
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sudah mandi, sudah harum dan pastinya sudah tampan meski tak ada senyum di wajah Fajar. Bagaimana ia bisa melakukan hal tersebut jika di otaknya masih memikirkan ancaman Shena yang tak kunjung kembali ke kamar.
Entah apa yang di lakukan wanita itu yang semakin lama semakin membuat Fajar tak tenang. Karna perasaannya itulah, Fajar akhirnya memutuskan untuk keluar mencari Shena di kandang Bubu.
"Loh, kok gak ada ya?" gumam Fajar saat sampai di rumah belakang dimana Si anak Macan dan kucing peliharaan uncle nya itu berada.
"Tuan--," panggil Pak Iwan yang tak lain adalah pengawas Bubu.
"Iya, istri saya mana?" tanya Fajar langsung, raut wajah bingung jelas sekali terlihat.
"Nona muda sudah masuk bersama Tuan besar kedalam," jawab Pak Iwan.
Fajar pun mengangguk, ia kemudian masuk kembali ke rumah utama tapi tetap tak menemukan istrinya.
"Shena mana sih!"
Pria tinggi nan tampan itu terus mengedarkan pandangan sampai akhirnya ia melihat Rinjani yang sedang menuruni anak tangga, ia tunggu adik iparnya itu mendekat barulah bertanya.
"Jani, liat Shena gak?"
"Di atas, tadi ngobrol sebentar sama Shena," jawab Rinjani.
Hal seperti ini sangat biasa mengingat rumah utama yang begitu luas, tak jarang selisih jalan maupun ruangan.
"Ok, makasih ya," ucap Fajar yang langsung bergegas ke arah tangga setelah mendapat senyum kecil dari pawang Kuncen akhirat.
Satu persatu anak tangga di naiki Fajar dengan langkah sangat buru-buru, bahkan saat Abang Asha memanggilnya dari ruang tamu saja ia abaikan memilih tetap berjalan sampai ke kamarnya.
Ceklek...
Sebuah pintu di buka dengan tangan kanan dan Fajar pun langsung masuk, tapi lagi lagi ia tak melihat sosok istrinya didalam sana.
"Shena--, sayang," panggil Fajar sambil berjalan ke arah kamar mandi berharap yang sedang di cari ada disana. Namun tak adanya sahutan dari dalam membuat Fajar membuka pintunya yang memang tak pernah di kunci.
"Gak ada juga." Rasa panik pun mulai hinggap dan Fajar langsung menuju ruang ganti karna itu satu-satunya harapan ia bisa menemukan Shena.
"Ups, kaget!" Shena yang hampir menabrak suaminya sampai mundur satu langkah sambil mengusap dadanya sendiri.
"Aku cariin dari--- tadi," ucap Fajar yang sempat menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Ganti baju, kenapa? kangen ya sama istrinya yang cantik dari ubun ubun sampe jempol kaki ini, iya?!" goda Shena dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.
Sedang tatapan Fajar mulai berbeda saat kedua matanya menatap liar kearah dua gundukan daging kenyal milik Shena, memang tak besar tapi cukup padat dan pas sekali saat di remAas atau di mainkan.
"Kamu memangnya gak makan malam? kenapa udah ganti pakai Lingerie?" tanya Fajar aneh dengan tatapan tak lepas dari setiap lekuk tubuh istrinya yang menggairahkan tersebut.
"Mauuu-- makan Aa boleh?" Shena berjalan melewati suaminya menuju tempat tidur.
Lingeri berwarna merah menyala yang wanita itu kenakan tentu sangat memancing gairah Fajar, apalagi saat Shena duduk di tepian ranjang dengan satu kaki yang ia tumpangkan ke kaki yang satunya. Mulus, putih tanpa cacat jelas terlihat di kedua mata pria yang mulai terbakar gairAahnya.
"Ets, mau apa, hah?" Shena menahan tubuh suaminya saat ingin menjatuhkanya ke ranjang.
"Jangan tanya yang sudah tau jawabanya, sayang!"
"Sini aku bukain," ujar Shena yang menarik ujung kaos Fajar hingga lepas dari tubuh nyaris sempurna tersebut, ia buang benda itu begitu saja karna tangannya akan berlanjut membuka celana pendek rumahan suaminya.
Polos..
Ya, begitu lah keadaan Fajat, putra kedua dari pasangan Keanu dan Embun, ia yang sudah sangat bernapsu tak sadar jika sedang mendapat hukuman dari istri kecilnya.
"Gak usah, aku bisa sendiri," tolak Shena sambil menepis tangan Fajar yang ingin menarik tali kecil di pundak mulus bak susu milik istrinya.
Shena menggelengkan kepalanya lalu mundur satu langkah, ia tersenyum simpul dengan sangat manisnya sambil meminta Fajar untuk duduk setengah berbaring di tengah ranjang dengan tubuh yang tanpa sehelai benang pun. Bantal yang menyangga punggung dan kepalanya membuat ia sangat nyaman sampai tak sabar membayangkan Shena dengan gaya andalannya.
"Ayo sayang--," mohon Fajar yang tak lagi kuat menahan gejolak yang ada di dalam dirinya saat ini.
Dan itu terlihat dari daging tak bertulang miliknya yang menjulang tinggi, saking tegaknya seolah sedang menunjuk langit langit kamar mereka.
Shena membuka Lingeri merah yang ia kenakan, berhubung tak memakai apa apa lagi di balik kain tipis itu, dalam satu tarikan tentu tubuh mulusnya sudah polos sama seperti sang suami.
Fajar yang belum apa-apa sudah mendEssaah membuat Shena tak kuat lagi untuk menyiksa suaminya. Tak ada napsu yang di rasakan wanita itu karna ia masih kesal dengan apa yang di perbuat suaminya dengan perempuan lain di kantor yang di mana hanya ada mereka berdua saja disana.
"Eeeugh, Sayang," Fajar yang baru mau memegang miliknya sendiri di tepis dengan sangat kasar oleh Shena.
"Tuh tangan harusnya di gigit Bubu, tapi karna aku baik jadinya gak jadi. Tapi gak baik baik banget juga sih," kata Shena yang membuat Fajar bingung. Di tengah napsunya yang menggebu ia tentu tak bisa berpikir.
"Angkat tangan Aa yang kurang ajar itu," titah Shena.
"Buat apa?" tanya Fajar yang bagian intinya semakin berkedut hebat ingin di jepit oleh kerang sawah yang selalu membuatnya candu.
"Udah ikutin aja."
__ADS_1
Fajar mengangkat tangannya sampai sejajar dengan kepala, ia semakin tak paham saat wanita halalnya itu mulai menggodanya.
"Diam! jangan bergerak dan jangan turunkan tangan Aa!" tegas Shena dengan nada ancaman.
Saking terhipnotis nya dengan lekuk tubuh sang istri Fajar hanya menurut, sambil kedua matanya tak lepas dari apa yang kini ada di depannya.
"Ya ampun, Sayang. Kamu mau apa sih? aku gak mau main main kali ini, aku udah gak tahan!" protes Fajar yang kembali di tepis saat tangan itu ingin mengelus miliknya sendiri.
Tak ingin gagal dalam melayangkan hukuman, tangan Fajar pun di ikat oleh lain segi tiga milik Shena. Ia ikatkan kuat kuat dengan omelan yang tak di pahami oleh sang suami yang fokus pada harum tubuh istrinya.
"Beres!"
"Kenapa di ikat?" tanya Fajar bingung dan keheranan.
"Aa lagi aku hukum, karna tangan Aa udah jahat pegang pegang perempuan lain di kantor!" jelas Shena.
"Lalu?" Fajar kembali bertanya dengan kedua alis saking bertautan.
"Aa boleh liat aja, tapi gak boleh pegang! Shena pokonya lagi marah dan gak mau di sentuh pakai tangan Aa itu."
Kedua mata Fajar membelalak besar saking tak percayanya. Ia semakin di buru napsu saat Shena mulai meremas kedua gundukan daging kenyal miliknya sendiri.
"Gimana? enak cuma liat? mau pegang, hem?" goda Shena sambil menantang.
Fajar yang cukup tahu diri akan kesalahannya tak bisa berbuat banyak kecuali menelan Salivanya kuat kuat. Ia meremas tangannya sendiri yang gatal ingin melakukan apa yang Shena lakukan. Dan yang terparah ia juga tak boleh memegang miliknya sendiri yang sudah meronta ingin bermain main.
"Uugh, enak A'," de Saah Shena yang sebenarnya di buat buat, jujur ia sangat puas melihat wajar Fajar yang merah padam menahan napsunya sendiri.
"Sayang--, Aa mohon jangan gini," lirihnya dengan suara berat namun tak di hiraukan, Shena tetap meliuk kan tubuhnya bagai seorang penari.
.
.
.
.
.
Aaaaaaaaaaaa.... Ampun Shena!!!!
__ADS_1