
HAPPY READING
"Bagaimana bisa kamu menikah dengan Nadhif, Una? Lalu Hanum, anak kamu?" tanya Mami Flora penasaran.
"Bahkan kamu tidak mengundang Mami mu ini? Mami memang bukan Ibu kandung mu, tapi Mami tidak mau kamu terjerumus ke dosa ini, Una. Mami membebaskanmu dari hidup Mami yang kelam. Walaupun kamu harus mengalami masa lalu berat karena itu," ucap Mami Flora sendu.
Una menggenggam lembut tangan Mami Flora. "Satu hal Mami, jika bukan karena kebaikan hati Mami, hidup Una akan hancur, Mi. Terimakasih," ucap Una tulus.
"Nyonya Elara, Ibunya Tuan Nadhif meminta Una untuk menikah dengan anaknya, Mi. Una bekerja sebagai pembantu dirumah itu. Hanya satu tujuan Una, yaitu biaya pengobatan Hanum yang tidak boleh terputus. Tapi semakin kesini, Una tidak bisa terus-menerus melihat suami Una berbuat dosa. Bukankah Mami yang mengajarkan bahwa menikah itu hanya sekali? Dan saat ini, Una hanya berusaha mempertahankan ijab Qabul yang telah terucap agar tidak ternodai karena sebuah talaq," ucap Una memulai ceritanya.
"Mami bisa bantu kamu membiayai pengobatan Hanum," ucap Mami Flora cepat.
Una menggeleng. "Dengan uang seperti ini, Mami? Maaf, bukannya Una tidak menghormati, tapi alangkah lebih baik tidak, Mami," ucap Una yang membuat Mami Flora terdiam.
"Maaf, Una," ucap Mami Flora menyesal.
Una hanya mengangguk. Lagian saat ini dia sangat bersyukur memiliki Hanum sebagai anaknya.
"Hingga akhirnya, kami menikah karena terpaksa. Dan itu membuat Tuan Nadhif yang tadinya begitu baik dan menyayangi Hanum, kini berbalik membenci kami, Mi," ucap Una sendu.
"Dan tadi pagi, Una melihat sendiri bagaimana suami Una berdosa dengan wanita yang bukan muhrimnya," lanjut Una.
"Nak,"
"Rasanya sesak, Mami. Jadi bantu Una jadi pelacur untuk suami Una sendiri. Setidaknya dia tidak akan berdosa dalam merengkuh kenikmatan dunia," ucap Una memohon.
Mami Flora menghela nafas pelan. "Tapi kamu harus merubah penampilanmu dulu, Una," ucap Nami Flora pasrah.
Una mengangguk. "Di kamar, Una akan menjadi wanita yang diinginkan Nadhif, Mami," ucap Una menyetujui perkataan Mami Flora.
"Dan untuk itu, kamu harus merubah segalanya. Mami harus make over kamu terlebih dahulu," ucap Mami Flora.
Una mengangguk semangat. "Kapan Mami?" tanya Una.
"Nadhif akan datang Selasa malam. Dan ini hari Minggu. Mulai besok, kita akan mulai perubahan kamu, Nak," ucap Mami Flora.
Una mengangguk senang dan memeluk Mami Flora. "Terimakasih, banyak Mami," ucap Una tulus yang dibalas anggukan oleh Mami Flora.
__ADS_1
Mami mengajarkan Una satu hal. Bahwa penampilan seseorang, tidak selalu mencerminkan isi hati dan kepribadiannya. Buktinya, Mami yang berjiwa malaikat, terlepas dari semua pekerjaan haram Mami. Batin Una memuji kebaikan Mami Flora yang memberikan banyak pelajaran hidup pada Una.
.....
Sedangkan di rumah, Nadhif meregang tangan setelah menyelesaikan pekerjaannya. Lelaki itu segera keluar ruang kerjanya. Matanya mencari sosok perempuan yang saat ini menyandang status sebagai istrinya.
"Kemana dia?" gumam Nadhif yang merasa tidak melihat keberadaan Una.
Nadhif berjalan mengelilingi rumah. Hingga matanya berhenti melihat punggung kecil yang sedang bermain ayunan di taman belakang. Kaki Nadhif melangkah menuju taman belakang.
Hanum yang asik dengan ayunannya, berhenti ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Hanum segera turun dari ayunan dan menunduk menghadap Nadhif. "Maaf, Tuan. Hanum lancang main di ayunan," ucap Hanum takut.
"Dimana Ibu kamu?" tanya Nadhif dingin.
"Ta-tadi Ibu bilang ada urusan sebentar. Sebentar lagi pasti kembali," jawab Hanum dengan kepala yang tetap menunduk.
Nadhif terkekeh pelan. "Ibu kamu mencari mangsa ternyata," ucap Nadhif remeh.
Hanum hanya diam. Dia menunduk dalam karena takut menatap Nadhif. Tangannya tak henti meremas ujung baju yang dia gunakan.
"Berdarah lagi," gumam Hanum pelan mengusap ujung hidungnya setelah kepergian Nadhif.
…..
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Hanum menunggu Una yang tadi pergi entah kemana.
"Ibu tadi bilang sebentar, tapi ini udah mau magrib kok Ibu belum pulang juga," gumam Hanum cemas menunggu kepulangan Una.
Bukan apa-apa, Hanum saat ini benar-benar takut. Karena dirumah itu hanya ada dirinya bersama Nadhif. Jika dulu Hanum akan senang tinggal bersama Nadhif, maka beda halnya dengan sekarang.
Hanum berbalik dan berjalan memasuki rumah. Anak itu jalan sepelan mungkin agar suara langkah kakinya tidak terdengar.
Hanum melirik ke ruang keluarga. Disana dia melihat Nadhif yang duduk sambil menonton saluran televisi yang menayangkan berita mengenai apa, Hanum tidak tahu.
Hanum melangkahkan kakinya berat. Dengan segala keberaniannya, anak itu menghampiri Nadhif.
"Maaf, Tuan," ucap Hanum menunduk takut.
__ADS_1
Nadhif berdecak kesal karena kegiatannya terganggu. Dia menoleh dan melihat Hanum yang berdiri di sebelah sofa yang dia duduki.
"Apa?" ucap Nadhif ketus.
"Bo-boleh Hanum pinjam telfon rumah? Hanum mau telfon Ibu," ucap Hanum terbata.
Nadhif menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan Hanum. Dia melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Jam segini, tapi wanita itu belum pulang juga? Huh, ******! Batin Nadhif mengumpat kesal karena Una yang tidak pulang.
"Pakailah!" ucap Nadhif yang langsung dianggukki oleh Hanum.
"Jangan lama. Sekali saja cukup! Ingat, kau dan Ibumu hanya menumpang hidup disini! Bersikap layaknya anak pembantu!" lanjut Nadhif meninggalkan Hanum yang sudah bergetar mendengar perkataan Nadhif.
Hanum takut, sungguh takut. Tapi yang bisa dia lakukan hanya diam. Toh apa yang dikatakan Nadhif benar, dia hanya anak pembantu.
Hanum melanjutkan langkahnya menuju meja tempat telfon rumah. Tangan mungil Hanum meraih gagang telpon dan jari tangan lainnya menekan tombol yang akan dia tuju.
"Assalamu'alaikum," ucap sebuah suara memasuki rumah menghentikan kegiatan Hanum.
"Ibu," ucap Hanum senang dan langsung berlari memeluk Una yang sudah berdiri di dekat pintu.
"Nak, Hanum kenapa?" tanya Una yang merasakan badan Hanum bergetar.
Hanum menengadah menatap Una. Anak itu menggeleng dan tersenyum. Una yang melihat itu bersimpuh dengan kedua lutut sebagai tumpuan untuk menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan Hanum.
"Kenapa, Nak? Apa Tuan Nadhif menyakiti Hanum lagi?" tanya Una lembut.
Hanum menggeleng. Biarlah Una tidak mengetahui perkataan kasar Nadhif padanya. Karena jika Una tahu, Hanum yakin Ibunya itu pasti akan sedih.
"Ibu, obat Hanum habis. Tadi ini berdarah lagi," ucap Hanum polos menunjuk hidungnya.
DEG
.....................................
Semoga menikmati, ya teman-teman. Jangan lupa kasih like dan komentar kalian, biar aku makin semangat, yaa.
Jangan lupa mampir di Instagram aku ya, @nonamarwa_ Kalian bisa melihat postingan-postingan bermanfaat disana dan juga mengenai semua karya-karya ku. Terimakasih ,,,,,,,
__ADS_1