
HAPPY READING
Nadhif ambruk diatas tubuh Una dan mengecup pelan ceruk leher wanita tersebut. Nadhif mengeluarkan semua cairannya di dalam tubuh Una.
"Setelah ini, minumlah obat yang aku berikan," ucap Nadhif serak dan mengecup bibir Una kembali.
Una diam. Dia hanya mengangguk, meskipun dia tidak meminum obat tersebut melainkan membuangnya. Ingin sekali Una hamil, tidak apa dia akan ketahuan nanti, dia yakin, Nadhif pasti akan menerima jika dia hamil nanti, itu pikir Una.
Setelah memastikan Mira tidur dengan pulas dan masih dengan tubuh polosnya, Nadhif turun dari ranjang dan membersihkan diri ke kamar mandi.
Sepulu menit, Nadhif keluar dari kamar mandi. Dia segera memakai pakaiannya dan meninggalkan sebuah kartu di nakas sebelah ranjang. Nadhif duduk di tepi ranjang dan menatap Una. Lama Nadhif memandangi wajah lekat Mira yang nampak damai saat tidur. Kamu mengingatkan aku pada gadis tujuh belas tahun itu, Mira. Batin Nadhif menatap lekat wajah Mira.
Setelah itu, Nadhif mengecup singkat dahi Una dan segera keluar dari kamar.
"Maaf aku harus pergi, Mira. Ada sesuatu yang harus aku pastikan," ucap Nadhif sendiri. Saat ini pria itu sudah berada di mobilnya. Nadhif menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan kecepatan penuh, Nadhif melajukan mobilnya menuju rumah.
Lima belas menit, mobil Nadhif sampai di depan rumahnya. Satpam yang tadinya tidur, terbangun karena mendengar suara mobil. Saat melihat itu adalah mobil Tuannya, dia segera membuka gerbang.
"Terimakasih, Pak," ucap Nadhif setelah gerbang terbuka.
Nadhif memarkir sembarang mobil di halaman rumahnya. Dia segera mengambil kunci rumah dan segera membukanya.
Tanpa pikir panjang, Nadhif langsung berjalan menuju kamar yang berada di sudut dapur.
Kosong.
Itulah yang ditangkap oleh Nadhif. Tidak siapapun di kamar kecil ini. Tangan Nadhif mengepal dan seringai di wajah tampannya.
"Bahkan kau membawa anak haram mu untuk menjadi ******, sialan!" ucap Nadhif dengan kekesalan memuncak dihatinya.
Setelah memastikan Una memang tidak ada di rumah, Nadhif kembali ke luar dengan kekesalan luar biasa dalam dirinya.
"Bangsat!" umpat Nadhif lagi sambil memukul stir mobilnya ketika dia sudah duduk lagi di dalam mobil.
__ADS_1
Nadhif mengendarai mobilnya dengan menancap gas kencang. Hingga satpam yang ada di pos satpam terlonjak kaget mendengar deru mobil Nadhif yang sangat kencang.
Dengan kecepatan penuh dan amarah yang membuncah, Nadhif menjalankan mobilnya untuk kembali ke tempat Mira.
Saat sedang memikirkan sesuatu, Nadhif tiba-tiba memelankan laju mobilnya. "Kenapa gue bisa se marah ini?" gumam Nadhif menghalau perasaan asing yang tiba-tiba menjalar di hatinya.
"Enggak-enggak," ucap Nadhif menggeleng menepis kuat perasaan marahnya memikirkan Una yang tadi dia lihat tidak berada di rumahnya.
Sadar akan apa yang dia pikirkan, Nadhif kembali menambah kecepatan mobilnya. Jalanan yang sepi membuat Nadhif dengan santai mengendarai mobilnya tanpa harus memikirkan lawan di depan sana. Bagaimana tidak sepi, ini saja masih pukul tiga dini hari. Disaat semua orang bergelut dengan mimpinya, Nadhif malah berkeliaran di jalan dengan mobilnya.
Tanpa butuh waktu lama, mobil Nadhif sampai di parkiran club' Mami Flora. Dia akan kembali tidur bersama wanitanya. Mencoba melupakan Una yang ada di pikirannya.
Saat akan keluar dari mobil, gerakan Nadhif terhenti melihat seseorang yang sangat dia kenal keluar dari pintu samping club'.
.....
Una menggeliat kecil dalam tidurnya. Tangannya meraba-raba kasur disebelahnya dan ... kosong.
Una terlonjak kaget saat menutup mata karena Nadhif sudah tidak ada di samping. Una melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dan itu artinya Nadhif pergi setelah mereka selesai merenggut kenikmatan bersama.
Una turun dari kasur dan dengan perlahan berjalan ke kamar mandi. Una segera melakukan mandi wajib untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia mengambil pakaian lengkap dengan hijab instan yang dia simpan di dalam lemari. Dengan cepat, Una menggunakan pakaiannya dan berjalan tergesa ke luar dari kamarnya.
Una berjalan ke arah pintu samping. Karena jika lewat pintu depan, maka itu akan berbahaya untuknya. Bisa-bisa lelaki nakal yang ada di depan pintu club' menggangu dan itu menambah lama waktunya untuk pulang.
Saat baru keluar dari pintu, langkah Una terhenti ketika mendengar suara seseorang yang begitu dia kenal.
"Berhenti!"
DEG
Jantung Una seakan ingin berhenti sekarang juga. Kakinya terasa lemas dan tenaganya hilang dalam sekejap mata. Tangan Una meremas kuat kedua sisi pakaiannya menyalurkan ketakutannya.
Una mencoba berbalik dan menatap orang tersebut.
__ADS_1
"Tu-Tuan," ucap Una bergetar dan menundukkan kepalanya. Percayalah, saat ini ketakutan benar-bensr menghinggapi Una.
"Apa yang kau lakukan disini, Una?" tanya Nadhif mendekat kepada Una.
Una hanya dia dengan kepala menunduk. "Ini pukul tiga pagi lewat sedikit, dan kau baru keluar dari club'? Waw, Una, bukankah kau sudah membuktikan padaku siapa dirimu sebenarnya?" tanya Nadhif sambil berjalan lebih dekat kearah Una.
"Tu-Tuan, S-Saya," ucap Una gugup tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Nadhif.
"Sudah berapa yang kau layani?" tanya Nadhif tajam mengapit dagu Una dengan jari-jari tangannya.
Una hanya bisa menggeleng. Kedua pipinya memerah karena cengkraman kuat tangan Nadhif pada dagunya.
"Bukankah saat ini wanita Sholeha sedang duduk di atas sajadah untuk ibadah malam? Lalu kenapa kau yang katanya wanita baik malah berada di club' malam di jam seperti ini, Una?!" tanya Nadhif tajam dan menatap nyalang Una.
Sungguh, kemarahan dan emosi Nadhif keluar begitu saja melihat Una yang berada disini. Harusnya, jika memang dia tidak peduli dengan Una, dia harusnya membiarkan Una melakukan apapun itu. Tapi ini, Nadhif bahkan marah yang dia sendiri tidak tahu perasaan apa yang membuatnya se marah ini.
Air mata Una jatuh saat menatap mata elang Nadhif yang menatapnya begitu nyalang. "Sa-sakit, Tuan," ucap Una dengan suara bergetar berusaha melepaskan cengkraman tangannya di dagu Una.
"Cih! Ikut aku!" ucap Nadhif beralih menarik kuat tangan Una dan membawanya menuju mobil.
"Masuk!" titah Nadhif kuat memaksa Una untuk masuk ke dalam mobilnya. Bahkan Nadhif tidak sadar, bahwa paksaannya itu membuat Una sedikit meringis ketika kepalanya tidak sengaja terbentur bagian tepi atas mobil.
Nadhif langsung menyalakan mobil dan melaju dengan gas habis di pijakan kakinya. Una yang duduk di kursi sebelah kemudi hanya diam dan memegang erat selat belt yang melilit tubuhnya.
Ya Allah, selamatkan Una. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Batin Una berdoa agar kali ini dia bisa memberi penjelasan yang akan diterima oleh Nadhif. Meskipun terdengar mustahil, tapi Una akan berusaha untuk itu.
Sepanjang perjalanan Nadhif hanya diam. Mulutnya tertutup rapat dengan mata fokus menatap jalanan. Una hanya bisa memejamkan mata dan selalu mengucap doa dalam hati untuk keselamatan mereka.
Mobil Nadhif sampai di halaman rumahnya. Dengan posisi parkir yang sembarangan, Nadhif keluar dari mobil dan segera menarik kasar Una.
"Sakit, Tuan," ucap Una memohon agar Nadhif melepaskan cengkraman tangannya. Pergelangan tangan Una sudah nampak merah. Bahkan, ada yang berdarah karena tertusuk kuku Nadhif.
Sampainya di dalam rumah, Nadhif menghempaskan Una hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Kau benar-benar menunjukkan kualitas dirimu, Una!"
...****************...