Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 7


__ADS_3

HAPPY READING


"Ibu, obat Hanum habis. Tadi ini berdarah lagi," ucap Hanum polos menunjuk hidungnya.


DEG


Jantung Una berdetak cepat mendengar perkataan Hanum. "Tapi Hanum tidak apa-apa kan, Nak?" tanya Una cemas.


"Hanum baik, Bu. Tapi kepala Hanum sedikit sakit," ucap Hanum meringis memegang kepalanya.


"Kita ke kamar, ya. Nanti Ibu akan keluar sebentar cari obat buat Hanum," ucap Una khawatir.


Hanum hanya mengangguk patuh. Anak itu merasakan badannya benar-benar lemas saat ini.


.....


"Mau kemana lagi kamu?" tanya Nadhif yang melihat Una akan keluar dari rumah. Ini sudah pukul delapan malam, dan perempuan itu akan keluar rumah disaat seperti ini? Nadhif sungguh curiga pada wanita itu.


"Maaf, Tuan. Una mau keluar sebentar," ucap Una menunduk.


"Dan tidak minta izin saya? Apa pelangganmu tadi siang belum puas dengan service yang kau berikan?" tanya Nadhif menatap tajam Una.


Una mengangkat kepalanya menatap Nadhif. Dia tersenyum teduh membalas tatap Nadhif. "Apa Tuan butuh sesuatu?" tanya Una tanpa menjawab perkataan menyakitkan Nadhif.


"Aku tidak butuh bantuan wanita sepertimu!" ucap Nadhif menusuk.


"aku ini istrimu, Tuan," ucap Una lembut.


Nadhif mengangguk. "Ya, dan itu adalah sebuah kutukan untukku!" jawab Nadhif.


Una berjalan mendekati Nadhif dan berdiri tepat di depan Nadhif. "Terkadang berteman dengan kutukan ini akan membawamu pada sebuah kesadaran, Tuan. Istri hinamu ini, akan menjadi candu untukmu suatu saat nanti," ucap Una memandang lekat Nadhif.


"Candu? Sampah!" jawab Nadhif sinis.


"Jangan sampai saat istrimu sudah menjadi candu untuk Tuan, dia pergi dengan segala lelah dan lukanya," ucap Una lembut.


Nadhif terdiam menatap mata teduh Una. Mata itu memancarkan banyak luka, damai dan juga kecewa dalam waktu bersamaan.


Nadhif tersentak kala tangan Una menyalami dan mencium lembut punggung tangannya. "Una izin sebentar, Tuan. Assalamu'alaikum," ucap Una dan berlalu pergi meninggalkan Nadhif.


Nadhif memandang tangannya dengan tatapan kosong. Memejamkan mata sejenak menetralkan suasana hati yang sangat tidak dia sukai. Nadhif benci harus lemah melihat mata indah Una. Nadhif benci itu. Jangan bangkitkan malaikat dalam diriku saat bersama wanita itu, Tuhan. Batin Nadhif sambil menghela nafas pelan.

__ADS_1


…..


Tiga puluh menit keluar mencari obat, una sudah sampai dirumah dan langsung masuk ke kamarnya bersama hanum. Melihat anaknya yang asik dengan boneka using miliknya, una tersenyum hangat. Sederhana sekali untuk menimbulkan senyum di wajah anaknya. Hanya dengan bermain dengan boneka using itu, hanum sudah nampak sangat gembira.


“hanum,” ucap una berjalan mendekati hanum.


Hanum berbalik. Anak itu tersenyum dan menghentikan mainnya.


“hanum minum obat dan setelah itu tidur, ya. biar besok bangun sakit kepalanya sudah hilang,” ucap una lembut.


Dengan patuh hanum mengangguk. Dia menurut dan menerima obat yang dimasukan una ke dalam mulutnya.


“minum, nak,” ucap una menyodorkan gelas berisi air.


“sudah, bu,” ucap hanum tersenyum manis.


“anak itu memang anak pintar. Sekarang hanum tidur, ya,” ucap una lembut yang lagi dianggukki hanum.


una ikut berbaring di Kasur. Dia mengusap lembut rambut hanum yang semakin lama semakin menipis. Tak terhalang air mata una jatuh begitu saja. Begitu sakit yang kamu rasain selama ini, nak. Kamu harus tetap bertahan ya, nak. Ibu akan lakukan apapun, nak. Ibu mau lihat kamu sukses dan jadi Wanita cantik dengan segudang kebahagiaan nak. Batin una berdoa dengan harapan besar mengenai kesembuhan hanum.


…..


"Selamat datang, Mami," ucap Pelayan menyambut kedatangan Mami Flora.


Jangan heran, semua pelayan disini sudah mengenal Mami Flora. Semua itu karena semua anak didik Mami Flora akan di poles di salon ini.


Mami Flora tersenyum dan mengangguk menjawab sapaan pelayan. "Apa ada yang kosong?" tanya Mami memandang sekeliling salon.


Pelayan mengangguk. "Ada, Mami. Tempat untuk Mami juga sudah disiapkan di VVIP Room," jawab pelayan tersebut.


Mami Flora mengangguk dan berjalan menggandeng tangan Una untuk menuju VVIP Room. Dan satu hal yang harus kalian tahu, Mami Flora juga salah satu pendiri salon terkenal ini bersama teman-temannya. Tapi Mami Flora lebih memilih untuk fokus pada club' malamnya dan menyerahkan salon pada temannya.


"Mami," ucap Una tak enak pada Mami Flora. Dapat Una lihat, perawatan disini pasti akan sangat mahal. Melihat tempatnya saja sudah membuat Una minder, apalagi melakukan perawatan disini, rasanya Una tidak bisa membayar semuanya. Uang yang dia bawa pasti tidak cukup untuk membayar semua pelayanan yang salon berikan.


"Kenapa Una?" tanya Mami Flora lembut. Mami Flora memang sangat menyayangi Una seperti anaknya sendiri.


Una mengeluarkan dompet kecil biasa dari tasnya. "Uang Una tidak cukup, Mami," ucap Una memperlihatkan uang yang dia bawa.


Mami Flora melihat dompet itu yang hanya diisi yang lima puluh ribu satu helai, dan uang seratus ribu satu helai. "Apa Mami pernah menanyakan uangmu?" tanya Mami Flora.


"Tapi-"

__ADS_1


"Mami yang akan bayar. Sekarang kamu ikuti saja alurnya," ucap Mami Flora mendorong Una agar segera maju mengikuti pelayan.


"Tapi-"


"Bayar jika nanti kamu sudah mendapatkan hati Nadhif," ucap Mami Flora memotong cepat perkataan Una.


Una menghela nafas pasrah. Akhirnya dia mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Mami Flora.


"Palayannya bukan laki-laki kan, Mami?" tanya Una.


Mami Flora mengangguk yakin. "Mami sudah siapkan semua sesuai porsi kamu, Nak," ucap Mami Flora.


"Terimakasih banyak, Mami," ucap Una tulus memandang Mami Flora.


Mami Flora tersenyum dan mengangguk. "Ini adalah bentuk kasih sayang Mami, Nak. Hanya ini yang bisa Mami berikan," jawab Mami Flora membalas tatapan Una.


Una mengangguk dan segera mengikuti pelayan yang akan membedah penampilannya. Diruangan ini hanya ada Una dan Mami Flora. Karena ini adalah pelayanan VVIP yang diberikan kepada pemilik atau keluarganya saja.


Semuanya dimulai dengam mengubah rambut Una. "Saya buka hijabnya, Nona," izin Hair stylist perempuan itu lembut pada Una.


Una mengangguk mengizinkan. "Rambut yang sangat indah. Ini akan sangat disayangkan jika dipotong. Mami, bagaimana jika rambut ini kita warnai saja?" tanya Hair stylist meminta saran Mami Flora.


Mami Flora berpikir sebentar. Setelah itu dia mengangguk menyetujui perkataan Hair stylist itu. "Kita akan rubah rambut kamu, Una. Biar berbeda dengan penampilan kamu. Biar Nadhif tidak mengenali kamu," ucap Mami Flora.


Una mengangguk setuju. "Tapi jangan warna pirang-pirang itu ya, Mami. Una tidak mau, jelek," ucap Una mewanti-wanti warna apa yang akan dipilih untuk rambutnya.


Hair stylist yang mendengar itu tergelak mendengar perkataan polos Una. Dia memperhatikan wajah dan kulit Una. Cantik dan mulus, kata yang dia temukan untuk mendeskripsikan Una. Warna apapun pasti akan cocok untuk Una.


"Kita akan buat Nona seperti Barbie hidup," ucap Hair stylist tersebut.


Mami Flora dan Una saling pandang. Una mengangguk menyetujuinya. "Buat saya berbeda saat berhijab dan tidak berhijab, Mbak," ucap Una menatap Hair stylist tersebut.


"Baiklah, mari kita mulai," ucap Hair stylist memulai aksinya.


Dengan tangan lincah dan kelihaiannya, Hair stylist benar-benar memporak-porandakan kepala Una saat ini. Tapi ini membuat Una nyaman, sentuhan lembut yang diberikan hair stylist pada kepala membuat Zahra tenang.


Helai demi helai rambut Una diwarnai. Entah apa yang digunakan di kepalanya, Una hanya pasrah dan menerima. Ini semua demi suaminya.


"Kenapa anda ingin tampil beda saat berhijab dan tidak, Nona?" tanya Hair stylist itu penasaran dengan apa yang akan Una lakukan.


Una tersenyum. "Berkorban, Mbak."

__ADS_1


__ADS_2