
HAPPY READING
"Sakit, Tuan," ucap Una memohon agar Nadhif melepaskan cengkraman tangannya. Pergelangan tangan Una sudah nampak merah. Bahkan, ada yang berdarah karena tertusuk kuku Nadhif.
Sampainya di dalam rumah, Nadhif menghempaskan Una hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"Kau benar-benar menunjukkan kualitas dirimu, Una!" ucap Nadhif tajam menatap Una.
Una yang tadinya menunduk mencoba untuk berani mengangkat kepala dan menatap Nadhif. Dengan sekuat tenaganya, Una mencoba berdiri dan menatap Nadhif. "Bagaimana kualitas diriku, Tuan?" ucap Una bertanya berani. Meskipun dalam hatinya, ketakutan itu sangat ketara.
Nadhif tersenyum remeh mendengar pertanyaan Una. "Kau bertanya kualitas dirimu padaku, Una? Tentu kau tidak lebih baik dari seorang wanita malam!" ucap Nadhif marah.
"Apa yang membuat Tuan menganggap saya begitu?" tanya Una tegar.
"Berada di tengah malam, bahkan hampir menjelang pagi di sebuah club', apa kau masih bisa menyebut dirimu wanita baik-baik, Una? Disaat suamimu tidak ada dirumah, kau keluar untuk mencari laki-laki lain!" jawab Nadhif.
"Disaat suamiku tidak bisa memberi aku kenikmatan, apa salah aku mencari kenikmatan dengan cara menjadi orang lain?" tanya Una menatap dalam Nadhif.
Nadhif berbalik menatap Una. "Jadi seperti ini dirimu? Menjual tubuh hanya untuk mendapat kenikmatan dunia? Apa kau tidak malu dengan kerudung dan pakaian tertutup yang kau gunakan ini, Una?!" jawab Nadhif dengan berbalik tanya.
"Aku bangga dengan kerudung dan pakaianku, Tuan," jawab Una yakin.
"Tidak ada wanita yang lebih menjijikkan daripadamu, Una!" ucap Nadhif sarkas.
Una memejamkan mata mendengar perkataan Nadhif. Sungguh, hati Una terasa sangat ngilu mendengar perkataan Nadhif.
"Lalu bagaimana dengan wanita simpanan mu itu, Tuan?" tanya Una berani.
"Mereka lebih baik darimu, Una!" jawab Nadhif marah. Seketika emosinya bertambah mendengat perkataan Una.
wanita simpanan? Nama Mira terlintas begitu saja dipikiran Nadhif saat ini. Kemarahannya bertambah ketika dia mendengar secara tidak langsung Una menghina Mira nya.
"Bahkan kau sangat hina Una. Kau adalah wanita bersuami, tapi kau masih mencari kenikmatan di luar sana untuk kepuasan mu sendiri! Dimana harga dirimu, Una?!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan anda yang merupakan pria beristri, tapi tidur dengan wanita yang tidak jelas, Tuan?!" tanya Una tegas menatap Nadhif dengan matanya yang berkaca-kaca. Percayalah, dengan sekuat tenaga Una menahan agar dirinya tak menangis saat ini juga.
"Jadi kau meminta untuk aku layani? Iya?" tanya Nadhif menunjukkan wajah iblis nya.
Una melangkah mundur ketika Nadhif terus maju mengikis jarak diantara mereka. "Sudah berapa lelaki yang memasukimu?" tanya Nadhif dengan suara rendah namun terdengar sangat tajam.
Una meringis ketika Nadhif dengan sengaja menekan bagian bawah perutnya dengan sedikit keras.
"Jangan merendahkan istrimu sendiri, Tuan," ucap Una lemah menatap sendu manik coklat Nadhif.
"Aku hanya ingin memperjelas dimana posisimu sebenarnya, Una!"
"Apa aku salah menjadi orang lain untuk mendapat kenikmatan, Tuan?" tanya Una sendu menatap Nadhif.
"Jangan berusaha menjadi korban Una, padahal.kau adalah tersangka sebenarnya."
"Kamu tersangka sebenarnya, Tuan," ucap Una lemah.
"Sudah berapa orang yang merasakan bibir kotor mu ini, Una?" tanya Nadhif saat melepaskan tautan bibirnya dengan kasar.
Una menatap Nadhif dengan air mata yang tak bisa dia tahan. Bibirnya terasa sakit dan mengeluarkan sedikit noda merah karena perlakuan Nadhif. "Aku ini istrimu, Tuan. Tidak bisakah kamu lembut sedikit saja?" tanya Una sendu.
"Bukan istri sepertimu yang pantas aku perlakukan dengan lembut, Una!" jawab Nadhif tajam dan meninggalkan Una yang diam menatap sendu kepergiannya.
Tubuh Una luruh ke lantai begitu Nadhif keluar dari rumah. Perlakuan lembut dan tulus yang dia terima saat menjadi Mira, benar-benar tidak dia dapatkan saat menjadi dirinya sendiri. "Saat ini, aku sangat iri pada kamu, Mira. Iri sekali," ucap Una sendu menahan segala sesak yang memenuhi rongga dadanya.
…..
Nadhif mengerjapkan matanya saat matahari masuk dari jendela mobilnya. Ya, Nadhif semalam memilih untuk tidur di mobil. Dia sama sekali tidak pergi dari rumah, tapi melihat Una dia masih sangat emosi dan memilih untuk tidur di dalam mobil.
Nadhif menghela nafas berat dan menghembuskan perlahan. "Kenapa aku se emosi itu?" gumam Nadhif bertanya-tanya akan tindakannya semalam. Jika memang dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan Una, maka dia tidak akan Semarang itu. Jika Una memang bukan siapa-siapa dan tidak penting untuknya, maka Nadhif tidak akan merasa dikhianati. Sungguh, entah perasaan apa itu, tapi Nadhif benci seperti ini.
Nadhif memegang bibirnya. Rasa lembut bibir Una yang dia lahap kasar semalam masih terasa di kulit tipis bibirnya.
__ADS_1
Bayangan Nadhif kembali saat kejadian itu. Wajah Una yang pasrah dengan pandangan sendu akan perlakuannya terlukis jelas di pikiran Nadhif. "Sialan! Gue nggak bisa kayak gini," gumam Nadhif.
Nadhif menatap ke pintu rumah. Pintu yang dari semalam tidak di kunci itu masih tertutup rapat sejak tadi dia membuka mata. Tanda-tanda Una akan keluar tidak dapat Nadhif lihat. Terbukti dengan lampu ruangan yang masih hidup dan gorden pintu yang masih menutupi kaca jendela.
Nadhif membuka pintu mobil dan keluar. Dengan tegas dia berjalan memasuki teras dan segera masuk ke rumah.
Langkah Nadhif terhenti ketika dia melihat wanita yang semalam dia jadikan pelampiasan emosinya tertidur di ujung tangga dengan kepala bersandar ke tiang besi itu.
Nadhif dapat melihat ujung bibir bawah Una yang sedikit terdapat noda merah. Nadhif tahu, itu adalah darah yang sudah mengering akibat perbuatannya semalam.
Tanpa menghiraukan Una. Nadhif berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.
.....
Satu jam membersihkan diri, Nadhif kembali keluar dari kamar.
Una yang sudah terbangun dari tidurnya berusaha mengumpulkan nyawa dan segera berdiri. Una berdiri dan melihat punggung Nadhif yang sudah hendak keluar rumah.
"Tuan," panggil suara lembut ketika Nadhif hendak menuju pintu rumah.
Nadhif menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Nadhif tanpa berbalik.
Una berdiri di belakang Nadhif dengan gugup. "Maaf, Tuan. Una bangun kesiangan dan tidak membuatkan sarapan," ucap Una menyesal. Una seolah-olah melupakan apa yang terjadi semalam. Dia berharap Nadhif juga melakukan hal yang sama. Melupakan pertengkaran mereka kemarin dan bersikap biasa saja.
Tapi, sepertinya harapan Una hanyalah harapan. "Aku tidak mau makan makanan kotor," ucap Nadhif yang langsung dipahami maksudnya oleh Una. Tapi Una berusaha untuk biasa. Bahkan, bibir mungilnya yang berusaha menerbitkan senyum meskipun menahan ngilu.
Una berjalan lebih dekat dengan Nadhif. Dia memberanikan diri untuk berdiri tepat di depan Nadhif.
Una mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Salam dulu, Tuan. Sebelum pergi kerja, Una harus salam dengan suami dulu," ucap Una.
"Tanganku sudah bersih, tidak perlu bersentuhan dengan tangan kotor mu," jawab Nadhif dingin.
...****************...
__ADS_1