Menjadi Gundik Suamiku

Menjadi Gundik Suamiku
BAB 20


__ADS_3

HAPPY READING


Nadhif berhenti di balik pohon yang cukup untuk menutupi tubuhnya. Posisinya saat ini dekat dengan Hanum dan Una yang berada sedikit di depan pohon tersebut.


Dari jarak seperti ini, sedikitnya Una bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Ibu," panggil Hanum pada Una yang berdiri di belakang kursi rodanya.


"Iya Nak," jawab Una. Wanita itu berganti posisi menjadi bersimpuh di depan Hanum.


"Apa nanti malam Ibu bekerja lagi?" tanya Hanum pelan.


Una terdiam. Haruskah dia pergi malam ini? Haruskah dia kembali melayani suaminya untuk saat ini? Sedangkan anaknya sangat membutuhkan kehadirannya. Tapi, jika dia tidak melayani Nadhif, Una takut Nadhif akan bermain dengan wanita lain.


"Hanum maunya bagaimana?" tanya Una.


Hanum mau Ibu disini sama Hanum. Batin Hanum menatap Una.


Anak itu tersenyum menatap Una. "Ibu pergi saja kerja. Lagian, Ibu bekerja cari uang untuk Hanum. Jadi, tidak apa-apa kalau Ibu bekerja malam ini lagi. Nanti kalau Ibu tidak bekerja, Tuan Nadhif bisa marah kan, Bu," jawab Hanum dengan senyumnya.


Nadhif yang sejak tadi mendengar dari balik mengepalkan tangannya. Kau jadikan aku alasan pekerjaanmu untuk membohongi anakmu, Una. Batin


Nadhif menahan segala emosinya.


Una tersenyum. "Untuk malam ini, Ibu akan libur, Nak. Ibu akan bersama Hanum," ucap Una.


Senyum Hanum semakin lebar. "Benarkah, Bu?" tanya Hanum memastikan yang langsung dianggukki oleh Una.


"Em ... Nak," panggil Una sedikit gelisah.


"Iya Bu," jawab Hanum.


"Ibu mau ke toilet sebentar, boleh?" tanya Una.


Hanum mengangguk. "Ibu pergilah, nanti balik kesini lagi, ya," jawab Hanum yang langsung di turuti oleh Una.


"Hanum jangan kemana-mana dan jangan turun dari kursi roda sebelum Ibu datang, ya," ucap Una.


"Siap, Ibu Ratuku," jawab Hanum dengan sikap bagaikan hormat kepada seorang ratu.


Setelah memastikan Hanum benar-benar sendiri, Nadhif keluar dari persembunyiannya dan mencoba berjalan mendekati Hanum.


Dengan senyum menawannya, Nadhif langsung bersimpuh di depan Hanum.

__ADS_1


"Hai," ucap Nadhif dengan wajah terpatri senyum di bibirnya.


Mata Hanum membulat lucu, hingga akhirnya anak itu menunduk setelah melihat siapa yang datang.


"Ja-jangan marah, Tuan," ucap Hanum takut dengan hati yang gelisah. Dia takut, Nadhif akan marah padanya karena tidak di rumah.


Nadhif tersenyum, meskipun hatinya tidak rela melihat Hanum yang ketakutan seperti ini. "Apa Hanum tidak mau melihat Papi?" tanya Nadhif.


Hanum terdiam. Tidak lama setelahnya anak itu mengangkat kepala dan menatap Nadhif tak percaya. Benarkah ini? Nadhif yang yang dulu dia panggil Papi dan bersikap sangat baik kepadanya sudah kembali?


"Hanum tidak berani," ucap Hanum setelah sadar akan khayalannya. Dia harus sadar posisinya sebagai anak pembantu Nadhif, bukan sebagai anak tirinya.


"Papi datang untuk menjenguk Hanum," ucap Nadhif lagi.


"Benarkah Hanum boleh panggil Papi lagi?" tanya Hanum.


"Jika kita hanya berdua, Hanum boleh memanggil Papi. Tapi, jika ada Ibu Hanum panggil Tuan, ya," ucap Nadhif.


Bukan tanpa alasan, jika Una tahu Nadhif bersikap seperti ini pada Hanum, maka wanita itu akan merasa menang dan semakin menjadi, pikir Nadhif.


Hanum mengangguk patuh dengan senyum di wajahnya. Apapun itu syaratnya, setidaknya dia bisa kembali bermain dengan Nadhif nanti.


"Apa ini sakit?" tanya Nadhif sendu menunjuk tangan dan kaki Hanum yang nampak bengkak.


"Benarkah?" tanya Nadhif lagi.


Hanum mengangguk. "Bahkan Hanum saja pernah lebih sakit dari ini, Papi. Tapi harus ditahan," ucap Hanum.


"Sakit dimana, Nak?" tanya Nadhif khawatir.


"Disini, Papi," tunjuk Hanum pada dadanya yang membuat Nadhif terdiam kaku.


"Dikatai anak haram, lebih parah sakitnya, Papi," lanjut Hanum lirih.


DEG


Jantung Nadhif berdetak cepat mendengar perkataan Hanum. Selama ini, mulutnya lah yang bicara seperti itu. Apa itu benar memberikan kesakitan luar biasa untuk Hanum?


"Tapi sekarang Hanum sudah tidak khawatir dipanggil anak haram. Karena Hanum bisa jawab dengan yakin kalau Hanum punya Papi," ucap Hanum menangkup pipi Nadhif dengan tangan mungilnya.


Kau berhasil menjadi Ibu dengan didikan mu yang sangat baik ini, Una. Aku akui itu. Tapi kau gagal menjadi seorang wanita. Batin Nadhif menatap Hanum lekat.


"Hanum," panggil Nadhif pelan.

__ADS_1


"Iya Papi," jawab Hanum.


"Apa Hanum tidak mau ikut bermain?" tanya Nadhif.


Hanum menggeleng. "Hanum tidak bisa ikut main, Papi. Yang ada nanti Hanum malah membebani teman bermain Hanum. Melihat mereka saja sudah cukup untuk Hanum," jawab Hanum dengan mata melihat anak-anak yang bermain seluncuran di taman rumah sakit.


"Mau papi gendong?" tawar Nadhif.


Hanum langsung menghentikan gerakan matanya dan menatap Nadhif. Setelah itu dia menggeleng. "Ada ini, Papi. Nanti kesusahan," ucap Hanum menunjuk infus yang ada di punggung tangannya.


Nadhif tersenyum dan mengusap lembut rambut Hanum. Saat melihat kesamping, Nadhif melihat Una dari kejauhan berjalan kearah mereka. "Hanum, Papi harus pergi. Hanum tunggu Ibu disini, ya. Dan jangan bilang kalau Papi datang kesini, ya," ucap Nadhif.


Hanum mengangguk yakin. "Nanti datang lagi, ya Papi," ucap Hanum.


Nadhif mengangguk dan tersenyum. Lelaki itu berdiri dan segera beranjak dari sana sebelum Una melihat dia bersama Hanum.


.....


Setelah dari rumah sakit, Nadhif kembali ke perusahaannya. Niat awalnya ingin melihat kondisi rumah sakit, malah berganti begitu saja menjadi sebuah kedekatan dengan Hanum.


"Permisi, Tuan," ucap Mark memasuki ruangan Nadhif.


"Duduklah," titah Nadhif yang langsung dianggukki oleh Mark. Laki-laki itu duduk di kursi depan meja Renda.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Nadhif langsung. Dia tahu, Mark tidak akan memaksanya untuk kembali ke kantor jika tidak ada hal penting. Dia tahu, hal penting yang Mark akan beritahu pasti mengenai perempuan yang dia cari selama empat tahun ini.


"Saya tidak menemukan wanita itu, Tuan," ucap Mark menatap Nadhif.


"Dan kau memintaku kesini hanya untuk mendengar berita tidak penting ini, Mark?" ucap Nadhif emosi. Dia berharap, Mark menemukan sedikit saja petunjuk yang bisa membawanya pada wanita itu.


"Tapi saya punya satu berita, Tuan," ucap Mark.


"Kau keluar saja jika berita mu tidak berguna!" ucap Nadhif tegas.


"Semua ini berhubungan dengan wanita itu dan Mami Flora, Tuan," jawab Mark pasti.


Nadhif mengangkat kepalanya menatap Mark serius. "Apa maksudmu?" tanya Nadhif ingin penjelasan lebih dari Mark.


"Club' tempat terjadinya kejadian empat tahun lalu adalah club' Mami Flora, Tuan," ucap Mark memberi penjelasan pada Nadhif.


"Bukankah Club' Mami Flora berada di tempat yang biasa sekarang aku temui?" tanya Nadhif.


"Club' lamanya, Tuan. Setelah kejadian itu, Mami Flora menutup club' tersebut dan membuka di tempat yang baru untuk melupakan bayang-bayang itu, Tuan.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2