
HAPPY READING
"Bisa aku memulainya?" tanya Nadhif memutuskan pikiran Una.
Una menatap Nadhif lembut. Bibir merahnya tersenyum dengan mata teduh menatap Nadhif. "Lakukanlah," ucap Una pelan.
Nadhif memulai aksinya dengan sangat lembut. Memberikan sentuhan lembut pada setiap jengkal tubuh Una.
"Ahh," suara indah Una ketika Nadhif berhasil memasuki miliknya kedalam tubuh Una.
Nadhif menyatukan bibirnya dengan bibir Una untuk mengalihkan rasa sakit yang dirasakan oleh Una. Disaat dia rasa Una sudah mulai menikmati, Nadhif mulai melakukan pergerakan dengan pelan, lembut dan sangat nikmat.
"Kamu sempit, Mirahh," ucap Nadhif dengan terus memegang kendali diatas Una.
Una hanya pasrah. Dia benar-benar memberikan haknya kepada Nadhif. Meskipun tanpa sepengetahuan Nadhif, tapi ini bisa membuat Nadhif terbebas dari dosa yang dia lakukan bersama perempuan lain.
"Ahhh, enngghhh," lenguh panjang Una dan Nadhif menandakan mereka berdua sama-sama mengalami kenikmatan yang tiada tara.
Nadhif ambruk diatas tubuh Una. Nafas mereka berdua saling bertemu dan memburu. Hidung mereka saling bersentuhan dengan mata yang menatap satu sama lain.
Aku seperti mendapat kenikmatan empat tahun lalu. Apa ini? Takdir macam apa ini? Apa dia wanita yang selama ini aku cari? Batin Nadhif menatap dalam wajah Una.
Nadhif membalikkan posisi mereka. Kini Una yang berada diatasnya. "Lakukan tugasmu, Mira," ucap Nadhif lembut.
"Tuntun aku," jawab Una menatap Nadhif.
Dengan komando Nadhif, Una melakukan aksinya layaknya seorang istri yang benar-benar memberi tak seorang suami.
Dua jam, mereka masih belum selesai. Berbagai gaya Nadhif lakukan untuk menuntaskan hasratnya. Sungguh, biasanya Nadhif hanya akan puas dengan sekali pelepasan, tapi ini. Apa ini? Bahkan Nadhif sudah berkali-kali menggagahi Una dengan gaya yang berbeda-beda.
"Kamu benar, Mirah, saat ini aku mengatakan bahwa kamu adalah candu untuk sayah," ucap Nadhif yang memeluk Una dari belakang.
Air mata Una menetes. Dia memang jadi candu, tapi bukan dengan identitas sebagai istri, namun sebagai seorang ****** yang memuaskan pelanggannya.
"Saya mohon, jangan berikan tubuh kamu pada lelaki lain. Ini hanya milik saya. Milik saya, Mira," ucap Nadhif kembali mengecup kecil punggung polos Una.
Una berbalik menatap Nadhif. "Bisakah Tuan juga berjanji pada saya?" ucap Una mengelus lembut rahang Nadhif.
"Katakan."
__ADS_1
"Tolong jangan berikan tubuh Tuan pada wanita lain juga. Biarkan saya yang memilikinya," ucap Una menatap dalam mata Nadhif.
Nadhif tersenyum dan mengangguk. Direngkuhnya tubuh Una kedalam pelukan dan memberikan kenyamanan untuk wanita itu. "Mulai sekarang, hanya kamu yang berhak atas tubuh saya, Mira. Begitu juga sebaliknya," ucap Nadhif mengecup pucuk kepala Una berkali-kali.
"Terimakasih, Tuan," ucap Una membalas pelukan Nadhif.
"Bisakah kamu tidak memanggilku Tuan," ucap Nadhif.
"Kenapa?" tanya Una.
"Aku tidak suka. Panggilan Tuan ini membuatku geli. Mengingatkanku pada pembantu yang ada di rumahku. Aku sungguh tak menyukainya," ucap Nadhif.
Una mengangkat kepalanya dan menatap Nadhif. Tapi pembantu itu ada dalam pelukanmu, Tuan. Batin Una sendu.
Una mengangguk mengiyakan permintaan Nadhif. "Mas Nadhif," panggil Una lembut.
Nadhif tersenyum."Itu lebih baik," ucap Nadhif dan kembali melahap bibir ceri milik Una.
.....
Sedangkan di kediaman Nadhif, Hanum saat ini sedang ditemani oleh Mami Flora. Ya, selama Una bersama Nadhif di clubnya, Mami Flora yang akan menemani Hanum di rumah.
"Nenek Mami," panggil Hanum yang kini rebahan dengan paha Mami Flora sebagai bantalnya. Kini mereka berdua sedang berada di kamar Hanum yang ada di pojok dapur.
Hanum memang sudah mengenal Mami Flora. Karena sebelum menjalankan rencananya ini, Una sudah mengenalkan Mami Flora pada Hanum sebagai Neneknya.
"Ibu sedang ada pekerjaan, Sayang. Jadi, Nenek Mami yang akan menemani Hanum, ya," jawab Mami Flora.
"Hanum kenapa tidak tidur?" lanjut Mami Flora bertanya sambil mengusap lembut rambut Hanum.
Bukannya menjawab, Hanum malah bangun dan menatap Mami Flora. "Nenek Mami, boleh Hanum bertanya sesuatu?" ucap Hanum.
"Apapun Nak. Tanyalah," jawab Mami Flora.
"Apa Nenek Mami sudah lama kenal dengan Ibu?" ucap Hanum memulai pertanyaanya.
Mami Flora mengangguk menjawab pertanyaan Hanum. "Kenapa, Sayang?" ucap Mami Flora.
"Apa nenek tahu siapa Ayah Hanum?"
__ADS_1
DEG
Mami Flora terdiam mendengar pertanyaan Hanum. Entah apa yang harus dia jawab, dia bingung saat ini. Mami Flora mengalihkan pandangannya agar Hanum tidak melihat air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dengan cepat, Mami Flora menghapusnya dan kembali menatap Hanum.
"Kenapa bertanya seperti itu, Nak? Bukannya sudah ada Ibu?" ucap Mami Flora lembut.
"Hanya bertanya, nenek mami. Barangkali, Nekmi bisa bilang sama Ayah Hanum untuk bawa Hanum dan Ibu keluar dari sini. Tuan sekarang sudah jahat, tidak seperti dulu. Dia sering bilang Hanum anak haram. Anak haram itu apa Nekmi?" tanya Hanum dengan panggilan singkat kesayangannya sekarang untuk mami flora.
Lagi. Pertanyaan Hanum sungguh menusuk hati Mami Flora. Maafkan Nenek Mami, Nak. Batin Mami Flora sendu menatap Hanum yang nampak biasa dengan segala pertanyaanya.
"Em, Nenek Mami ke kamar mandi sebentar, ya Hanum. Hanum tunggu disini," ucap Mami Flora yang langsung pergi keluar. Tidak sanggup rasanya melihat wajah polos Hanum yang bertanya, seolah itu bukanlah kata yang buruk.
Hanum merubah ekspresi wajahnya. Setelah Mami Flora keluar, anak itu nampak menghapus air mata yang sudah dia sembunyikan dibalik wajah lugunya. "Anak haram itu, anak yang tidak punya Ayah kan, Nenek Mami? Hanum tahu, tapi Hanum mencoba mencari jawaban yang barangkali membuat Hanum sedikit senang," gumam Hanum sendu menatap pintu kamarnya.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Una terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang dia lihat saat membuka mata adalah dada bidang seorang lelaki yang tadi menghabiskan waktu bersamanya. Una mendongak menatap wajah tenang Nadhif yang sangat tampan. Tangan Nadhif melingkar erat di pinggang Una. Seolah tidak membiarkan wanita itu beranjak sedikitpun dari pelukannya.
Una mencoba mengangkat tangan besar itu dan dengan lembut melepaskan dari tubuhnya. Una terdiam, merasakan kulitnya yang lagi-lagi bersentuhan dengan kulit Nadhif di balik selimut.
Nikmat, namun berbalut luka dan sesak. Batin Una menatap Nadhif. Setelah itu, Una bangun dan mengambil baju handuk yang ada di meja sebelah ranjang.
Una turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Una tidak langsung mandi. Dia takut, jika mandi, maka itu akan membangunkan Nadhif.
Una mematut dirinya di depan cermin. Begitu banyak bekas-bekas gigitan merah di tubuhnya. Bahkan sekujur tubuhnya dipenuhi bekas tersebut. "Aku harap, ini hanya kamu berikan padaku, Mas Nadhif," gumam Una senang.
"Mas Nadhif," ulang Una kembali memanggil panggilan baru yang dia berikan pada Nadhif. Senyum terbit di wajah cantik wanita itu. Semburat merah muncul diwajahnya mengingat apa yang dia lakukan bersama Nadhif tadi.
Tidak ingin berlarut-larut, Una langsung menggunakan gamis yang dia simpan di dalam lemari dan segera memasangnya. Dia harus segera kembali ke rumahnya sebelum matahari terbit. Dia takut, Hanum akan menangis jika terbangun tidak ada dirinya.
Una keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Dia berjalan perlahan agar tidak membangunkan Nadhif yang masih nyenyak dalam tidurnya.
Mata Una beralih pada meja rias. Dia melihat cek yang diberikan oleh Nadhif padanya. Una mengambil cek tersebut, namun kembali meletakkannya. Una mengambil pulpen yang ada di meja dan menuliskan sesuatu dibalik cek tersebut.
Terimakasih atas uang kamu, Mas Nadhif. Tapi, aku tidak mengambil ini, anggap saja ini hadiah perkenalan kita. Ingat janjimu untuk tidak mencoba wanita lain, aku menunggu kepuasan kita selanjutnya.
Setelah menulis itu, Una kembali mendekat ranjang. Dia menatap Nadhif yang masih asik bergelut dengan mimpinya.
Cup.
__ADS_1
Una mengecup lembut dahi Nadhif. "Selamat tidur, suami," ucap Una pelan. Setelah itu, Una benar-benar keluar meninggalkan kamar tersebut.
...****************...