
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Shena yang sudah menjalani pemeriksaan pun akhirnya di izinkan untuk pulang dengan syarat harus tetap mengkonsumsi obat serta vitamin yang di berikan oleh dokter dan kembali datang di waktu yang sudah di tentukan, tapi meski begitu ia harus dengan cepat ke rumah sakit jika terjadi Flek atau keram di bagian bawah perut.
Kali ini, tujuan Fajar, Shena, Bubun dan Ayah tentu pulang ke rumah utama. Barulah besok mereka akan pergi ke rumah Abah Enin.
Bukan hanya cucunya saja yang rindu tapi juga anak mantunya pun merasakan hal yang sama. Entah akan sebahagia apa pasangan baya itu jika tahu kondisi Shena saat ini.
"Apa besok Abah dan Enin di beritahu juga?" tanya Fajar saat mereka dalam perjalanan yang kebetulan satu mobil.
"Nanti saja, tunggu dua minggu lagi," jawab Ayah yang duduk tepat di sebelah putranya, sedangkan Shena dan Bubun ada di kursi belakang.
"Mhiu dan Phiu?" tanya Fajar lagi.
"Sebelum kamu tahu, bubun rasa mereka yang sudah lebih tahu dan peka dengan Shena," jawab Bubun sembari mengusap kepala menantunya yang bersandar lemas.
Fajar tertawa kecil, jika di ingat ingat memang Phiu sudah memberikan banyak kode padanya termasuk ucapan di ruang kerja kemarin. Tapi karna ia sibuk dengan tingkah Shena, jadilah ia kurang paham dengan apa yang terjadi.
Tak hanya itu, Ayah juga meminta ini di rahasiakan lebih dulu sebelum hasil tes kehamilan Shena benar benar positif.
.
__ADS_1
.
.
Sampai di rumah utama, sang nona muda langsung di bawa ke kamar menggunakan Lift, tapi sebelum sampai di lantai atas, wanita merasakan kehangatan yang luar biasa menenangkan sampai Shena terpejam untuk lebih menikmatinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fajar yang melihat kearah istrinya dengan tatapan aneh.
"Hem, gak apa-apa, A', cuma serasa ada yang peluk," jawab Shena.
"Ish, horor!" balas Fajar yang malah bergidik, dan untungnya pintu kotak besi itu cepet terbuka jadilah Fajar buru buru juga menarik tangan istrinya dari sana.
Ceklek.
"Pegel aku A', " tolak Shena yang malah berjalan kearah balkon.
Ia buka pintu kaca lebar itu lalu keluar sambil menghirup udara dalam dalam.
Meski matahari terik, tempat ia berdiri saat ini akan tetap teduh sebab terhalang pepohonan tinggi yang sejak dulu sudah ada disana.
"Sayang--," bisik Fajar yang malah menyusul kemudian memeluk Shena dari belakang.
__ADS_1
"Kangen Bubu, boleh bawa sini?" tanya Shena sedikit memohon. Kini, hewan berbulu itu memang sudah jadi bagian dari hidupnya.
"Enggak!" tolak Fajar dengan cepat.
"Kenapa ih?"
"Aku kangen kamu, Senandung!" bisik Fajar yang tak lupa sambil mendaratkan bibirnya di leher hingga ke pundak wanita halalnya tersebut.
Jujur, Fajar langsung bergairAah saat melihat bentuk istrinya dari arah belakang barusan, jiwa kelelakian nya berontak namun sialnya ia harus menahan inginnya itu.
'Mohon untuk tidak melakukan hubungan badan dulu ya, Tuan, mengingat Nona kemarin baru mengalami Flek. Hanya saja takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan'
Itulah yang di sarankan dokter saat Fajar pun mengatakan kondisi Shena saat wanita itu bercerita padanya.
Itulah gunanya jadi pendengar yang baik karna jika terjadi sesuatu secara mendadak jadi bisa mengingat semua kejadian tanpa terlewat.
"Aa' geli ih," ucap Shena saat bibur suaminya terus merayap sampai bulu halusnya itu serasa meremang di tubuhnya. Shena yang sebenarnya pun mulai menikmati, tapi rasa itu buyar saat ia dan sang suami mendengar teriakan yang entah dari mana.
.
.
__ADS_1
Woy... mesum dalam kamar noh...
Mata anak kecil tercemar nih..