Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
part 108


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Shena yang mulai menuruti apa yang di perintah suaminya pun memberikan benda kecil berbentuk panjang tersebut pada Fajar, tangan pria itu bergetar saat melihat apa yang sejak tadi ia harapkan dan dia doakan dalam hati.


"Garis dua, sayang."


"Dua apa satu? Yang satunya gak jelas loh itu," tanya balik Shena yang melihat lagi apa yang masih di pegang Fajar.


"Kita keluar ya, biar dokter yang jelasin."


Fajar yang kedua matanya berkaca kaca menggandeng tangan Shena keluar dari toilet menuju ke meja dokter yang sedang menunggu hasilnya, hampir saja ketiga wanita itu curiga dan berpikir yang macam macam tentang apa yang sedang di lakukan sepasang suami istri tersebut di dalam sana yang lebih dari 30 menit lamanya.


"Ini, Dok." ucap Fajar, ia memberikan alat tes kehamilan dari tangannya lalu setelah itu duduk berdampingan dengan Shena.


Doker yang tak lagi memakai masker kini sangat terlihat jelas senyum simpulnya dan itu membuat Fajar yakin jika tebakannya benar.


"Bagaimana? Apa hasilnya--?," tanya sang tuan muda yang rasanya malah tak sanggup meneruskan ucapannya tesebut.


"Iya, Nona muda tengah dalam keadaan hamil, Tuan. Tapi ini baru prediksi dari alat tes kehamilan saja, dan untuk hasil USG, seperti yang kita tahu barusan jika belum terlihat jelas, bisa di perkirakan usia janin kurang dari 6 minggu, maka itu --, "


BRAAAK..


Shena yang tak sadarkan diri hampir jatuh jika saja Fajar tak sigap menangkap tubuhnya yang kini sedang di huni mahluk lain.


"Sayang--, Dok!" seru Fajar yang panik, begitu pun dengan dokter dan dua perawat yang lain.


Shena yang gendong oleh Fajar kearah ranjang pasien tempat ia di periksa tadi tentu juga di bantu oleh yang ada di sana.


Dokter yang memeriksa meminta Fajar untuk tenang karna pria itu kini sudah berurai air mata. Harusnya, cairan bening itu tumpah karena rasa haru mendapat kabar bahagia bukan malah di sebabkan rasa panik melihat Shena pingsan seperti ini.


"Sayang, ayo bangun." mohon Fajar yang tak melepas genggamannya.


Sedangkan Dokter bingung menjelaskan kondisi Shena saat ini pada suami pasiennya tersebut.


"Dokter, ayo katakan, istri saya kenapa?"


Dokter yang sekali lagi meminta Fajar tenang pun mulai di ikuti, Ia menarik napasnya dulu pelan pelan meski tetap saja terasa sangat sesak.

__ADS_1


"Tekanan darah Nona rendah, Tuan," jawab dokter yang tak kalah paniknya.


Perlahan, Fajar yang sudah bisa di ajak bicara pelan pelan pun mulai mendengar kan apa yang akan di utarakan oleh Dokter. Keduanya begitu serius membahas tentang kehamilan Shena sambil menunggu wanita itu sadar.


Fajar menjawab semua pertanyaan dokter dengan sangat gamblang. Mulai dari usia Shena, kondisinya akhir akhir ini hingga penyakit trauma yang pernah di rasakan istrinya.


Dokter pun paham dan meminta Fajar membawa Shena kembali dua pekan mendatang agar hasil USG benar-benar akurat, meski jika di lihat dari tes kehamilan jelas itu positif.


"Jika kondisi Nona masih lemas, saya sarankan untuk menginap satu malam, Tuan."


"Iya, Dok," jawab Fajar pasrah.


Setelah berbincang banyak hal, Shena pun di pindah ke ruang rawat inap karna lemas tak lemas suaminya tak ingin mengambil resiko apapun.


"Ayo, Sayang. Bangun," bisik Fajar yang kembali meneteskan air mata sedihnya.


Sumpah Demi apapun, Fajar lebih senang di ganggu perihal tingkah tak jelas Shena yang kadang di luar dugaan, jawaban yang tak masuk akal dan rajukan yang luar biasa tak bisa di tebak. Semua ia nikmatin tanpa sekali pun mengeluh karna untuk langgeng nya sebuah hubungan tentu Tuhan sudah menyiapkan pasangan yang melengkapi kekurangan dan juga menyempurnakan kehidupan.


Tak perduli orang lain menilai Shena seperti apa, selagi tak merugikan orang lain ia akan mengangap wanita itu pelengkap dirinya.


"Shena--," panggil Fajar yang entah sudah berapa kali tepat di telinga kanan istrinya tanpa melepas genggaman tangan.


"Sayang, Shena--, buka matamu! ku mohon perlahan pun tak apa apa ya," bisik Fajar yang punya harapan.


Itu terlihat dari seulas senyum kecil di ujung bibirnya.


"A--," panggil Shena pelan dan itu di barengi dengan datangnya dua perawat.


"Iya, Sayang. Aa disini. Di periksa dulu ya, Cantik," jawab Fajar yang kemudian mencium kening Shena sebelum ia menepi untuk membiarkan para suster menjalani tugasnya.


Shena yang lemas dan berasa sedang mengambang di udara hanya diam pasrah meski ia tetap meringis saat bagian tangannya harus di suntik oleh salah satu suster.


"Sakit," lirihnya dengan cairan bening yang sudah turun ke samping wajahnya sampai mengenai telinga.


"Tuan, apa Nona sudah makan?" tanya Suster.


"Istri saya makan saat perjalan kemari dan itu sudah beberapa jam yang lalu," jawab Fajar sambil melihat benda penunjuk waktu di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Nona bisa makan lebih dulu sebelum meminum obat ya, Tuan."


"Baiklah, akan saya suapi nanti," sahut Fajar.


Dua perawat pun keluar setelah menjelaskan obat yang harus di minum oleh Shena, ia juga menjelaskan dan memberi tahu tentang keadaan pasien saat ini yang ternyata tak jauh berbeda dari sebelumnya, dan itu artinya tekanan darah menantu Lee Rahardian masih jauh dari kata normal.


"Shena mau makan apa? biar bisa minum obat," tanya Fajar karna sang istri sudah bisa membuka sedikit matanya.


"Gak laper, A', " jawab Shena yang menolak tawaran dari sang suami.


"Harus makan, biar ada tenaganya ya," mohon Fajar buang belum berkurang rasa khawatirnya.


"Gak mau."


"Mau nasi ketek Phiu, hem?" tawar Fajar yang di balas gelengan kepala masih menolak.


"Aku hamil A'?" pertanyaan itu pun akhirnya lolos juga dari mulut Shena yang terlihat pucat.


"Iya, kamu hamil, Sayang, " jawab Fajar sambil tersenyum simpul, ia ingat lagi jika ada titipan Tuhan di rahim wanita hebatnya.


"Kita mau punya anak," ucapnya dengan perasaan sulit di tebak oleh Fajar.


"Iya, kita akan jadi orang tua, apa kamu senang?"


Shena hanya tersenyum, ia tak punya jawaban atas pertanyaan tersebut sebab tak pernah membahas perihal anak dengan suaminya selama ini.


"Ada bayi disini ya?" gumam Shena yang nyaris tak terdengar.


" Jaga baik baik ya, dia adalah anugerah yang sedang di titip kan Tuhan pada kita," ucap Fajar yang paham betul dengan ekspresi kaget istrinya saat ini sebab sungguh ini sangat di luar dugaan.


"Ternyata benar aku hamil, perut aku akan besar sekali ya A' dan itu terjadi di beberapa bulan lagi," ucap Shena sambil mengusap perut mulusnya yang masih rata.


.


.


.

__ADS_1


"Hem, kamu benar, Sayang. Selamat jadi Ibu ya, Senandung,"


__ADS_2