
HAPPY READING
Apa semua dugaan ku ini benar? batin Mami Flora bertanya-tanya.
Dengan teliti, Mami Flora melihat rantai kalungnya. Hanya orang yang mengenal dekat pemiliknya lah yang tahu mengenai keaslian kalung ini.
DEG
Jantung Mami Flora berpacu cepat melihat bentuk rantainya. Jika dilihat sekilas, memang ini adalah rantai kalung biasa.
Tapi jika lebih di teliti, beberapa bulatan rantai membentuk tulisan penanda kalung tersebut.
Aku pastikan kau adalah Ayahnya Hanum, Nadhif. Batin Mami Flora menatap Nadhif.
Setelah puas memeriksa kalung tersebut, Mami Flora mengembalikannya pada Nadhif. "Aku tidak mengetahui kalung ini, Nadhif," ucap Mami Flora bohong. Dia takut, jika memberitahu kebenaranya, maka Nadhif akan menolak kehadiran Hanum dan Una. Mengingat bagaimana perlakuan Nadhif kepada mereka.
Kau tahu semuanya. Batin Nadhif berucap.
Nadhif hanya menganggukkan kepala mengiyakan segala perkataan Mami Flora.
"Jika kau sudah siap mengatakan kebenaran, maka temui aku, Mami," ucap Nadhif berdiri dan berbalik untuk meninggalkan ruangan Mami Flora.
Mami Flora terdiam mendengar perkataan Nadhif. "Dia bukan orang bodoh yang bisa aku bohongi," gumam Mami Flora setelah kepergian Nadhif.
"Kau menikah dengan Ayah dari anakmu sendiri, Una. Apa aku harus mengatakan semua ini padamu atau tidak? Aku takut jika Nadhif tidak menerima keberadaan kamu dan juga Hanum, Nak," gumam Mami Flora lirih memikirkan bagaimana perlakuan Nadhif kepada Una.
.....
Nadhif keluar dari club' dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya, dia mendapatkan kepastian bahwa Mami Flora mengetahui semuanya. Cepat atau lambat, dengan ataupun tidak dengan paksaan, Mami Flora sendiri yang akan bicara dengannya.
Saat akan masuk ke dalam mobilnya, mata Nadhif menangkap sosok perempuan yang sangat dia kenal. Nadhif mengurungkan niatnya untuk pulang dan berjalan mendekati perempuan tersebut.
"Siang begini kau sudah bekerja?" tanya Nadhif dingin mencekal pergelangan tangan Una yang akan memasuki club'.
Una membalikkan badannya dan menatap Nadhif. Dia tidak menyangka akan bertemu Nadhif si club' saat jam begini. Dia sengaja pergi untuk menemui Mami Flora memberitahu bahwa sosok Mira malam ini tidak akan muncul karena ingin menemani Hanum di rumah sakit.
Namun langkah Una salah, keputusannya untuk datang siang ini membuatnya bertemu dengan Nadhif. Una mencoba tersenyum membalas perkataan Nadhif. "Aku ada urusan, Tuan," ucap Una lembut.
"Laku cepat juga tubuhmu itu, ya," ucap Nadhif remeh memandang Una dari atas hingga bawah.
__ADS_1
Meskipun sakit, Una tetap tersenyum. "Ini semua pemberian Sang Pencipta, Tuan," jawab Nadhif.
Nadhif tersenyum remeh. "Jangan bawa-bawa Tuhan di tempat seperti ini. Mulutmu tidak pantas!" ucap Nadhif sarkas.
"Tuan," panggil Una lembut tanpa menghiraukan perkataan Nadhif.
"Malam ini, pergilah ke rumah sakit, Tuan," lanjut Una. Nadhif hanya dia menunggu arah pembicaraan Una.
"Hanum tidak aku ajak untuk bekerja menjadi wanita murahan sepertiku. Hanum sedang di rawat di rumah sakit. Bisakah Tuan datang sebentar untuk menemuinya?" pinta Una menatap sendu Nadhif.
"Ada wanita yang lebih penting dari anakmu yang harus aku temui," jawab Nadhif mengingat Mira.
"Bolehkah aku berharap wanita itu tidak datang malam ini, Tuan?" ucap Una.
"Dan harapanmu tidak ada apa-apanya dari wanitaku!" jawab Nadhif meninggalkan Una yang terus menatap sendu punggung tegapnya.
Tanpa mereka ketahui, Mami Flora melihat semuanya dari pintu club'. "Aku semakin takut mengungkap semuanya," gumam Mami Flora menatap Una dengan pandangan iba dan khawatir.
…..
Setelah melihat Nadhif pergi meninggalkan kawasan club' bersama mobil mewahnya, Una berbalik badan dan segera memasuki club' untuk menemui Mami Flora.
"Aku ingin bertemu Mami Flora," ucap Una pada penjaga.
Mendengar pertanyaan penjaga, Una mengambil dompet dari dalam tasnya. Una menghela nafas pelan ketika kartu yang dia cari tidak dia temukan. Kartu itu adalah kartu gold yang diberikan oleh Mami Flora agar dia lebih mudah untuk keluar masuk club'.
"Tolong katakan pada Mami Flora bahwa Una ingin bertemu," ucap Una pada penjaga tersebut.
Penjaga tersebut mengawasi Una dari atas sampai bawah. Sekarang dia ingat, perempuan ini dulu juga pernah datang bertemu dengan Mami Flora. Tentu penjaga ini tidak mengenal Una sebagai Mira, karena Mira dan Una adalah satu orang yang sama namun dengan kepribadian yang berbeda.
"Apa kau perempuan berhijab yang dulu juga pernah datang kesini?" tanya Penjaga tersebut.
Una mengangguk menjawab pertanyaan penjaga tersebut.
"Kalau begitu masuklah," ucap Penjaga membiarkan Una masuk.
Una berjalan memasuki club' dan langsung melangkah menuju ruangan Mami Flora.
"Assalamu'alaikum, Mami," ucap Una membuka pintu.
__ADS_1
Mami Flora yang sedang duduk di kursinya tersenyum menatap Una. "Waalaikumsalam, Una," jawab Mami Flora.
"Duduklah," lanjut Mami Flora mempersilahkan Una untuk duduk.
Dengan patuh Una mengangguk dan mendudukkan tubuhnya di kursi seberang Mami Flora.
"Ada apa, Una?" tanya Mami Flora lembut.
Una tersenyum. Melihat wanita paruh baya di depannya ini membuat Una bersyukur. Meskipun pekerjaan Mami Flora bukanlah sesuatu yang baik, namun hatinya membuat Una mengakui bahwa Mami Flora memiliki berlian tersembunyi dalam dirinya.
"Una mau izin nanti malam tidak bisa kesini, Mami," ucap Una.
"Kamu bukan pekerja disini, dan tidak perlu melakukan izin. Itu hak kamu untuk datang kesini atau tidak, Nak," ucap Mami Flora tegas mengingatkan Una.
"Mami Tidak suka dengan kata-kata kamu, Nak," lanjut Mami Flora menegaskan.
"Maaf, Mami. Bukan maksud Una membuat Mami marah. Maksud Una, jika nanti pelanggan setia Una alias suami Una tersayang datang kemari, Mami bilang kalau Mira tidak bisa menemaninya malam ini," ucap Una senang menjelaskan maksud akan ucapannya.
"Bukankah Nadhif sudah mempunyai nomor ponsel kamu, Nak? Dan kamu juga sudah punya nomornya Nadhif," tanya Mami Flora heran. Padahal dengan begitu, Una bisa menghubungi Nadhif sendiri tanpa harus ada bantuannya.
"Akan lebih baik jika Mami yang mengatakan. Ponsel Una akan nonaktif, Mami. Malam ini, Una mau menemani Hanum di rumah sakit," ucap Una.
"Apa tidak sebaiknya mengatakan bahwa Mira itu adalah kamu, Una? Nadhif tidak akan marah," ucap Mami Flora sendu menatap Una.
Una tersenyum lembut dan menggeleng. "Itu satu hal yang tidak akan bisa Una lakukan, Mami. Tidak apa jika Nadhif mengenal dan mencintai Mira. Una hanya ingin membantu suami Una untuk tidak melakukan dosa lagi, Mami. Pelan-pelan, Una akan membuat Nadhif jauh dari tempat ini, Mami. Em ... Mami," panggil Una ragu diakhir kalimatnya.
"Katakan saja, Nak," ucap Mami Flora.
"Mami tidak apa jika kehilangan pelanggan seperti Tuan Nadhif, kan?" tanya Una hati-hati.
Mami Flora tersenyum dan mengangguk. "Jika itu bisa membuat bahagia kamu, maka lakukanlah, Nak," jawab Mami Flora.
"Benar Mami?" tanya Una.
Lagi dan lagi Mami Flora menjawab dengan anggukan kepala dan senyum tulus di wajah yang mulai mengeriput itu.
"Terimakasih, banyak Mami. Kalau begitu Una kembali ke rumah sakit, ya," ucap Una yang dibalas anggukkan oleh Mami Flora.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Mami Flora hanya diam dan menjawab dalam hati. Matanya menyorot sendu punggung Una yang sudah hilang dari pandangannya. "Takdir macam apa yang kamu miliki, Una. Hidup tanpa orang tua, hilang kehormatan, hingga sekarang kamu harus menghancurkan tembok besar untuk meraih cinta suamimu. Semoga semua ini jalan kamu menuju sebuah akhir yang bahagia, Nak," gumam Mami Flora lirih.
...****************...