Fajar yang mulai menghubungi Abah kini merasa sangat senang sebab pria panggilannya langsung tersambung.
"Assalamu'alaikum, A'," sapa Abah di sebrang sana.
"Waalaikumsalam, Bah. Maaf Aa menggangu, Abah sudah pulang?" tanya Fajar langsung ke intinya.
"Tak apa, Shena dan aku rindu kalian," ucap Fajar yang langsung terenyuh hasinya.
Padahal semua orang tahu, jika Ayah Keanu jelas bukan anak Abah dan Enin itu juga artinya jika dengan Fajar pun mereka tak punya ikatan darah sama sekali namun hebatnya justru mempunyai ikatan bathin yang luar biasa dahsyatnya.
"Kami pun merasakan hal yang sama, bahkan semalaman Enin tak bisa tidur saking di rindunya padamu dan Shena," balas Abah yang jujur bercerita tentang istrinya yang gelisah, padahal andai wanita itu tahu jika bukan hanya sekedar rindu yang di rasakan tapi Enin juda punya firasat lain pada cucunya tersebut yang sedang merasa panik.
"Baiklah, esok pagi kami pulang," udah Fajar yang terdengar kekehan senang dari Abah.
"Tentu, Abah dan Enin akan menunggumu ya, Nak."
Kini, obrolan beralih pada Ayah sedangkan Fajar justru sedang menikmati pemandangan yang luar biasa di depannya saat ini. Apalagi jika bukan Shena dan Bubun. Entah apa yang sedang keduanya ceritakan seolah tak pernah ada jarak diantara Bubun dengan para menantunya termasuk Shena yang padahal dari kalangan bawah yang jauh status sosialnya dengan Bubun yang tak lain adalah Nyonya besar Lee yang sebelum menikah dengan ayah ia adalah sang ratu Rahardian Wijaya.
"Aku malu, Bun," ucap Shena yang sedang cekikan sendiri sedang Bubun semakin senang menggodanya.
Wanita itu seolah punya mainan boneka hidup yang menggemaskan saat bersama dengan Shena. Bisa ia rayu, bisa ia ajari banyak hal dan bisa ia bercandai hingga menampakkan banyak ekspresi yang menyenangkan.
__ADS_1
"Maennya pakai helm kalau kamu malu," sahut Bubun yang malah tertawa.
"Ish berat banget dong kepalanya., Shena nanti gak bisa--," ucapnya lagi yang nampak berpikir namun khayalan mesumnya buyar saat ia merasa mual secara mendadak.
Fajar yang mendengar istrinya hampir muntah pun langsung bangun dan menghampiri.
"Gak apa-apa, cuma enek aja sedikit," ucap Shena yang tahu jika suaminya sedang khawatir begitupun dengan Bubun dan Ayah yang ikut menghampiri juga ke ranjang.
"Minum dulu, Sayang."
Bubun yang tak mau terjadi sesuatu pada menantunya malah menekan tombol darurat yang tak lama kemudian datanglah dua perawat untuk memeriksa keadaan Shena.
"Bagaimana? kenapa menantu saya masih mual saja?" tanya Bubun, satu hal yang selalu di lakukan wanita itu adalah menyebut istri istri dari para putranya dengan sebutan menantu, seperti itu saja rasanya sudah membuat bangga dan terharu seolah di akui dan di hargai terkhusus untuk Shena yang jauh berbeda dengan iparnya yang lain, tapi Bubun dan Ayah tak pernah membedakan itu, justru Shena jauh lebih banyak mendapat perhatian karna adil yang sesungguhnya bukan tentang pembagian sama rata melainkan siapa yang paling membutuhkan.
"Itu hal wajar, Nyonya. Karna Nona Shena sedang hamil di trimester pertama," jawab salah satu suster dengan santainya padahal ucapan yang terlontar itu bagai petir di tengah hari bolong.
"Ha--hamil?" tanya Bubun yang memandang Shena dan Fajar secara bergantian dengan tatapan penuh tanya dan belum percaya.
Fajar yang memangguk pelan di barengi dengan...
.
.
.
Gubrak....
🍁🍁🍁
Shena masih nungguin doa dan suport nih dari yang kemarin berbondong-bondong nyerang dia 🤭..
Biar adil dan seimbang gitu..
__ADS_1
Krtik serta kesan manisnya 😇