
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di hari ke tujuh Fajar sudah di izinkan untuk pulang, keadaannya sudah jauh lebih baik karna Shena yang mengurusnya di rumah sakit. Selama 3 hari awal Fajar di rawat, itu menjadi kesempatan untuk Ayah dan Bubun mendatangkan seorang Psikiater kerumah utama untuk Shena. Tentu mereka mengenalkannya sebagai kerabat dekat keluarga jadi Shena mau dan menerima dengan baik. Selama beberapa kali pertemuan itu Shena seolah terhipnotis hingga mencurahkan segala apa yang ada dalam dada dan pikirannya. Sampai akhirnya rasa takut dan rindu itu menyatu di hatinya.
Kini semua sudah terbuka, tak ada lagi beban dalam diri Shena termasuk tentang apa itu pernikahan serta hak dan kewajiban suami istri yang sebenarnya. Tentu, ajakan menikah Fajar di landasi cinta dan ibadah, bukan semata permainan dan main main saja yang selama ini ter doktrin dalam otak Shena. Hal itu di lakukan Si Tagor tentu agar Shena tak banyak menuntut darinya.
Kini, tugas Fajar dan Keluarga hanya lebih meyakinkan Shena karna gadis itu masih butuh rasa nyaman dan aman. Setelahnya barulah mendatangi ayah Shena untuk meminta restu karna bagaimana pun ia harus di nikahkan dengan wali yang sah jika ada dan masih hidup orang-tua atau keluarganya. Apapun statusnya, semua sama di mata Tuhan, jadi harus di perlakukan dengan sebaik-baiknya.
"Ayo, Abang ada urusan nih abis anter kamu pulang," kata Abang Asha, ia satu-satunya yang kini menjemput Sang adik.
"Iya, sabar dulu."
"Emang masih lemes? apa mau pake kursi roda?" tawar Si sulung yang tentunya dengan tawa ejekan.
"Enggak, nanti nyelonong ke kemarin mayat!" cetus Fajar, pria di depannya kini adalah manusia yang tak bisa sepenuhnya di percaya.
Jika bukan karna orang-orang tersayangnya, mungkin Fajar tak akan secepat ini untuk sembuh sebab ada tujuan yang harus segera ia bereskan yaitu menghalalkan Si Janda Perawan.
.
.
"Kata Ayah, Lusa nanti mau ke kota asal Shena, emang iya?" tanya Angkasa saat sudah berada di dalam mobil menuju rumah utama.
"Katanya sih, tapi aku belum tahu waktu tepatnya. Kalau memang lusa, ya Alhamdulillah. Makin cepat makin baik," jawab Fajar yang seolah lega mendengar hal ini.
"Emang Shena udan beneran mau di nikahin?" tanya Abang Asha lagi yang kini jauh lebih serius karna yang ia tahu adik kembarnya itu bukan di tolak melainkan di PHP.
"Itulah, aku belum tanya lagi," sahut Fajar dengan entengnya.
Plaaaaak
Satu pukulan mendarat sempurna di paha kanan Fajar dari kakaknya yang gemas dan kesal dengan jawabannya barusan. Meski terlihat juga ada benih-benih cinta tapi Shena tak pernah berkata iya dan tidak. Ada saja jawaban gadis itu yang selalu membuat Fajar lemas di buatnya.
"Enak banget maen samperin bapaknya. Ajakin dulu yang bener anaknya mau enggak di kawin!" tutur Angkasa yang sedikit terpancing emosinya tapi ternyata pria di sampingnya itu malah tertawa.
"Tenang, Bang. InshaAllah mau," sahut Fajar dengan sangat percaya dirinya.
"Cih, ngarep! tau dari mana kalau Si JanCiL mau kamu kawinin, hah?!" ledek Sang Buaya cilik yang belum dapat hilal untuk tobat.
"Jelas lah, Bang. Menurut ceritanya kan gitu, mana mungkin Mak Othor ganti judul nantinya!"
.
.
.
Dan Sampai di rumah utama, Fajar langsung di sambut oleh keluarga besarnya yang hampir semua datang untuk bentuk syukur karna ia baik baik saja. Mulai dari Pradipta, Biantara, Barata, Wardhana hingga Bramasta semua berkumpul jadi satu.. ( Jangan minta di absen ya, karna terlalu banyak yang masih di RAHASIAKAN)
Shena yang sengaja berada di belakang masih anteng saat semua sudah satu persatu menuju ruang makan.
__ADS_1
"Makin kesini makin pinter ya, JanCil," goda Fajar saat tinggal Shena yang terakhir menyapanya.
"Iya, paling belakang kan bisa mampir gak ketauan."
"Wah, Shena mau ngajakin Aa mojok?" Fajar yang kini semakin senang menggoda tentu Tujuannya hanya untuk menikmati rona merah kedua pipi gadis itu saja.
"Eh, enggak!" Shena yang panik mulai mengurai dekapan pria yang baru pulang dari rumah sakit tersebut.
Tapi bukan Fajar namanya jika ia melepaskan tangannya begitu saja dari bahu Shena.
"Aa jangan macem macem ya, nanti ada yang liat," ancam Shena saat tubuhnya di tarik lalu di sandarkan.
"Gak apa apa, lagi ngarep banget di grebek," sahut Fajar, jurus ninja agar cepat nikah pun sedang ia lakukan.
Shena yang terlihat ketakutan mulai berkeringat di bagian kening nya, sedang Fajar yang langsung peka dan sadar langsung memeluk Shena agar gadis itu tenang. Ia lupa jika si Janda Perawan tak bisa mendapatkan serangan mendadak.
"Kalian udahan belum? El cape nih nutupin muka El yang Demoy pake tangan!"
Mendengar ada suara lain, lantas membuat pasangan itu mencari sosoknya yaitu tak lain dan tak bukan adalah Si anak kecil
"Kamu ngapain, El?" tanya Fajar, sedangkan Shena langsung bersembunyi di balik punggung prianya.
"Gak sengaja lewat, ih."
"Terus kenapa itu mukanya di tutupin, hah?" pertanyaan kedua pun di layangkan oleh Fajar lagi.
"Kan tadi kalian itu dempet dempetan kaya kue lapis. Ntar kalau El pengen juga sampe Clulut Clulut gimana, hayo?" tanya balik El tak mau kalah.
"Rahasia doooong, ini khusus El sama Mak Othor yang tahu." El berlari ke arah ruang tamu sambil tertawa. Dan Fajar dan Shena yang tak tahu hanya bisa saling pandang kemudian ikut menyusul juga.
Mereka yang baru sampai tentu jadi pusat perhatian keluarga, apalagi kedua tangan yang saling menggenggam seakan dunia hanya jadi milik pasangan itu saja.
"Enin-- kangen," ucap Fajar saat ia memeluk wanita baya kesayangannya, ia merasa bersalah sekali karna pasti selama satu minggu ini Enin sangat khawatir padanya.
"Enin jauh lebih merindukanmu, Nak."
Pemandangan hari jelas terlihat membuat siapapun pasti akan sedih dan senang saat melihat tak terkecuali Shena yang kini tak punya Ibu.
Makan siang yang seharusnya membuat Shena menikmati hidangan yang luar biasa banyaknya malah justru membuatnya lebih fokus pada orang-orang yang ada disana.
"Ayo di makan, atau mau yang lain?" tanya Fajar saat sadar Shena hanya diam.
"Ini saudara kamu semua? kok banyak banget? mukanya sama sama sih?" bisik Shena yang mulai takut, ia takut salah lagi seperti dulu. Yang di kira Lintang justru Angkasa yang kena sasaran.
"Iya, kami memang banyak yang kembar. gak apa apa, nanti juga kamu akan hafal satu persatu," jawab Fajar yang kembali mengusap kepala Shena
Shena hanya mengangguk tapi dalam hati ia akan berjanji untuk tidak jauh jauh dari Fajar atau jika perlu ia akan bersembunyi saja dalam kamarnya, itu jauh lebih baik.
"Terima kasih untuk semua yang sudah datang," ucap Phiu setelah makan siang selesai. Karna untuk berkumpul seperti ini kadang sulit di lakukan sebab memiliki aktifitas masing-masing.
"Iya, setiap musibah pasti ada hikmahnya," sahut Galaxy.
__ADS_1
"Cucumu sebiji lagi mana?" tanya Awan.
"Jangan di tanya, entah tidur dimana tuh anak," sahut ArXy, si ManDud yang sudah tak bisa lagi marah dengan kelakuan anak laki-laki bungsunya tersebut. Matanya hanya terbukanya hanya saat sekolah saja, selain itu ia akan memilih untuk terbuai mimpi.
Suara gelak tawa pun terdengar cukup riuh, ada saja kelakuan para keturunan Singa yang memang punya karakter masing-masing, asal tetap saling akur dan rukun.
"Cocok tuh jadi polisi, polisi tidur maksudnya," ledek Sagara tak mau kalah, di lapak ini ia tentu bukan lagi seorang mahasiswa tapi Oppa oppa keren weh..
"Asal jangan jadi Pak kusir aja," balas Gala tak mau kalah.
Sagara pun mencebikkan wajahnya, perihal cicilan Kuda memang selalu jadi bahan ejekan dari para sepupunya.
Selesai makan, semua akan pindah ke tempat Pavorit masing-masing, tapi tidak dengan Fajar yang memilih masuk kamarnya yang pastinya di temani oleh Shena. Mereka naik ke lantai dua menggunakan Lift.
Triiiing...
"Bunyinya kok gak sama kaya di Mall ya A'?" tanya Shena mulai penasaran.
"Hem, ini kan lift jaman dulu banget, memang sengaja kalau masalah bunyi gak di ganti, buat kenang kenangan Amma," jawab Fajar.
"Amma yang punya panci? kata Mhiu itu punya Amma semua, bagus bagus tapi gak bisa di pegang, raknya di kunci," kata Shena yang perlahan tahu dengan rumah utama.
"Iya, Mhiu yang pegang kunci. Siapapun yang jadi Nyonya besar Rahardian, ya dia yang pegang kendali rumah utama," terang pria itu lagi.
Shena hanya manggut-manggut, rasanya ia tak berniat menjadi Nyonya besar karna rasanya pasti akan sangat pusing seperti ngangon bebek...
Fajar yang mendengar Shena cekikikan sendiri pun langsung menarik tangan gadisnya itu saat sudah masuk kedalam kamar.
"Ketawain apa?"
"Enggak, gak ada yang aku ketawain kok," jawab Shena sambil menggeleng, tatapan sendu dengan ekspresi kaget benar-benar membuat Shena cantik bahkan semakin cantik.
"Selama Aa di rumah sakit, yakin gak di ajakin Bubun kemana-mana? hem?" tanya Fajar yang sudah menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher Shena.
"Enggak, cuma di ajak sama siapa ya, Aku lupa buat jalan-jalan."
"Beli apa?"
"Banyak, semua di beli tapi aku gak bayar, katanya ngutang," jelasnya lagi yang kini membuat Fajar menarik kepalanya itu.
"Ngutang?"
Shena langsung mengangguk sambil tersenyum simpul, " Iya, nanti Aa yang bayar."
.
.
.
.
__ADS_1
Aaaaaaaaaaaa, ampun Aa! sakit sakit geli ih.....